Akhir Maret lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memulai program Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif) yang diselenggarakan untuk 17 bank di Indonesia. Salah satu produk yang ditawarkan dalam Laku Pandai adalah kredit atau pembiayaan kepada nasabah mikro, di samping produk tabungan dengan karakteristik Basic Saving Account (BSA), dan produk keuangan lainnya; seperti asuransi mikro. Untuk kredit dan pembiayaan nasabah mikro, jangka waktu paling lama yang ditawarkan dalam program ini adalah setahun dan maksimum plafon kredit hanya Rp20 juta.
Apabila berjalan lancar, di satu sisi program Laku Pandai ini menjadi kabar baik bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang selama ini belum tersentuh layanan keuangan formal. Maklumlah, selama ini perkembangan usaha kecil terkendala oleh minimnya ketersediaan dana.
Memang, salah satu sasaran potensial program Laku Pandai ini adalah UMKM yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga. Berdasarkan data yang pernah dikeluarkan oleh BPS, usaha keluarga berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yaitu tidak kurang dari 80 persen.
Sebagaimana dilansir oleh OJK beberapa syarat agen yang berasal dari perusahaan berbadan hukum adalah memiliki reputasi, kredibilitas dan kinerja usaha yang baik. Reputasi dapat dilihat antara lain dari tingkat pengenalan yang baik oleh masyarakat terhadap badan hukum serta banyaknya kunjungan dan transaksi yang dilakukan masyarakat sekitar di tempat usaha calon agen badan hukum.
Kredibilitas dapat dilihat antara lain dari rekam jejak yang baik dari badan hukum, seperti tidak pernah ingkar dalam memenuhi kewajiban, tidak pernah dipailitkan, pengurus badan hukum tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan/atau badan hukum tidak melanggar ketentuan untuk melakukan kegiatan keagenan.
Yang tak kalah penting, agen itu memiliki usaha yang menetap di satu lokasi dan masih berlangsung, paling singkat dua tahun. Keberlangsungan kegiatan usaha dengan lokasi yang menetap paling singkat dua tahun dibuktikan dengan dokumen antara lain anggaran dasar, surat izin usaha, surat keterangan domisili usaha/izin domisili dan/atau tanda daftar perusahaan.
Persepsi Bisnis Keluarga
Harus diakui selama ini ada persepsi-persepsi yang kurang baik mengenai bisnis atau perusahaan keluarga ini. Diantaranya adalah bersifat tertutup dan tidak transparan dari sisi keuangan, kurang bisa membedakan antara urusan bisnis dan keluarga, dan belum adanya sistem dan bahkan badan hukum yang jelas. Namun persepsi-persepsi ini kurang tepat. Sebab nyatanya sangat banyak perusahaan keluarga yang tadinya kecil kemudian mampu tumbuh besar, bahkan produk-produknya dikenal hingga ke pelosok-pelosok.
Mengapa tidak sedikit bisnis-bisnis keluarga ini yang berjaya? Tak lain karena kekuatan-kekuatan yang melekat dalam perusahaan keluarga. Kekuatan perusahaan adalah kecepatan dalam pengambilan keputusan, termasuk untuk hal-hal yang bersifat strategis. Hal ini karena pengelola perusahaan adalah sekaligus juga pemegang saham, yaitu keluarga. Kecepatan dalam mengambil keputusan ini juga berkat birokrasi perusahaan keluarga yang sederhana.
Komitmen dan motivasi anggota keluarga juga tinggi karena mereka sadar jika perusahaan tidak maju, keluarga tidak dapat hidup. Bagi para generasi muda, sejak awal mereka kerap sudah dilibatkan dalam aktivitas bisnis, meski hanya sekedar mengurusi hal-hal yang ringan. Namun karena dilakukan terusmenerus, mereka menjadi paham tentang seluk beluk bisnis yang ditekuni orang tuanya. Proses ini juga menyadarkan mereka bahwa berkat bisnis orang tuanyalah mereka dapat makan dan sekolah. Kondisi ini tentu lebih memotivasi mereka untuk berbuat yang terbaik bagi perusahaan.
Motivasi dan komitmen berdampak positif terhadap semangat dan keterampilan kewirausahaan. Maka tidak heran bila dari banyak perusahaan keluarga lahir produk-produk dan praktik bisnis yang inovatif. Inovasi inilah yang membuat banyak perusahaan keluarga bertahan selama beberapa generasi. Semangat kewirausahaan yang tak pernah padam menjadi bekal banyak bisnis keluarga menghadapi krisis eksternal, baik krisis ekonomi maupun
politik. Orientasi jangka panjang adalah keunggulan lain perusahaan keluarga.
Pantang bagi perusahaan keluarga untuk mengorbankan kualitas produk dan layanan hanya demi keuntungan finansial jangka pendek. Bila dilanggar, hal ini bukan saja mencoreng citra perusahaan namun juga citra keluarga. Maka tidak heran bila perusahaan keluarga biasanya memiliki orientasi jangka panjang dalam mengembangkan bisnisnya.
Apa yang pernah dikemukakan oleh pendiri Charoen Pokphand, raksasa agrobisnis asal Thailand, sekitar sembilan dekade yang lalu dapat gambaran sikap perusahaan keluarga dalam berbisnis, Ia berkata kepada anakanaknya, yang kelak meneruskan usaha yang dirintisnya, “Pelanggan kita adalah para peternak. Jika mereka tidak dapat bertahan karena binatang yang mereka miliki tidak sehat, kita pun takkan bisa bertahan”.
Mengingat kelebihan-kelebihan di atas, dalam hal penyaluran kredit program Laku Pandai hendaknya jangan menganggap remeh bisnis keluarga. Kejayaan bisnis keluarga akan berdampak sangat positif bagi perekonomian nasional.
















