Dirut LPPI Heru Kristiyana menegaskan perbankan memasuki era Human-AI Workforce di tengah ekspansi kredit Rp9.135 triliun pada Virtual Seminar LPPI #109.
Stabilitas.id — Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Heru Kristiyana, menegaskan bahwa transformasi digital perbankan nasional kini telah memasuki babak baru yang fundamental, yakni era Human–AI Workforce, di mana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar instrumen pendukung otomatisasi, melainkan rekan kerja digital (digital co-worker).
Penegasan tersebut disampaikannya saat membuka Virtual Seminar LPPI #109 bertajuk “AI dan Masa Depan Perbankan Indonesia: Peluang Baru atau Ancaman Baru?”, Jumat (25/9).
Di tengah ekspansi kredit perbankan nasional yang menembus Rp9.135 triliun dan lonjakan volume transaksi digital hingga 5,50 miliar transaksi per Juli 2026, Heru mengingatkan bahwa tantangan utama perbankan bukan kelangkaan data, melainkan kecakapan mengonversi tumpukan data menjadi keputusan yang akuntabel dan bernilai tambah.
BERITA TERKAIT
Heru menguraikan bahwa pesatnya adopsi teknologi cerdas di sektor perbankan berjalan seiring dengan akselerasi ekonomi makro. Pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II 2026 yang menyentuh 5,29 persen secara tahunan (5,45 persen pada Semester I 2026) secara simultan menuntut sistem keuangan yang kian gesit memproses informasi bervolume masif.
Di sektor intermediasi, kredit perbankan tercatat melesat 13,58 persen secara tahunan (year-on-year) mencapai sekitar Rp9.135 triliun per Juli 2026, diimbangi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11,21 persen menjadi sekitar Rp10.336 triliun.
Secara bersamaan, data Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada Juli 2026 mencapai 5,50 miliar transaksi (tumbuh 28,69 persen), dengan transaksi QRIS meroket 82,42 persen dan volume transaksi perbankan bergerak (mobile) naik 24,25 persen.
Skala perputaran transaksi raksasa tersebut, jelas Heru, menjadi bukti bahwa bank mengelola arus informasi dan eksposur risiko yang luar biasa besar.
“Indonesia bukan kekurangan data. Tantangannya adalah bagaimana data tersebut dapat diubah menjadi insight, keputusan, efisiensi, dan nilai tambah yang nyata—tanpa mengorbankan keamanan dan kepercayaan,” ujar Heru dalam sambutannya.
Kendati AI menawarkan peluang strategis untuk mempercepat analisis kredit, mempersonalisasi layanan, memperkuat deteksi kecurangan (fraud), hingga mendukung manajemen risiko, mantan petinggi pengawas perbankan ini memperingatkan bahwa teknologi cerdas secara bersamaan memperkenalkan kelas risiko baru (new risk classes).
Oleh sebab itu, Heru menaruh perhatian sentral pada kesiapan sumber daya manusia. Mengutip laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), transformasi pasar kerja global diproyeksikan memengaruhi sekitar 22 persen pekerjaan saat ini hingga 2030—dengan 170 juta pekerjaan baru tercipta dan 92 juta pekerjaan terdisrupsi secara global. Tantangan tersebut menuntut industri perbankan segera mengeksekusi pelatihan ulang (reskilling), peningkatan kompetensi (upskilling), perancangan ulang proses kerja, serta penataan budaya organisasi yang adaptif.
Heru menegaskan komitmen etis bahwa adopsi AI tidak boleh menggeser akuntabilitas manusia sebagai pengambil keputusan akhir. “Kita tidak sedang membangun organisasi yang seluruh keputusannya diserahkan kepada mesin. Sebaliknya, kita ingin membangun organisasi yang mampu menggabungkan kecepatan dan kemampuan analitik AI dengan pengalaman, pertimbangan, empati, serta akuntabilitas manusia,” tegas Heru.
Forum strategis LPPI ini mempertemukan perspektif regulator dan praktisi industri perbankan terkemuka, yang dihadiri oleh Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas OJK Deden Firman Hendarsyah; Head of Enterprise Data Management and Analytics BRI Ajutorius Pinem; Chief Economist BCA David E. Sumual; Human Capital Strategy Division Head BTN Aldo Bimantoro; serta SEVP Digital Delivery BNI Heri Atmoko.
Menutup sambutannya, Heru berpesan bahwa masa depan perbankan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki semata.
“Masa depan perbankan tidak akan ditentukan hanya oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki sebuah bank. Masa depan perbankan akan sangat ditentukan oleh kemampuan bank untuk mengintegrasikan teknologi, manusia, data, tata kelola, dan kepercayaan publik dalam satu ekosistem yang utuh,” pungkasnya. ***

















