Ekonomi melemah di tengah merebaknya praktik digital banking. Risiko apa yang bisa muncul dari kondisi itu? Salah satunya adalah risiko dari sisi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Ancaman pembobolan dana nasabah di bank melalui saluran-saluran TI memang dikhawatirkan akan meningkat ketika bank sedang mengalihkan perhatiannya pada bagaimana menyelamatkan kinerja keuangan di tengah pelemahan ekonomi. Maraknya praktik-praktik layanan perbankan digital dan uang elektronik, serta meningkatnya transaksi melalui alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) membuat ancaman itu makin nyata.
Bahkan beberapa bank sudah mulai merasakannya. Salah satunya adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Direktur BRI Susy Liestiowaty mengatakan pada kuartal kedua tahun ini saja, potensi kenaikan frekuensi fraud mencapai 20 persen year on year (yoy). Karena semakin banyak transaksi yang dilakukan oleh perbankan, maka potensi fraud akan semakin tinggi. “Namun bank secara umum sudah melakukan mitigasi risiko terkait hal ini, seperti dengan melakukan analisis nasabah dan proses seleksi pegawai yang ketat,” kata dia.
Sektor TI memang tengah menjadi sasaran empuk para penjahat beberapa tahun belakangan ini. Berdasarkan data kepolisian, tiga tahun terakhir, ada sebanyak 5.550 kasus skimming di dunia. Sebanyak 1.549 kasus di antaranya terjadi di Indonesia. Skimming adalah fraud yang dilakukan dengan meng-copy data yang ada dalam sebuah kartu melalui sebuah alat yang disebut skimmer. Dengan data tersebut, penjahat bisa dengan leluasa menarik dana atau melakukan transaksi dengan kartu nasabah.
Menurut sebuah survey global yang dikutip oleh Bank Mandiri, hampir setiap industri pernah diserang oleh para penjahat cyber. Akan tetapi industri keuangan menjadi yang paling diincar oleh penjahat karena memang banyak menyimpan dana. Selain itu, faktor makin berkurangnya interaksi langsung antara bank dan nasabah membuat peluang serangan menjadi lebih besar.
Sebagai bank yang banyak memberikan layanan elektronik dan juga APMK, Bank Mandiri juga merasakan ancaman fraud yang besar tahun ini. Menurut Direktur Manajemen Risiko dan kepatuhan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Ahmad Siddik Badruddin, skimming kartu kredit dan ATM adalah modus fraud yang sering terjadi di bank, selain juga phishing di internet banking.
Memang tidak diragukan lagu penggunaan internet yang kian marak dan merambah ke berbagai sendi kehidupan telah memunculkan beragam ancaman seperti fraud di perbankan atau lebih besar lagi kejahatan dunia maya (cyber crime). Dan tampaknya dalam beberapa tahun ke depan jumlah kejahatan komputer, terutama yang berhubungan dengan sistem informasi, akan terus meningkat.
Hal itu disebabkan makin banyaknya aplikasi baik bisnis maupun permainan atau gabungan dari keduanya yang hadir dan dipergunakan masyarakat. Saat ini saja, dalam praktik perbankan sudah bermunculan aplikasi seperti online banking, e-commerce, Electronic Data Interchange (EDI), dan masih banyak lainnya.
Selain itu, sebagai imbasnya, akan makin banyak sistem –terutama di perbankan yang, membutuhkan desentralisasi server sehingga membutuhkan lebih banyak operator dan administrator yang handal atau bahkan vendor yang biasanya berasal dari pihak ketiga. Di sini akan muncul potensi pencurian data.
Jumlah kejahatan dalam sistem digital juga akan meningkat karena meningkatnya kemampuan pemakai di teknologi internet dan komputer sehingga mulai banyak pemakai yang mencoba-coba bermain atau membongkar sistem.
Terkait dengan penggunaan jasa pihak ketiga atau vendor yang biasanya disewa oleh bank, Bank Mandiri mengakui bahwa saluran tersebut menjadi salah satu pintu masuk munculnya fraud dan juga cyber attack. “Yang menjadi target dari cyber attack adalah data nasabah yang diakses oleh para sindikat tersebut. Modusnya bermacam-macam, yang paling terkenal di seluruh dunia adalah malware yaitu software jahat, kemudian phising yaitu kegiatan untuk mendapat informasi untuk mengakses data nasabah,” kata Siddik.
Meski begitu, pihaknya tidak terlampau khawatir ancaman itu akan mengganggu operasional Bank Mandiri. “Kami mempunyai strategi empat pilar retension untuk mengatasi potensi fraud. Salah satunya adalah melakukan mitigasi IT, mitigasi potensi dan melakukan audit internal sistem,” ujar Siddik.
Untuk menekan risiko hingga ke angka minimal, otoritas keuangan sudah memberi pedoman kepada bank guna menyusun strategi anti fraud yang berisi empat pilar: Pencegahan, Deteksi, Investigasi, dan Evaluasi.
Di Bank Mandiri terkait risiko penggunaan TI, kata Siddik, melakukan pencegahan bagaimana supaya tidak terjadi fraud. Dan kalau memang bisa terjadi, manajemen lewat satuan tugas manajemen risiko harus mendeteksinya. Kemudian setelah dideteksi bank akan melakukan investigasi, setelah itu terakhir baru dilakukan evaluasi.
Tetap Berinovasi
Meski ekonomi melemah dan ancaman fraud di layanan digital meningkat, tetapi hal tersebut tidak menghalangi bank untuk berinovasi teknologi. Strategi tersebut dijalankan oleh Bank BRI yang telah meluncurkan satelitnya ke orbit pada Juni lalu.
Dengan adanya orbit tersebut, terbuka lebar peluang BRI untuk memenangkan persaingan dalam layanan perbankan digital atau elektronik. Menurut Direktur Utama BRI Asmawi Syam dalam wawancara tertulis dengan Stabilitas, investasi pada satelit adalah sebuah keharusan apabila dikaitkan dengan kebutuhan jaringan komunikasi yang mampu mendukung skala operasional BRI yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Dari perspektif investment decision making, secara finansial BRIsat sangat feasible, dengan NPV (net present value atau nilai sekarang dari investasi yang dilakukan -red) positif dan payback period yang relatif pendek dibandingkan dengan umur BRIsat yang bisa melebihi 15 tahun,” kata dia. (Baca selengkapnya pada rubrik Interview).
Selain itu, penggunaan teknologi di bidang perbankan sangat penting dalam mempercepat inklusi finansial yang memang sedang idorong oleh otoritas perbankan. Penerapan teknologi baru diyakini mampu menekan biaya operasional dan mendongkrak jumlah nasabah serta profitabilitas. “Investasi di satelit sangat membantu BRI dalam mengembangkan teknologi untuk para nasabah,” kata Asmawi.
Saat ini, BRI merupakan bank yang efisien, seperti terlihat pada rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang berada di level 67 persen, jauh di bawah rata-rata BOPO bank umum nasional yang di atas 75 persen.














