• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Figur

A Series of Luck of A Central Banker

by Sandy Romualdus
25 November 2013 - 00:00
14
VIEWS
A Series of Luck of A Central Banker
0
SHARES
14
VIEWS

Will Rogers (1879-1935), seorang cowboypengelana- bintang filmhumoris-aktor-pengamat sosial di Amerika, pernah mengatakan, “there have been three great inventions since the beginning of time: fire, the wheel, and central banking.”

Tidak diketahui secara persis apakah ungkapan yang sering dikutip itu benar-benar dimaksudkan Will Rogers sebagaimana bunyinya? Begitu dramatiskah kehadiran sebuah bank sentral? Mungkinkah Will Rogers hanya sedang mengolok bank sentral yang konon bisa “menyulap” kertas menjadi uang?

  • Baca juga: Srikandi di Benteng Finansial: Saat Kepemimpinan Intuisi dan Presisi Menjaga Marwah Otoritas

Namun bagi Hartadi A. Sarwono, bank sentral bukan hanya bisa menyulap kertas menjadi uang. Ia bisa menyulap seseorang dari bukan siapa-siapamenjadi ‘seseorang’.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

“Tetapi saya tahu, bank sentral bukan hanya bisa  menyulap kertas menjadi uang. Ia bisa menyulap nobody menjadi somebody. Saya merasakan hal itu. Dengan segala kerendahan hati, ingin  saya sampaikan bahwa nilai intrinsik saya sebagai seorang suami-ayah-kakek telah ‘disulap’ oleh BI (Bank Indonesia) menjadi seorang Deputi Gubernur,” kata mantan Deputi Gubernur BI yang kini menjadi Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) ini.

Sungguh sebuah penciptaan ‘uang’, sebuah seignorage yang luar biasa besar. Bahkan bank sentral telah ‘menciptakan’ dia seperti sekarang dengan menyekolahkannya, menanamkan nilai-nilai selama bertahun-tahun.

Meski sampai pada karier tertinggi dari jenjang yang tersedia untuk ‘orang dalam’ BI, Hartadi merasakan bahwa yang telah didapatnya selama ini merupakan rentetan keberuntungan. “Saya banyak ditolong oleh keberuntungan, a series of luck. Tuhan ternyata begitu baik kepada saya. Tanpa keberuntungan itu, tidak terbayang seorang Arema (Arek Malang) seperti saya bisa menjadi seorang DeputiGubernur BI,” tutur pria kelahiran  Jakarta, 10 Agustus 1952.

Meniti karier selama lebih dari tiga dasawarsa di bank sentral dan menjabat berbagai posisi utama di bidang kebijakan moneter, Hartadi merasa dirinya sudah terlalu lama di BI. Maklumlah, semenjak mahasiswa tingkat akhir di Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), Hartadi sudah merintis karier di BI.

“Kebetulan waktu itu BI sedang banyak membutuhkan tenaga untuk menjalankan program kredit likuiditas BI tahun 1979. BI membutuhkan lulusan Teknik Industri untuk feasibility study program mereka. Nah, waktu itu terpilih saya dan empat orang lainnya sebagai angkatan pertama. Waktu itu saya seangkatan dengan Bu Titu (Kusumaningtuti S Setijono, kini Komisioner OJK),” cerita Hartadi.

Bermula dari situlah karier bapak tiga anak ini berlanjut terus. Dimulai dari staf (1980-1983), Hartadi muda lalu mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Amerika Serikat. Dia kemudian mengambil master di
bidang Macroeconomics di University of Oregon, Eugene-Oregon, AS pada 1985.

“Waktu dapat beasiswa itu, saya sebenarnya nekad saja, utamanya soal bahasa Inggris. Belum begitu cas cis cus, tapi karena saya ini termasuk orang tekun, bukan super, ya dijalani saja. Alhamdulillah semuanya lancar,” kisah Hartadi yang seusai menyelesaikan S2- nya lalu melanjutkan ke program doktoral di universitas yang sama pada 1989. Dia mengambil bidang Monetary Theory and Policy.

  • Baca juga: Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

Setelah memperoleh gelar Ph.Dnya, Hartadi kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan karier di BI, dan kemudian mencicipi semua jabatan yang tersedia untuk seseorang yang memiliki spesialisasi di bidang moneter, dari bawah hingga ke puncaknya.

Dengan pengalaman yang menggunung di dunia perbankan, toh penyuka buku cerita klasik “Bende Mataram” dan “Kho Ping Ho” ini dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Hartadi menuturkan, jabatan apapun yang dipercayakan kepadanya niscaya dijalankan tanpa ambisi berlebih. Dia siap menjalankan tugas, tetapi siap juga menerima tantangan untuk jabatan tinggi lain yang ditawarkan kepadanya.

Nah, ketika dirinya memasuki masapensiun pada pertengahan Juni 2013 lalu, Hartadi sebenarnya ingin mengisi waktu pensiun untuk beristirahat. Apalagi ada kode etik di BI yang disebut dengan cooling period. Aturan ini menyebutkan, dalam waktu enam bulan, pensiunan BI dilarang bekerja di bidang industri yang diatur oleh BI.

Namun, pria yang suka olahraga golf ini emoh bila keahliannya tak dimanfaatkan. Terlebih banyak tawaran menjadi dosen datang dari sejumlah perguruan tinggi. Salah satunya dari Universitas Indonesia (UI).

Hartadi tampaknya akan menerima  tawaran tersebut. Toh, selama ini ia sering menjadi promotor doktor di UI. Cuma, dia enggan jika harus terikat di satu perguruan tinggi. “Kalau jadi dosen tetap nanti tidak bisa mengajar kemanamana,” ujar Hartadi yang sempat menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI selama dua hari.

Peran LPPI

Namun, pada medio Agustus 2013, Hartadi akhirnya menerima pinangan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Dia ditahbiskan menjadi Dirut LPPI sekaligus CEO International Center for Development in Islamic Finance (ICDIF-LPPI) menggantikan Dirut sebelumnya, Subarjo Joyosumarto (2007-2013).

Sebagai petinggi di sekolah para bankir ini, Hartadi melihat tantangan kedepan yang dihadapi LPPI untuk menyiapkan tenaga terampil dan tenaga profesional bagi industri keuangan tidaklah menjadi semakin ringan.

“Perkembangan yang cepat produkproduk keuangan yang disertai dengan tingkat kemajuan dan teknologi yang tinggi, menutut ketersediaan sumber
daya manusia di bidang keuangan yang berkompetensi dan berintegritas,” jelas Hartadi.

  • Baca juga: Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

Sementara itu, dampak krisis keuangan global yang belum usai, Indonesia sudah dihadapkan pada tantangan terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 dan integrasi pasar keuangan ASEAN pada 2020. Hal itu membuat industri keuangan khususnya perbankan di Indonesia perlu segera mempersiapkan diri untuk segera memperkuat pemahaman terhadap standar permodalan dan standar likuiditas guna meningkatkan ketahanan industri keuangan terhadap krisis.

“Disinilah saya melihat LPPI akan dapat berperan lebih aktif lagi membantu otoritas, baik BI maupun OJK, untuk melakukan desiminasi ketentuan, melaksanakan pendidikan dan pelatihan guna mempersiapkan tenaga terampil dan manajerial profesional yang dibutuhkan industri keuangan kita,” tandas Hartadi yang mengaku pembicaraannya mungkin masih terdengar seperti seorang central bankers yang selalu mengedepankan financial stability sebagai salah satu core function dari suatu bank sentral.

 
 
 
 
 
Previous Post

Investasi dan Reaksi Pemerintah

Next Post

Momentum Tabungan iB Untuk Gigi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Modal Asing Masuk US$ 8,5 Miliar di Q2 2026, BI Pastikan Cadangan Devisa Tetap Tebal

Srikandi di Benteng Finansial: Saat Kepemimpinan Intuisi dan Presisi Menjaga Marwah Otoritas

by Sandy Romualdus
10 Agustus 2026 - 20:17

Rupiah melonjak ke level Rp17.753 per dolar AS usai Surpres Gubernur BI diserahkan. Simak analisis lengkap rekam jejak Destry Damayanti...

Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

by Sandy Romualdus
3 Juni 2026 - 22:47

Stabilitas.id – Panggung Global Startup Awards (GSA) 2026 di Valletta, Malta, pada 7–8 Mei 2026 menjadi saksi runtuhnya dominasi barat...

Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

by Stella Gracia
12 Mei 2026 - 14:14

Stabilitas.id – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) resmi mengumumkan nakhoda baru untuk memimpin perusahaan pembiayaan ultra mikro tersebut. Kindaris ditunjuk...

Reni Wulandari, Direktur Operasi Perempuan Pertama SIG: Dobrak Bias Gender di Industri Semen

Reni Wulandari, Direktur Operasi Perempuan Pertama SIG: Dobrak Bias Gender di Industri Semen

by Stella Gracia
21 April 2026 - 18:54

Stabilitas.id – Industri semen yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki kini memiliki wajah baru dalam kepemimpinannya. Reni Wulandari, seorang...

Obituari Michael Bambang Hartono: Berpulangnya Sang Arsitek Diversifikasi Bisnis Djarum

Obituari Michael Bambang Hartono: Berpulangnya Sang Arsitek Diversifikasi Bisnis Djarum

by Stella Gracia
21 Maret 2026 - 16:49

Stabilitas.id – Dunia usaha Indonesia berduka. Michael Bambang Hartono, salah satu pilar utama di balik imperium bisnis Djarum Group dan...

Friderica Widyasari Dewi: Menjaga Marwah Otoritas dengan Intuisi dan Presisi

Friderica Widyasari Dewi: Menjaga Marwah Otoritas dengan Intuisi dan Presisi

by Sandy Romualdus
12 Maret 2026 - 00:05

Stabilitas.id - Sejarah sering kali ditulis melalui langkah-langkah sunyi yang konsisten sebelum akhirnya meledak dalam sebuah panggung besar. Di lantai...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance