• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Figur

Most Powerfull Woman

by Sandy Romualdus
1 Januari 2015 - 00:00
18
VIEWS
Most Powerfull Woman
0
SHARES
18
VIEWS

Tak kalah dengan para pria, wanita juga mampu “menari” di panggung bisnis perbankan dan keuangan dunia. Terbukti, berdasarkan hasil survei majalah Forbes bertajuk ‘World’s 72 Most Powerfull People’, Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) Janet Yellen didaulat sebagai wanita paling berpengaruh di panggung keuangan internasional.

Mengutip laman Forbes, Yellen berhasil mencetak sejarah baru dalam keuangan dunia dengan menjadi wanita pertama yang menjabat sebagai pimpinan tertinggi The Fed. Terlebih lagi, mengingat The Fed merupakan Bank Sentral paling berpengaruh di seluruh jagad dengan aset hingga 4,5 triliun dollar AS.

  • Baca juga: Srikandi di Benteng Finansial: Saat Kepemimpinan Intuisi dan Presisi Menjaga Marwah Otoritas

Selasa, 7 Januari 2014 waktu setempat, menjadi momentum awal Yellen memimpin bank sentral yang telah berusia 100 tahun. Hari itu, Senat AS mengukuhkan Yellen sebagai Gubernur The Fed, menggantikan Ben Bernanke yang masa jabatannya selama delapan tahun berakhir pada akhir Januari 2014.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Janet Louise Yellen, sejatinya bukan orang baru di institusi paling berpengaruh di dunia tersebut. Perempuan kelahiran Brooklyn, New York, 13 Agustus 1946 ini adalah ekonom yang sebelumnya menduduki jabatan Wakil Gubernur The Fed. Ia juga pernah menjadi Chief Executive Officer (CEO) Federal Reserve Bank San Fransisco, Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih di masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, dan Profesor Emeritus di University of California, Barkeley School of Business.

Keluarga besar Yellen keturunan Yahudi Brooklyn. Ia lulus dari Fort Hamilton High School di Bay Ridge of Brooklyn, lalu meraih gelar dari Pembroke College (Brown University) di bidang ekonomi pada tahun 1967 dengan predikat summa cum laude, lantas mendapat gelar Ph.D. di bidang ekonomi dari Universitas Yale pada tahun 1971. Yellen menikah dengan George Akerlof, pemenang hadiah Nobel ekonomi dan profesor emeritus di Universitas California, Barkeley. Putranya, Robert Akerlof, kini sudah menjadi asisten profesor di University of Warmick.

Karier Yellen melesat setelah menduduki posisi Ketua Dewan Penasihat Ekonomi mantan Presiden AS Bill Clinton, sehingga akhirnya diangkat menjadi anggota Dewan Direksi The Fed. Kecemerlangan Yellen tak hanya memikat Bill Clinton, tapi juga Presiden Barack Obama. Pada Juli 2009, Yellen sudah disebut-sebut sebagai bakal pengganti Ben Bernanke sebagai Ketua Federal Reserve, terlebih setelah ia kemudian ditempatkan sebagai Wakil Gubernur The Fed oleh Obama.

Pada tanggal 9 Oktober 2013, Barack Obama menominasikan Yellen sebagai calon wanita pertama yang akan memimpin Federal Reserve. Obama memuji Yellen sebagai ekonom yang visioner, yang bisa melihat aspek-aspek bermasalah dalam ekonomi AS sebelum jatuh dalam resesi lima tahun lalu. Presiden Obama juga menyebutnya sebagai pembangun konsensus yang bisa “mendengar pandangan yang saling bertolak-belakang” tentang bagaimana mengatur ekonomi AS.

Janet Yellen sendiri, dalam pidatonya di Federal Reserve pada Kamis, tengah pekan November lalu mengatakan, ekonomi Amerika “menguat secara signifikan” sejak krisis tahun 2008. Namun masih membutuhkan dukungan dari bank sentral. Ia menambahkan, ekonomi Amerika telah membuat kemajuan bagus sejak resesi mendalam yang merupakan resesi terburuk di Amerika dalam tujuh dekade. Ia mencatat ekonomi AS telah menciptakan 7,8 juta lapangan kerja baru sejak 2010 dan industri perumahan serta otomotif telah menguat lagi.

Tetapi ekonom berambut putih itu juga mengatakan, perjalanan masih jauh untuk AS meraih kembali pencapaian yang hilang dalam krisis dan resesi.

The Dove

Di bawah Bernanke, The Fed membuat berbagai program yang luar biasa dalam mengatasi krisis finansial pada 2008. Langkah ini disebut-sebut berhasil menyelamatkan sistem perbankan AS. The Fed meminjamkan uang pada berbagai bank setelah pasar kredit membeku, memotong tingkat suku bunga kunci jangka pendek hingga hampir mendekati nol dan membeli triliunan obligasi untuk menurunkan tingkat peminjaman jangka panjang.

  • Baca juga: Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

Yellen disebut-sebut sebagai salah satu arsitek dalam membantu Bernanke menurunkan suku bunga untuk mendukung perekonomian. Yellen juga ada di berbagai kebijakan The Fed, membuatnya diprediksi tidak akan melakukan perubahan yang signifikan, hanya melanjutkan kesuksesan Bernanke.

Peraih Adam Smith Award di National Association for Business Economics (NABE) ini juga kerap mengeluarkan prediksi yang jitu dalam pertumbuhan ekonomi AS. Wall Street Journal menuliskan, prediksi Yellen banyak yang benar jika dibandingkan prediksi pejabat lainnya di The Fed.

Salah satunya adalah pada tahun 2007, dia memperingatkan akan terjadi resesi ekonomi. Padahal kala itu, banyak ekonom yang memperkirakan krisis akan segera berakhir. “Kemungkinan krisis kredit yang berkembang dan ekonomi akan jatuh dalam resesi semakin jelas terlihat,” kata Yellen saat itu.

Dia juga vokal dalam mengatasi tingkat pengangguran, yang merupakan tujuan utama berdirinya The Fed, mengatasi jumlah pengangguran juga merupakan salah satu keahlian kunci dari Yellen.

Dia dijuluki pelaku bursa AS sebagai ‘dove’, karena lebih concern dengan masalah tenaga kerja ketimbang hanya fokus pada inflasi. Dia lebih tertarik mengatasi pengangguran ketimbang memikirkan bubble asset. Saat ini pengangguran di AS mencapai kisaran 7,3 persen dan Yellen diharapkan bisa menguranginya. “Ini bukan hanya statistik untuk saya. Ini buruk bagi kesehatan dan fisik pengangguran, pada pernikahan mereka, pada anak-anak mereka,” kata Yellen.

Perangainya juga banyak dipuji orang. Dibanding mantan Menkeu AS Larry Summers yang jenius tapi sulit bergaul, Yellen dianggap sebagai pemikir dan pendengar yang baik. Ekonom peraih Nobel dan mantan Wakil Presiden Senior Bank Dunia Joseph Stiglitz mengatakan, Yellen adalah wanita berkepala dingin dan memperhatikan konsensus.

Keunggulan Yellen lainnya adalah karena dia menikahi George Akerlof, yang sedikit banyak membantunya memberikan pengaruh soal perekonomian. Akerlof terkenal berkat artikelnya yang berjudul The Market for Lemons: Quality Uncertainty and the Market Mechanism. Tulisan itu mengetengahkan teori asimetri informasi dengan menggunakan contoh penjual mobil bekas.

Bersama dengan Akerlof, Yellen menghasilkan beberapa teori ekonomi yang hingga kini dianggap masih sangat relevan.

Pasangan ini juga sangat kaya. Nilai investasi Yellen tahun 2012 diperkirakan mencapai 4,8 juta dolar AS, menjadikannya anggota Dewan Gubernur The Fed paling kaya, berdasarkan laporan finansial yang dirilis tahun lalu.

  • Baca juga: Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

Gajinya sebagai Gubernur The Fed mencapai 179.900 dollar AS atau lebih dari Rp2 miliar per tahun. Belum lagi ditambah gaji Akerlof yang menjabat peneliti senior di IMF. Yellen dikabarkan memiliki saham di beberapa perusahaan, termasuk Conoco Phillips dan Pfizer.

Salah satu investasinya ada dalam bentuk koleksi perangko. Beberapa perangko yang diwariskan ibunya untuknya bernilai antara 15.000 dollar AS sampai 50.000 dollar AS.

 
 
 
 
 
Previous Post

Pertamina: Tanda Tanya Pada Komandan Baru

Next Post

5 Model Sepeda Motor Terkencang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Modal Asing Masuk US$ 8,5 Miliar di Q2 2026, BI Pastikan Cadangan Devisa Tetap Tebal

Srikandi di Benteng Finansial: Saat Kepemimpinan Intuisi dan Presisi Menjaga Marwah Otoritas

by Sandy Romualdus
10 Agustus 2026 - 20:17

Rupiah melonjak ke level Rp17.753 per dolar AS usai Surpres Gubernur BI diserahkan. Simak analisis lengkap rekam jejak Destry Damayanti...

Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

by Sandy Romualdus
3 Juni 2026 - 22:47

Stabilitas.id – Panggung Global Startup Awards (GSA) 2026 di Valletta, Malta, pada 7–8 Mei 2026 menjadi saksi runtuhnya dominasi barat...

Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

by Stella Gracia
12 Mei 2026 - 14:14

Stabilitas.id – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) resmi mengumumkan nakhoda baru untuk memimpin perusahaan pembiayaan ultra mikro tersebut. Kindaris ditunjuk...

Reni Wulandari, Direktur Operasi Perempuan Pertama SIG: Dobrak Bias Gender di Industri Semen

Reni Wulandari, Direktur Operasi Perempuan Pertama SIG: Dobrak Bias Gender di Industri Semen

by Stella Gracia
21 April 2026 - 18:54

Stabilitas.id – Industri semen yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki kini memiliki wajah baru dalam kepemimpinannya. Reni Wulandari, seorang...

Obituari Michael Bambang Hartono: Berpulangnya Sang Arsitek Diversifikasi Bisnis Djarum

Obituari Michael Bambang Hartono: Berpulangnya Sang Arsitek Diversifikasi Bisnis Djarum

by Stella Gracia
21 Maret 2026 - 16:49

Stabilitas.id – Dunia usaha Indonesia berduka. Michael Bambang Hartono, salah satu pilar utama di balik imperium bisnis Djarum Group dan...

Friderica Widyasari Dewi: Menjaga Marwah Otoritas dengan Intuisi dan Presisi

Friderica Widyasari Dewi: Menjaga Marwah Otoritas dengan Intuisi dan Presisi

by Sandy Romualdus
12 Maret 2026 - 00:05

Stabilitas.id - Sejarah sering kali ditulis melalui langkah-langkah sunyi yang konsisten sebelum akhirnya meledak dalam sebuah panggung besar. Di lantai...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Capai 8,36 Persen, Inflasi 2014 Lebih Rendah

Capai 8,36 Persen, Inflasi 2014 Lebih Rendah

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance