Leadership seluruh bawahan dan karyawan agar mereka mau memberikan komitmen bekerja keras bagi kemajuan perusahaan dan semua pimpinan harus secara konsiten menunjukkan bahwa dirinya benar-benar di sebuah perusahaan memiliki kewajiban memberi inspirasi bagi stake holder-nya.
Pucuk menerapkan walk the talk, atau harus mencontohkan apa yang dikatakannya, karena akan selalu dijadikan acuan utama dalam bekerja. Prinsip inilah yang diterapkan Suwandi Wiratno selama empat tahun memimpin perusahaan PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL). Presiden Direktur perusahaan pembiayaan alat berat dan otomotif ini mulai menerapkan prinsip tersebut sejak pertama dipercaya menakhodai CSUL pada Maret 2012. Meski mengaku membutuhkan sedikit waktu untuk penyesuaian dalam mengambil alih kemudi perusahaan ini, Suwandi harus memastikan bahwa timnya tahu persis apa yang dia maksud dan bagaimana implementasinya.
“Dengan turun ke lapangan, saya memberi contoh kepada tim untuk mengerjakan segala sesuatu seperti yang saya maksud. Sebab, arahan tanpa disertai contoh langsung kadangkala bisa tidak sesuai dengan harapan. Cara ini sekaligus dapat menjalankan fungsi kontrol kepada bawahan,”papar pria lulusan manajemen Universitas San Fransisco dan peraih MBA bidang keuangan, Golden Gate University, Amerika Serikat.
Dalam memimpin, pria yang juga menjadi Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) selama dua periode ini menganut slogan bahwa trust is good but control is better. Menurutnya, meski kemajuan perusahaan dapat tercapai dengan adanya kepercayaan terhadap tim namun seorang pemimpin harus bisa memegang kendali tim. Fungsi kontrol harus tetap dijalankan agar hal-hal yang berjalan di luar standar operasional prosedur (SOP) dapat segera dikembalikan lagi pada relnya.
Dalam upayanya memastikan tim bekerja dengan baik, pemimpin, kata dia juga harus menciptakan harmonisasi untuk mendukung kinerja perusahaan. Keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan tidak hanya bertumpu pada seorang direktur utama, tetapi juga menjadi tanggung jawab setiap karyawan di setiap lini.
Namun demikian, direktur utama memiliki kewajiban memberikan contoh dan memotivasi manajernya. Selanjutnya manajer memberikan contoh ke supervisor dan begitu seterusnya hingga ke level paling bawah.
“Harus ada sinergi dan harmonisasi yang terpola dengan sangat rapi dari atas hingga paling bawah. Dengan memberi contoh, seorang pemimpin telah melayani yang dipimpinnya untuk bersama-sama mencapai tujuan tim sesuai harapan.”
Cita-Cita Polisi
Awalnya, menjadi bankir dan atau berkarier di sektor keuangan tidak pernah terlintas di benak Suwandi. Bahkan citacitanya jauh dengan jalur karier yang ia jalani sampai saat ini. “Jujur, saya dulu tidak bercita-cita bekerja di sektor keuangan, menjadi bankir atau sekarang bekerja perusahaan multifnance.
Waktu kecil malah saya pingin jadi polisi. Tapi saya sadar, sebagai warga keturunan saat itu tidak bisa mewujudkan impian kecil. Orang tua saya akhirnya mengirim saya ke Amerika untuk bersekolah di sektor keuangan,” kisah pria kelahiran 19 November 1963 ini.
Dia memulai kariernya di industri keuangan sebagai Manajer Keuangan PT Bullindo Nusantara (1988-1990) setelah setahun bekerja di sektor keuangan di negeri Paman Sam. Setelah itu, dia bekerja di PT Orix Indonesia Finance sebagai analis kredit dan terakhir menjabat sebagai kepada Divisi Corporate Finance yang bertanggung jawab untuk semua strategi pemasaran dan harta serta mengatur pinjaman sindikasi dan club transaksi dengan pelanggan lebih dari 200 perusahaan teratas di Indonesia.
Pada tahun 1993, Suwandi bergabung dengan PT Clipan Finance Indonesia sebagai National Marketing Manager di Divisi Otomotif. Tahun 1994, dirinya beralih karier ke industri perbankan dengan bergabung di PT Bank Tamara sebagai wakil pimpinan cabang kantor pusat dan mengakhiri karier di bank tersebut sebagai pimpinan cabang yang membawahi 6 (enam) cabang.
Tahun 1999, bapak satu anak ini pindah ke perusahaan konsultan dan auditor keuangan global PT Pricewaterhouse Coopers FAS di bagian “business restructuring, merger acquisition dan transaction services”. Suwandi menyelesaikan kariernya di PwC Indonesia sebagai Direktur pada tahun 2005.
Pada 2005, Suwandi dipercaya menjadi Presiden Direktur PT BII Finance Center (BII Finance) dan pada saat bersamaan juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. (WOM Finance) sampai tahun 2007. Di tahun itu pula, dia didapuk menjadi Presiden Direktur WOM Finance sampai dengan tahun 2011 dan pada saat yang sama juga diangkat menjadi Komisaris BII Finance. Dia juga sempat bergabung dengan PT Sucorinvest Asset Management sebagai advisor.
Kini, sebagai Presdir PT CSUL targetnya adalah membawa perusahaan milik salah satu orang terkaya Indonesia, Achmad Hamami ini tumbuh sustainable. “Impian saya jangka panjang adalah ingin mengantarkan Chandra Sakti masuk ke bursa lewat penawaran saham publik (IPO),” kata pria yang hobi bermain golf ini.





.jpg)









