Deputi Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan arah suku bunga September sangat bergantung pada data inflasi Agustus. Pasar pangkas probabilitas kenaikan suku bunga menjadi 50%.
Stabilitas.id — Arah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menjelang pertemuan September mendatang semakin memicu ketidakpastian pasar. Deputi Gubernur The Fed, Christopher Waller, menegaskan bahwa keputusan penyesuaian suku bunga acuan akan sangat bergantung pada rilis data inflasi Agustus yang akan diterbitkan pekan depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Waller dalam acara yang diselenggarakan oleh Reuters pada Kamis (3/9/2026). Dalam pidato tertulisnya, nada bicara Waller sempat mengindikasikan dukungan terhadap pengetatan moneter lanjutan, sebelum akhirnya melunak dalam sesi tanya jawab dengan menyatakan ekspektasinya bahwa data inflasi mendatang akan berada pada level yang wajar.
Waller menguraikan bahwa jika tren disinflasi menuju target 2% terus berlanjut, ia bersedia mempertahankan suku bunga di tingkat saat ini. Sebaliknya, kenaikan inflasi yang tidak terlalu besar sekalipun dianggap cukup untuk memicu penyesuaian sikap kebijakan ke arah yang lebih ketat demi memastikan proses disinflasi tidak berbalik arah.
BERITA TERKAIT
Meski demikian, Waller memberikan ruang optimisme dengan menilai bahwa kenaikan harga energi belakangan ini belum berdampak luas ke sektor lainnya, sementara indikator harga konsumen dan produsen menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Ia pun mengimbau agar pembuat kebijakan tidak terburu-buru menaikkan suku bunga di tengah tren inflasi yang melandai.
Komentar Waller dalam sesi tanya jawab meredam ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan Komite Pasar Bebas Federal (FOMC) mendatang. Berdasarkan harga kontrak berjangka federal funds, probabilitas kenaikan suku bunga oleh pasar kini menyusut ke kisaran 50%.
Lembaga riset Evercore ISI menilai pernyataan Waller sejalan dengan pandangan Gubernur The Fed New York John Williams yang melihat bukti peredaan inflasi seiring memudarnya dampak tarif. Pandangan ini sekaligus menantang ekspektasi hawkish pasar yang sempat menguat pascapidato Gubernur The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pekan lalu.
Sinyal yang beragam dari internal The Fed kian mempertegas pembelahan pandangan di antara para pejabat bank sentral. Gubernur The Fed Michael Barr sebelumnya memperingatkan risiko mengakar inflasi yang telah berada di atas target selama lima tahun dan membuka peluang kenaikan suku bunga bulan ini. Sikap ketat ini melanjutkan dinamika rapat FOMC Juli lalu, di mana tiga anggota komite berhak suara mengajukan dissenting vote untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Di luar proyeksi suku bunga, Waller memanfaatkan pidatonya untuk mempertahankan strategi komunikasi publik bank sentral melalui penyampaian prospek ekonomi dan panduan ke depan (forward guidance). Pendekatan ini berseberangan dengan rencana perombakan komunikasi yang diusung Kevin Warsh, yang cenderung ingin memangkas intensitas pidato serta menghapus penggunaan forward guidance.
Para pembuat kebijakan The Fed dijadwalkan berkumpul pada pertemuan FOMC pada 15-16 September mendatang di Washington. Sebelum memutuskan arah suku bunga setelah mempertahankannya dalam lima rapat berturut-turut tahun ini, pejabat The Fed akan terlebih dahulu mencermati rilis data ketenagakerjaan serta data Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 11 September. ***
















