• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Danantara

Kepingan Terakhir Konsolidasi

by Sandy Romualdus
9 Juli 2015 - 00:00
12
VIEWS
Kepingan Terakhir Konsolidasi
0
SHARES
12
VIEWS

Konsolidasi di sektor telekomunikasi yang prosesnya sudah muncul sejak 10 tahun lalu sepertinya mulai kembali bergulir, setelah sempat berhenti pasca akuisisi operator XL Axiata terhadap Axis Telekom Indonesia tahun lalu. Banyaknya jumlah operator berhadapan dengan frekuensi yang makin tipis membuat pemerintah mendesak agar konsolidasi dilanjutkan. Sementara di sisi lain, operator-operator besar pemimpin pasar, menginginkan frekuensi yang lebih besar lagi untuk memperkuat posisinya di pasar.
Akan tetapi setelah XL Axiata mengakusisi Axis Maret tahun lalu, sepertinya tinggal Telkomsel dan Indosat –operator besar yang akan mencaplok operator lain. Dan perusahaan yang diincarpun mengerucut kepada operator Tri, milik Hutchison 3 Indonesia, yang memiliki frekuensi mumpuni. Selain itu, dengan telah diakuisisinya Axis oleh XL dan Bakrie Telecom yang bergabung dengan Smartfren tahun lalu, itu artinya tinggal Tri saja yang masih available.
Soal kebutuhan frekuensi yang besar tidak dibantah oleh Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel. Dengan jumlah pelanggan yang sebanyak 141 juta, dan keinginan untuk tetap menjadi pemimpin pasar membuat Telkomsel mengincara frekuensi tambahan.
Memang, kebutuhan frekuensi tersebut bisa saja terpenuhi jika Telkomsel dapat memenangkan tender sisa kanal di frekuensi 2100 sebesar 10Mhz, yang akan dilelang pemerintah tahun depan. Di frekuensi ini Telkomsel memiliki kapasitas alokasi frekuensi sebesar 15Mhz, sementara XL Axiata juga memiliki kapasitas yang sama yaitu 15Mhz sedangkan Indosat 10Mhz.
Memang, rumor konsolidasi itu belakangan kian kencang karena Tri satu-satunya operator yang mungkin bisa diakuisisi Telkomsel demi memenuhi kebutuhan frekuensi operator itu. Apalagi Ririek sendiri mengakui, dengan spektrum yang dimiliki memang masih cukup untuk melayani 141 juta pelanggan selulernya hingga saat ini. Namun ia tak memungkiri, di masa depan akan perlu tambahan frekuensi lagi seiring penambahan jumlah pelanggan.
Telkomsel memiliki spektrum 5 MHz di spektrum 900 MHz, 22,5 MHz di spektrum 1.800 MHz, dan 15 MHz di spektrum 2,1 GHz. Spektrum itu mungkin masih cukup, namun penuh sesak jika pelanggan data melonjak. Apalagi hingga akhir tahun 2015, Telkomsel berencana memperluas layanan 4G LTE di tujuh kota. Saat ini Telkomsel telah menyediakan layanan LTE di lima kota, Jakarta, Bali, Bandung, Medan dan Surabaya. “Hingga akhir tahun kami akan menambah layanan LTE 4G di dua kota lagi yakni Makassar dan Manado,” kata Ririek.
Nah, dengan menambah layanan di dua kota tersebut, otomatis spektrum di 900 MHz akan penuh. Itu sebabnya Telkomsel akhirnya mau membuka 1.800 MHz untuk 4G melalui refarming teknologi netral. Namun ke depan, spektrum itu pun akan penuh seiring rencana Telkomsel menghadirkan 4G di 22 propinsi pada 2019 mendatang. Salah satu jawabannya untuk mendapat tambahan frekuensi mungkin dengan cara konsolidasi.
Meski begitu, ketika diminta komentarnya mengenai keinginan pemerintah melakukan konsolidasi industri seluler hingga menjadi tiga operator saja, Telkomsel mengaku belum ada rencana mengenai akuisisi operator lain. ‘’Belum, belum ada,” elak Ririek.

  • Baca juga: Gandeng Danantara dan BNSP, Kemnaker Perkuat Ekosistem Sertifikasi Tenaga Kerja BUMN

Indosat Berminat?

Jika Telkomsel mengaku belum berminat, kompetitornya, Indosat tidak demikian. Alexander Rusli, President Director & CEO Indosat, mengakui bahwa untuk mencapai efisiensi jaringan hanya bisa dilakukan dengan cara konsolidasi operator yang kemudian dibaca pasar sebagai tanda minat operator itu untuk mengakuisisi operator lain.
Merujuk pada alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tiap tahun yang dikeluarkan untuk belanja perangkat jaringan yang main besar, Indosat mengaku jika melakukan konsolidasi akan membuatnya makin efisien. “Kalau mau efisien ya harus konsolidasi, seperti yang dikatakan oleh Pak Menteri,” ujar Alex yang juga Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).
Sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara telah mencanangkan program efisiensi di industri agar sumber daya yang terbatas bisa maksimal. Untuk efisiensi di sektor frekuensi, jalan satu-satunya cuma konsolidasi melalui merger akuisisi. Namun ada cara lain juga, misalnya seperti konsolidasi jaringan untuk infrastruktur bersama.
Idealnya, jika terjadi konsolidasi operator memang 3-4 operator saja. Di negara lain, empat itu sudah maksimum, tapi operator yang dimaksudkan itu adalah jaringan. “Kita belum bisa sampai MVNO (Mobile Virtual Network Operator),” lanjut Alex.
MVNO adalah sebuah layanan telekomunikasi yang menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis. MVNO dalam hal ini dapat hanya berperan sebagai reseller dari MNO atau bisa membangun infrastrukturnya sendiri yang dibutuhkan sesuai dengan teknologi dan izin spektrum frekuensi yang dimiliki oleh MNO.
Umumnya di negara lain, maksimal hanya ada empat operator yang menjadi MNO. Sementara yang bisa menjadi MVNO bisa lebih dari itu. Hal itu bisa terjadi, menurutnya, karena kapasitas jaringan yang dimiliki operator MNO tersebut mencukupi kebutuhan –atau bahkan melebihi.
Kerja sama MVNO sendiri katanya tengah coba dilakukan oleh Bakrie Telecom bersama Smartfren. Namun, skema bisnis model itu belum bisa dikatakan murni MVNO. “Sayangnya di Indonesia kapasitas jaringan kita masih sangat terbatas. Jadi saya pesimistis kita bisa mengadopsi MVNO. Apa yang dilakukan Bakrie dan Smartfren juga bukan MVNO,” tegas Alex.
Jumlah operator telekomunikasi di Indonesia mencapai 9 penyelenggara. Sedangkan di Taiwan yang hanya 6 operator, Jepang 4, China 3, Malaysia 3, Singapura 3, Thailand 3, Filipina 2 operator. Bahkan Amerika Serikat dan Australia yang hanya punya 3 operator.

  • Baca juga: Danantara Inisiasi DTIIF 2026, Tarik Modal Global dan Pacu Transformasi 6 Sektor Industri

Persiapkan Erik?

Lebih lanjut ke soal strategi konsolidasi oleh Indosat, ada yang menarik ketika Erik Meijer, yang sempat meninggalkan Indosat, dan bergabung dengan Garuda Indonesia, kini comeback. Kendati tak lagi menempati posisi direksi di Indosat, suami dari Artis Maudy Koesnadi ini loncat ke induk perusahaannya, Ooredoo Group. Sesuai dengan keahliannya di bidang pemasaran, ia pun dipercaya sebagai penasihat perusahaan asal Qatar tersebut untuk urusan brand marketing. Tepatnya sebagai Strategic Brand Advisor.
Sekilas, posisi itu terkesan kurang mentereng. Namun kalau kita jeli, posisi yang kelihatannya tidak penting itu justru bisa jadi batu loncatan untuk ke jenjang puncak berikutnya: sebagai CEO perusahaan. Tidak percaya? Posisi sebagai advisor pernah dilakoni seorang Hasnul Suhaimi saat loncat dari Indosat ke XL Axiata. Selama beberapa bulan, Hasnul memegang jabatan itu sebelum akhirnya ditetapkan sebagai CEO XL hingga sembilan tahun lamanya.
Pun demikian dengan suksesornya di XL, Hasnul pun mendorong Dian Siswarini untuk ‘magang’ di induk perusahaan sebelum akhirnya menggantikan Hasnul sebagai CEO. Saat disinggung mengenai hal ini ke Erik, yang bersangkutan hanya tertawa. Ia sudah biasa mendapat pertanyaan ‘jebakan’ semacam ini. “Pertanyaan yang jitu,” kata dia. Selebihnya, ia hanya melontarkan senyuman yang bisa diartikan sebagai ‘maybe yes, maybe yes’.
Kemudian, mengenai rencana Indosat mengambil alih kepemilikan Hutchison 3 Indonesia, rumor tersebut sudah terdengar jauh-jauh hari. Apalagi Li Ka shing, pemilik induk Tri di Hong Kong, berencana melepas kepemilikannya di Indonesia.
Indosat pun akhirnya disebut-sebut menjadi kandidat terkuat untuk menampungnya. Rumor pun menguat, karena tak lama setelahnya, Menkominfo Rudiantara mengeluarkan pernyataan akan membentuk Peraturan Menteri tentang Merger Akuisisi (PMA).
Isu Indosat akan mengakuisisi Tri pun semakin kencang setelah skema penataan frekuensi di 1.800 MHz membuat keduanya berdampingan. Tri 10 MHz, dan Indosat 20 MHz. Spektrum keduanya memang lebih kecil dibandingkan Telkomsel dan XL yang sama-sama 22,5 MHz.

BERITA TERKAIT

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

 
 
 
 
 
Previous Post

Petani, “KO”

Next Post

Ceceran Masalah Petral

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Gandeng Danantara dan BNSP, Kemnaker Perkuat Ekosistem Sertifikasi Tenaga Kerja BUMN

Gandeng Danantara dan BNSP, Kemnaker Perkuat Ekosistem Sertifikasi Tenaga Kerja BUMN

by Stella Gracia
22 Oktober 2026 - 09:00

Wamenaker Afriansyah Noor menegaskan sertifikasi pekerja BUMN di LSP P2 harus berbasis kemampuan nyata dan berintegritas, bukan formalitas belaka. Stabilitas.id...

Danantara Inisiasi DTIIF 2026, Tarik Modal Global dan Pacu Transformasi 6 Sektor Industri

Danantara Inisiasi DTIIF 2026, Tarik Modal Global dan Pacu Transformasi 6 Sektor Industri

by Sandy Romualdus
19 Oktober 2026 - 21:39

Danantara Indonesia menggelar DTIIF 2026 di Jakarta guna mempertemukan modal global, peraih Nobel, dan BUMN untuk memacu transformasi industri nasional....

Tawarkan 5.000 Aset Properti: BRI Gelar Gebyar Lelang Serentak Nusantara dan Siapkan KPR 25 Tahun

Masuk 3 Besar BUMN Layanan Terbaik, BRI Pacu Transformasi BRIVolution Reignite

by Stella Gracia
19 Oktober 2026 - 09:49

BRI menempati peringkat ketiga BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026 buah keberhasilan transformasi BRIVolution Reignite. Stabilitas.id - PT...

Himpun 131 CEO Global dan Peraih Nobel, Danantara Gelar Forum Investasi DTIIF 2026

Himpun 131 CEO Global dan Peraih Nobel, Danantara Gelar Forum Investasi DTIIF 2026

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 08:21

Danantara menggelar DTIIF 2026 di Fairmont Jakarta dengan mempertemukan 131 CEO teknologi dunia dan peraih Nobel guna membiayai enam sektor...

Sinergi BNI dan InJourney, Layanan Asistensi Bandara Joumpa Kini Hadir di Aplikasi wondr

Sinergi BNI dan InJourney, Layanan Asistensi Bandara Joumpa Kini Hadir di Aplikasi wondr

by Stella Gracia
2 Oktober 2026 - 14:09

BNI menggandeng InJourney Aviation Services (IAS) untuk menghadirkan layanan asistensi bandara Joumpa langsung melalui aplikasi digital wondr by BNI. Stabilitas.id...

Bedah Kriteria GRE Fitch: Ketergantungan Mutlak DIM pada Likuiditas Dividen BUMN

Bedah Kriteria GRE Fitch: Ketergantungan Mutlak DIM pada Likuiditas Dividen BUMN

by Stella Gracia
22 September 2026 - 10:47

PT Danantara Investment Management (DIM), Fitch Ratings, peringkat utang BBB, prospek negatif, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, tata kelola...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance