• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Petani, “KO”

by Sandy Romualdus
9 Juli 2015 - 00:00
63
VIEWS
Petani, “KO”
0
SHARES
63
VIEWS

BERITA TERKAIT

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Seorang petani di sebuah desa di India dikabarkan “menjual” dua orang anaknya. Bukan dijual kepada pria hidung belang, bukan. Keduanya dibarter untuk bekerja selama setahun sebagai buruh gembala ternak, setelah petani tersebut mengalami gagal panen. Sementara ia harus melunasi utang-utang dan perlu modal untuk kembali bekerja. Kalau sahabat menganggap berita ini “tidak” penting, bukan salah sahabat. Pertama, nasib petani di mana-mana sama, jarang yang memperhatikan, menghargai, atau bahkan menganggapnya penting. Kedua, berita itu terjadi jauh di seberang sana, kalah jauh gregetnya dibanding dengan simpang siur dan hiruk pikuk politik dalam negeri.
Namun, bagaimana kalau sahabat tahu, bahwa petani yang kesulitan itu di depan hidung kita sendiri? Bukan satu orang, bukan satu kampung, tapi nyaris satu negeri? Ya, pasti tidak percaya, bukan?! Apa lacur, nasib para petani itu memang seringkali menjadi “permainan” pihak lain. Dalam keadaan kesulitan keuangan, mereka seringkali terjerat rentenir.
Saat pemilu, baru deh suaranya diperebutkan. Mereka dielu-elukan sebagai wong cilik, Kaum Marhaen, yang hendak diperbaiki nasib dan kesejahteraannya. Pemilu usai, “pesta” pun berakhir. Para politisi yang sebelumnya memejeng gambar “berlumpur ria” dengan petani, berbalik arah meninggalkan mereka. Jadilah, mereka kembali ke pada situasi ketika mencari bibit susah, ketika mendapatkan pupuk bersubsidi sulit, dan ketika harga-harga naik, sementara hasil produksi mereka tidak bisa mengejar kebutuhan konsumsi dan produksi pertanian selanjutnya. Mereka hanya pasrah, tidak pernah demo. Sesekali demo, daya tawar mereka jauh dari Mahasiswa. Sebagaimana yang baru-baru ini terjadi di Sulawesi Utara, di mana sebagian mereka menjadi korban peluru aparat, ditendang, dan dipukul (Suara Kendari, 3/5/2015).
Saat ini, nasib mereka, mungkin tidak jauh beda dengan petani di India yang saya kutip di depan, bahkan mungkin lebih mengkhawatirkan. Untuk penelusuran awal, barangkali bisa menggunakan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mengeluarkan indikator nilai tukar petani (NTP) yang berguna untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Sederhananya, NTP mengukur berapa pendapatan yang diterima petani dibanding dengan harga yang harus mereka bayarkan (saat membeli bibit, pupuk dst). Jika nilai NTP lebih besar dari 100, petani mengalami surplus. Artinya, harga komoditaspetani masih lebih tinggi dari pada harga barang/ jasa konsumsi dan produksi mereka.
Sebaliknya, bila NTP lebih kecil dari 100, petani mengalami defisit. Sedang bila NTP sama dengan 100, petani mengalami titik impas, dengan kata lain kesejahteraan mereka tidak mengalami perubahan.
Berdasarkan Data BPS terkini, pada Maret 2015, NTP tercatat sebesar 101,53 persen. Sebulan kemudian, NTP merosot hingga tinggal 100,14 persen. Secara nasional, kesejahteraan petani kita hampir mendekati titik kritis bahkan knock out (KO). Dari 35 provinsi, per April 2015, separuh provinsi yang ada NTP-nya sudah di bawah 100 persen, mengindikasikan pendapatan mereka defisit. Di Sumatera, hanya Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung yang NTP-nya di atas 100 persen. Lainnya, seperti Bengkulu dan Jambi terperosok hingga level 94,32 persen dan 94,72 persen. Di Jawa, tiga provinsi antara lainDKI, Jawa Tengah dan DIY juga kandas dengan masing-masing mencatat 98,89 persen, 97,84 persen, dan 98,71 persen. Angka-angka ini cukup memprihatinkan untuk tidak menyebut menyedihkan bila dibandingkan dengan NTP pada periode 2010-2013 di mana secara nasional masing-masingmencapai 101,78 persen, 104,58 persen, 105,24 persen, dan 104,91 persen. Secara sederhana, bisa disimpulkan, setelah 17 tahun reformasi, nasib para petani belum beranjak membaik, malah sebaliknya.

  • Baca juga: Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

Perspektif Quranomics

Petani adalah salah satu pekerjaan mulia. Mereka mendapatkan hasil dari apa yang mereka usahakan. Ini sesuai dengan gambaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. “Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad). Barangkali, inilah jenis pekerjaan yang pelakunya hampir tidak akan pernah tersangkut di KPK. Tidak ada kesempatan untuk melakukan korupsi. Sebaliknya, mereka sering jadi sasaran korupsi karena pengadaan barang dan jasa serta bantuan langsung bagi petani sangat rawan korupsi (Tempo, 29/2/2012).
Pemerintah, saya kira, tidak perlu muluk-muluk untuk mencari jalan mensejahterakan petani. Cukup, penuhilah janji-janji yang sudah terlontar saat pemilu. Ini, hemat saya jauh lebih penting. Janji yang pernah disampaikan Presiden Jokowi saat itu adalah terciptanya kedaulatan pangan antara lain melalaui implementasi 1.000 desa berdaulat benih hingga 2019.
Selain itu, 4,5 juta kepala keluarga juga dijanjikan memiliki tanah pertanian, perbaikan irigasi di 3 juta hektare sawah, membangun 25 bendungan, dan satu juta hektar lahan pertanian baru di luar Jawa (TribunNews, 4/7).
Tentu saja tidaklah bijak menagih janji dalam satu waktu. Kalau pun saat ini belum kesampaian, Pemerintah perlu menunjukkan janji-janji itu paling tidak terencana dengan baik, termasuk kapan waktu penerapannya dilakukan. Kalau tidak, saya khawatir Pemerintah saat ini bisa lebih buruk dari Pemerintah sebelumnya. Dulu zaman Soekarno disebut Orde Lama. Zaman Soeharto berganti menjadi Orde Baru (New Order). Kalau Pemerintahan saat ini tidak bekerja keras menepati janji-janjinya, saya khawatir mereka kelak digelari Pemerintahan yang tidak bekerja alias rusak (Out of Order).

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan
 
 
 
 
 
Previous Post

Mencemaskan Pinjaman Bermasalah

Next Post

Kepingan Terakhir Konsolidasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

by Sandy Romualdus
20 Oktober 2026 - 17:40

Oleh : Mas’ud Said - Penulis buku BPD Resilient, Competitive and Contributive PELUNCURAN Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Indonesia (RP3I)...

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance