Konsolidasi di sektor telekomunikasi yang prosesnya sudah muncul sejak 10 tahun lalu sepertinya mulai kembali bergulir, setelah sempat berhenti pasca akuisisi operator XL Axiata terhadap Axis Telekom Indonesia tahun lalu. Banyaknya jumlah operator berhadapan dengan frekuensi yang makin tipis membuat pemerintah mendesak agar konsolidasi dilanjutkan. Sementara di sisi lain, operator-operator besar pemimpin pasar, menginginkan frekuensi yang lebih besar lagi untuk memperkuat posisinya di pasar.
Akan tetapi setelah XL Axiata mengakusisi Axis Maret tahun lalu, sepertinya tinggal Telkomsel dan Indosat –operator besar yang akan mencaplok operator lain. Dan perusahaan yang diincarpun mengerucut kepada operator Tri, milik Hutchison 3 Indonesia, yang memiliki frekuensi mumpuni. Selain itu, dengan telah diakuisisinya Axis oleh XL dan Bakrie Telecom yang bergabung dengan Smartfren tahun lalu, itu artinya tinggal Tri saja yang masih available.
Soal kebutuhan frekuensi yang besar tidak dibantah oleh Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel. Dengan jumlah pelanggan yang sebanyak 141 juta, dan keinginan untuk tetap menjadi pemimpin pasar membuat Telkomsel mengincara frekuensi tambahan.
Memang, kebutuhan frekuensi tersebut bisa saja terpenuhi jika Telkomsel dapat memenangkan tender sisa kanal di frekuensi 2100 sebesar 10Mhz, yang akan dilelang pemerintah tahun depan. Di frekuensi ini Telkomsel memiliki kapasitas alokasi frekuensi sebesar 15Mhz, sementara XL Axiata juga memiliki kapasitas yang sama yaitu 15Mhz sedangkan Indosat 10Mhz.
Memang, rumor konsolidasi itu belakangan kian kencang karena Tri satu-satunya operator yang mungkin bisa diakuisisi Telkomsel demi memenuhi kebutuhan frekuensi operator itu. Apalagi Ririek sendiri mengakui, dengan spektrum yang dimiliki memang masih cukup untuk melayani 141 juta pelanggan selulernya hingga saat ini. Namun ia tak memungkiri, di masa depan akan perlu tambahan frekuensi lagi seiring penambahan jumlah pelanggan.
Telkomsel memiliki spektrum 5 MHz di spektrum 900 MHz, 22,5 MHz di spektrum 1.800 MHz, dan 15 MHz di spektrum 2,1 GHz. Spektrum itu mungkin masih cukup, namun penuh sesak jika pelanggan data melonjak. Apalagi hingga akhir tahun 2015, Telkomsel berencana memperluas layanan 4G LTE di tujuh kota. Saat ini Telkomsel telah menyediakan layanan LTE di lima kota, Jakarta, Bali, Bandung, Medan dan Surabaya. “Hingga akhir tahun kami akan menambah layanan LTE 4G di dua kota lagi yakni Makassar dan Manado,” kata Ririek.
Nah, dengan menambah layanan di dua kota tersebut, otomatis spektrum di 900 MHz akan penuh. Itu sebabnya Telkomsel akhirnya mau membuka 1.800 MHz untuk 4G melalui refarming teknologi netral. Namun ke depan, spektrum itu pun akan penuh seiring rencana Telkomsel menghadirkan 4G di 22 propinsi pada 2019 mendatang. Salah satu jawabannya untuk mendapat tambahan frekuensi mungkin dengan cara konsolidasi.
Meski begitu, ketika diminta komentarnya mengenai keinginan pemerintah melakukan konsolidasi industri seluler hingga menjadi tiga operator saja, Telkomsel mengaku belum ada rencana mengenai akuisisi operator lain. ‘’Belum, belum ada,” elak Ririek.
Indosat Berminat?
Jika Telkomsel mengaku belum berminat, kompetitornya, Indosat tidak demikian. Alexander Rusli, President Director & CEO Indosat, mengakui bahwa untuk mencapai efisiensi jaringan hanya bisa dilakukan dengan cara konsolidasi operator yang kemudian dibaca pasar sebagai tanda minat operator itu untuk mengakuisisi operator lain.
Merujuk pada alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tiap tahun yang dikeluarkan untuk belanja perangkat jaringan yang main besar, Indosat mengaku jika melakukan konsolidasi akan membuatnya makin efisien. “Kalau mau efisien ya harus konsolidasi, seperti yang dikatakan oleh Pak Menteri,” ujar Alex yang juga Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).
Sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara telah mencanangkan program efisiensi di industri agar sumber daya yang terbatas bisa maksimal. Untuk efisiensi di sektor frekuensi, jalan satu-satunya cuma konsolidasi melalui merger akuisisi. Namun ada cara lain juga, misalnya seperti konsolidasi jaringan untuk infrastruktur bersama.
Idealnya, jika terjadi konsolidasi operator memang 3-4 operator saja. Di negara lain, empat itu sudah maksimum, tapi operator yang dimaksudkan itu adalah jaringan. “Kita belum bisa sampai MVNO (Mobile Virtual Network Operator),” lanjut Alex.
MVNO adalah sebuah layanan telekomunikasi yang menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis. MVNO dalam hal ini dapat hanya berperan sebagai reseller dari MNO atau bisa membangun infrastrukturnya sendiri yang dibutuhkan sesuai dengan teknologi dan izin spektrum frekuensi yang dimiliki oleh MNO.
Umumnya di negara lain, maksimal hanya ada empat operator yang menjadi MNO. Sementara yang bisa menjadi MVNO bisa lebih dari itu. Hal itu bisa terjadi, menurutnya, karena kapasitas jaringan yang dimiliki operator MNO tersebut mencukupi kebutuhan –atau bahkan melebihi.
Kerja sama MVNO sendiri katanya tengah coba dilakukan oleh Bakrie Telecom bersama Smartfren. Namun, skema bisnis model itu belum bisa dikatakan murni MVNO. “Sayangnya di Indonesia kapasitas jaringan kita masih sangat terbatas. Jadi saya pesimistis kita bisa mengadopsi MVNO. Apa yang dilakukan Bakrie dan Smartfren juga bukan MVNO,” tegas Alex.
Jumlah operator telekomunikasi di Indonesia mencapai 9 penyelenggara. Sedangkan di Taiwan yang hanya 6 operator, Jepang 4, China 3, Malaysia 3, Singapura 3, Thailand 3, Filipina 2 operator. Bahkan Amerika Serikat dan Australia yang hanya punya 3 operator.
Persiapkan Erik?
Lebih lanjut ke soal strategi konsolidasi oleh Indosat, ada yang menarik ketika Erik Meijer, yang sempat meninggalkan Indosat, dan bergabung dengan Garuda Indonesia, kini comeback. Kendati tak lagi menempati posisi direksi di Indosat, suami dari Artis Maudy Koesnadi ini loncat ke induk perusahaannya, Ooredoo Group. Sesuai dengan keahliannya di bidang pemasaran, ia pun dipercaya sebagai penasihat perusahaan asal Qatar tersebut untuk urusan brand marketing. Tepatnya sebagai Strategic Brand Advisor.
Sekilas, posisi itu terkesan kurang mentereng. Namun kalau kita jeli, posisi yang kelihatannya tidak penting itu justru bisa jadi batu loncatan untuk ke jenjang puncak berikutnya: sebagai CEO perusahaan. Tidak percaya? Posisi sebagai advisor pernah dilakoni seorang Hasnul Suhaimi saat loncat dari Indosat ke XL Axiata. Selama beberapa bulan, Hasnul memegang jabatan itu sebelum akhirnya ditetapkan sebagai CEO XL hingga sembilan tahun lamanya.
Pun demikian dengan suksesornya di XL, Hasnul pun mendorong Dian Siswarini untuk ‘magang’ di induk perusahaan sebelum akhirnya menggantikan Hasnul sebagai CEO. Saat disinggung mengenai hal ini ke Erik, yang bersangkutan hanya tertawa. Ia sudah biasa mendapat pertanyaan ‘jebakan’ semacam ini. “Pertanyaan yang jitu,” kata dia. Selebihnya, ia hanya melontarkan senyuman yang bisa diartikan sebagai ‘maybe yes, maybe yes’.
Kemudian, mengenai rencana Indosat mengambil alih kepemilikan Hutchison 3 Indonesia, rumor tersebut sudah terdengar jauh-jauh hari. Apalagi Li Ka shing, pemilik induk Tri di Hong Kong, berencana melepas kepemilikannya di Indonesia.
Indosat pun akhirnya disebut-sebut menjadi kandidat terkuat untuk menampungnya. Rumor pun menguat, karena tak lama setelahnya, Menkominfo Rudiantara mengeluarkan pernyataan akan membentuk Peraturan Menteri tentang Merger Akuisisi (PMA).
Isu Indosat akan mengakuisisi Tri pun semakin kencang setelah skema penataan frekuensi di 1.800 MHz membuat keduanya berdampingan. Tri 10 MHz, dan Indosat 20 MHz. Spektrum keduanya memang lebih kecil dibandingkan Telkomsel dan XL yang sama-sama 22,5 MHz.

















