BERITA TERKAIT
Jika ada yang berkeyakinan bahwa pertumbuhan asuransi bergantung kepada pertumbuhan ekonomi, ada baiknya melihat kinerja industri proteksi tahun lalu. Ketika ekonomi hanya melaju 5,02 persen sepanjang 2014, lebih rendah dari rata-rata enam tahun sebelumnya yang sebesar 6 persen (kecuali 2009), pertumbuhan premi asuransi bisa melesat hingga 10 persen.
Bahkan jika diperas lagi, angka pertumbuhan di bisnis asuransi bisa lebih mengesankan lagi. Berdasarkan riset yang dilakukan Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), selain premi, klaim bruto juga meningkat 6 persen, sementara pertumbuhan aset bahkan jauh lebih tinggi, yakni mencapai 24 persen.
Satu hal lagi yang patut mendapat catatan adalah pertumbuhan investasi yang mencapai 25 persen,yang dibarengi dengan peningkatan keahlian dalam memilih instrumen yang tepat dan menghasilkan return tinggi. Terlihat dari pertumbuhan hasil investasi yang melonjak hingga 254 persen, dari Rp12,3 triliun di tahun 2013 menjadi Rp43,5 triliun di tahun 2014. Hal ini turut mendongkrak pertumbuhan laba komprehensif asuransi nasional, yakni sebesar 213 persen.
Dengan bekal tersebut, pelaku industri mengaku optimistis bahwa kinerja industri asuransi yang bagus di tahun 2014 lalu akan berlanjut di tahun ini, meski pada triwulan pertama pertumbuhan ekonomi justru melorot di angka 4,7 persen. Jika tahun lalu yang merupakan Tahun Politik karena adanya dua kali pemilihan umum saja asuransi bisa tumbuh cukup tinggi, maka tahun ini pun bisa.
Hal itu diutarakan oleh Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) yang optimistis pertumbuhan industri asuransi di Indonesia pada 2015 diperkirakan akan meningkat, seiring dengan tingginya laju pertumbuhan ekonomi.
“Asuransi umum sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi karena sebagian besar produk asuransi memberikan jaminan terhadap risiko pembangunan ekonomi,” kata Direktur Eksekutif AAUI Julian Noor.
Julian mencontohkan misalnya proyek pembangunan pabrik di mana proyek itu sendiri dipengaruhi oleh kredit perbankan, namun kredit tersebut tidak akan cair jika tidak ada perusahaan asuransi yang menjamin. “Kita sangat terpengaruh dengan pertumbuhan ekonomi. Bagaimana infrastruktur dibangun, makin banyak yang dibangun, makin banyak potensi premi,” ujar Julian.
Pemerintah tahun ini menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, sehingga industri asuransi juga diasumsikan akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi juga.
“Asumsinya pertumbuhan ekonomi lebih besar, maka kami asumsikan kenaikan industri asuransi umum juga akan lebih tinggi, tentunya dengan asumsi pertumbuhan ekonomi tercapai, tidak terjadi revisi,” ujar Julian.
Meski, tumbuh melambat, asuransi umum masih bisa mencatatkan kinerja lebih baik dari perekonomian. Premi bruto industri asuransi umum pada triwulan I-2015 mencapai Rp13,9 triliun, tumbuh 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp12,7 triliun. “Ini tumbuh melambat dibandingkan triwulan I-2014 yang tumbuh 19,6 persen saat itu,” Julian
Asuransi Jiwa Melesat
Berbeda dengan lini asuransi jiwa lebih. Seperti dicatat Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dari hasil kinerja 50 anggotanya, pertumbuhan total pendapatan industri meningkat sebesar 15,9 persen atau senilai Rp 44,80 triliun. Pertumbuhan total pendapatan industri tersebut didorong oleh peningkatan total pendapatan premi sebesar 28,5 persen atau senilai lebih dari Rp 32,95 triliun. Adapun peningkatan total pendapatan premi secara signifikan juga didorong oleh peningkatan total premi bisnis baru dan total premi lanjutan.
“Total premi bisnis baru mengalami pertumbuhan sebesar 29,0 persen atau setara Rp 18,72 triliun – dan berkontribusi sebesar 56,8 persen dari total premi. Pertumbuhan ini juga jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada kuartal pertama tahun 2014 lalu,” kata Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim.
Seiring dengan pertumbuhan total premi bisnis baru, pendapatan premi dari total premi lanjutan juga meningkat sebesar 27,8 persen atau sekitar Rp 14,23 triliun, yang menggambarkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya melanjutkan kepemilikan asuransi.
Nilai proteksi jangka panjang yang meningkat mendorong pengelolaan dana nasabah ke portofolio investasi juga meningkat. Ini tercermin dari total investasi yang mengalami peningkatan bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah investasi industri asuransi jiwa pada kuartal pertama 2015 meningkat 28,2persen menjadi Rp 331,12triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Portofolio terbesar terdiri dari reksadana, efek (saham dan obligasi), deposito berjangka dan surat berharga negara.
Terkait dengan investasi, laporan AAJI mencatat pada kuartal pertama 2015 produk asuransi jiwa terkait investasi (unit link) masih merupakan kontributor terbesar total pendapatan premi sebesar 53,9 persen sementara produk tradisional menyumbang 46,1 persen. Sampai dengan akhir kuartal pertama 2015, total pendapatan premi yang diperoleh dari produk unit link mengalami pertumbuhan sebesar 24,4 persen sedangkan produk tradisional juga tumbuh sebesar 33,6 persen.
Produk unit link juga berkontribusi terhadap total premi bisnis baru sebesar 45,1 persen serta mengalami pertumbuhan yang sangat baik pada kuartal pertama 2015, yaitu meningkat sebesar 31,7 persen.
Kendati demikian, industri asuransi jiwa terus berkomitmen dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat Indonesia di saat mereka membutuhkan. Komitmen tersebut dibuktikan dengan kenaikan pembayaran total klaim dan manfaat sebesar 57,8 persen atau sekitar Rp22,64 triliun pada kuartal pertama
2015.
Adapun sebagaian besar dari klaim yang dibayarkan industri berkaitan dengan klaim penarikan sebagian (partial withdrawal). “Penarikan sebagian tersebut mengalami pertumbuhan yang signifikan dikarenakan adanya peningkatan hasil investasi pada pasar modal Indonesia sehingga sebagian nasabah melakukan aksi profit taking,” ujar Hendrisman.
Sementara meningkatnya jumlah klaim medikal dan lainnya (medical & others) sebesar 37,9persen menjadi Rp 2,63 triliun pada kuartal pertama 2015 juga menunjukkan tingginya kebutuhan akan proteksi kesehatan bagi masyarakat Indonesia.

















