Stabilitas.id – Di sebuah industri yang bising oleh deru mesin dan aroma beton, Nyiayu Chairunnikma mafhum betul bahwa profesionalisme saja tidaklah cukup. Sebagai perempuan yang telah malang-melintang selama dua dekade di sektor infrastruktur dan konstruksi, ia menyadari ada satu elemen senyap namun krusial yang sering luput dari pembicaraan formal di meja rapat: rasa aman.
Bagi Nyiayu, rasa aman bukan sekadar deretan pasal dalam buku saku karyawan atau standar operasional prosedur yang kaku. Ia adalah sesuatu yang subtil, yang dirasakan dalam setiap sapaan di lorong kantor, dalam setiap pertukaran ide di ruang diskusi, dan dalam setiap batas personal yang dihormati tanpa perlu diminta.
“Tempat kerja adalah rumah kedua,” ujar Head of Marketing Semen Merah Putih (PT Cemindo Gemilang Tbk.) tersebut. “Penting bagi lingkungan kerja untuk menghadirkan kenyamanan seperti di rumah. Dengan begitu, setiap individu bisa bekerja lebih baik dan berkembang secara maksimal.”
BERITA TERKAIT
Bukan Sekadar Jenjang Karier
Pesan Nyiayu ini seolah memotret pergeseran paradigma perempuan di dunia kerja hari ini. Di Jakarta, pada pertengahan Mei 2026 yang bergerak cepat, perempuan tak lagi hanya mengejar angka di atas kertas atau posisi mentereng di struktur organisasi. Ada kebutuhan mendasar untuk menemukan ruang di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memikul beban prasangka atau penilaian yang tidak adil.
Terutama di industri yang selama ini dianggap sebagai “dunia laki-laki,” keberanian perempuan untuk bersuara seringkali sangat bergantung pada seberapa aman lingkungan tersebut memayungi mereka. Ketika ketakutan akan penghakiman itu luruh, maka yang tersisa adalah kreativitas yang meluap dan kontribusi yang percaya diri.
Budaya yang Hidup
Nyiayu, yang sebelumnya pernah memimpin di berbagai perusahaan besar seperti AkzoNobel dan Saint Gobain, menekankan bahwa menciptakan ruang aman adalah tanggung jawab kolektif. Ia bukan hanya tugas departemen SDM, melainkan budaya yang harus hidup dalam keseharian.
“Apalagi bekerja di industri yang masih sering dianggap sebagai ‘dunia laki-laki’ membuat saya melihat langsung bagaimana ruang yang benar-benar aman dan suportif itu penting,” tambahnya.
Rasa aman ini menjadi fondasi bagi perempuan untuk berani mengambil peran lebih besar, bahkan memimpin. Ia adalah syarat mutlak bagi lahirnya kolaborasi yang sehat. Tanpa rasa aman, sebuah kantor hanyalah gedung beton yang dingin. Namun dengan rasa aman, ia bertransformasi menjadi ekosistem yang menumbuhkan martabat dan integritas.
Pada akhirnya, di tengah riuh rendah ambisi dunia kerja, rasa aman adalah pelabuhan terakhir yang dicari. Tempat di mana perempuan tidak perlu lagi menoleh ke belakang karena khawatir, melainkan terus melangkah ke depan untuk mengambil peran dan membawa perubahan.***

















