Bursa Efek Indonesia akhirnya punya Direktur Utama yang baru, Tito Sulistio. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pengelola bursa telah mengesahkan pengangkatan Tito sebagai Dirut BEI periode 2015-2018. Tito terpilih menggantikan direktur utama sebelumnya Ito Warsito yang tugasnya berakhir pada Juni tahun ini. Tito akan didampingi beberapa direktur, yakni Hamdi Hassyarbini (Direktur Pengawasan), Chaeruddin Berlian (Direktur Keuangan), Sulistyo Budi (Direktur Informasi Teknologi), Nicky Hogan (Direktur Pengembangan), Samsul Hidayat (Direktur Penilaian Perusahaan) dan Alpino Kianjaya (Direktur Perdagangan).
Pria yang baru saja meraih gelar Doktor Ilmu Hukum Universitas Pelita Harapan ini mengatakan, terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki untuk mendorong pasar modal Indonesia bersaing secara global. Di antaranya, meraup investor, mengajak perusahaan untuk bergabung menjadi emiten, hingga menuntun lembaga penjamin atau sekuritas.
“Kita punya emiten sebagai sarana mobilisasi jangka panjang, bukan hanya emiten besar tetapi juga yang kecil. Seperti yang Pak Harto katakan pada 10 Agustus 1977 pasar modal adalah sarana untuk mobilisasi modal jangka panjang,” tutur mantan Dirut Bursa Efek Surabaya 1995-1998 ini.
Kesemua unsur tersebut, kata Tito, sebagai ujung tombak agar dapat menaikkan volume transaksi di pasar modal. Dia juga punya visi untuk mengalahkan nilai perdagangan di bursa Singapura dan Thailand. “Itu kita kejar. Dalam waktu 3-5 tahun mengalahkan trading value Singapura dan Thailand. Bagaimana menaikan trading value kita. Thailand market capital cuma beda 12 persen, tapi trading value empat kali kita,” tutur Tito
Tito mengatakan, semua pihak perlu saling bersinergi supaya mobilisasi perdagangan pasar saham Indonesia dapat maju menyaingi bursa besar dunia. Diantaranya dengan menarik minat investor, serta mendorong kinerja emiten. “Pada dasarnya memperbaiki portofolio emiten, kalau 10 emiten menguasai 52 persen market capital itu tidak sehat,” imbuhnya.
Selain itu, menurutnya, pihaknya akan perlu mendorong kinerja BEI dengan memperbaharui kinerja sekuritas. “Sekuritas harus untung, sekarang 115 perusahaan enam suspend, 25 rugi, 28 babak belur,” katanya.
Sebelumnya, mantan Dirut BEI Ito Warsito mengemukakan, Dirut BEI baru haruslah bisa meneruskan target-target besar yang telah digariskan. Semisal, jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) semakin banyak, demikian pula dengan nominal transaksi di lantai bursa haruslah bisa melompat tinggi. “Harapannya tentu, direksi bursa yang baru harus mampu memperbanyak emiten baik itu investor lokal ataupun asing. Serta bisa memperbailki, meningkatkan kehandalan sistem dan teknologi informasi pasar modal untuk infrastruktur,” kata Ito.
Dikatakan Ito, BEI mentargetkan perolehan emiten sebanyak 32 perusahaan. Hingga Semeseter I 2015, baru 7 emiten yang sudah leasted. “Menandakan belum setengahnya dari target tercapai. Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) direksi baru,” tuturnya.
Sampai Januari 2015, jumlah perusahaan yang IPO di BEI hanya 22 perusahaan, sementara targetnya 30 perusahaan di 2014. Sementara jumlah investor individu yang melantai di BEI amat sangat minim. Jumlah investor individu tercatat 174 orang atau 0,02 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Tak lebih dari 0,02 persen jumlah penduduk
Minimnya jumlah investor ritel lokal, kata Ito, lebih disebabkan kurangnya pengetahuan teknis mengenai pasar modal. Hal ini sangat disayangkan karena perdagangan di pasar modal Indonesia merupakan perusahaan lokal. Namun porsi keuntunga terbesar justru investor asing. Tentunya, semua itu akan menjadi tugas berat bagi Direksi BEI baru yang dipimpin Tito Sulistio.
Antisipasi IHSG Turun
Saat proses fit and proper test dihadapan petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tito mengungkapkan tiga fokus utama program yang diusungnya jika terpilih emnjadi Dirut BEI. Yakni memperbarui dan memperkuat portofolio emiten, memperkuat posisi broker, dan merapikan aktivitas pengawasan pasar modal.
Pada rencana program yang dipaparkan ke OJK, Tito menargetkan nilai transaksi harian di BEI meningkat dari Rp6,5 triliun menjadi Rp15,6 triliun dalam periode tiga hingga lima tahun. Selain itu, Tito juga menargetkan penambahan jumlah investor di pasar modal hingga 20 ribu investor per tahun.
Adapun salah satu cara menambah portofolio emiten, lanjut Tito, adalah mengubah cara pandang pemerintah mengenai privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tito optimistis dapat menjalankan peran yang maksimal, jika dia terpilih menjadi dirut BEI. “Bagi saya, jika bisa menjabat sebagai dirut BEI, itu akan menjadi ultimate career,” ujar Tito ketika itu.
Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK mengatakan, tantangan terberat yang harus dihadapi direksi BEI yang baru adalah kapitalisasi pasar saham Indonesia saat ini kian menurun, dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5,7 persen secara year to date (ytd) ke level dibawah level psikologis 5.000.
Selama Juni sampai awal Juli 2015, IHSG memang bergerak variasi dengan kecenderungan melemah. Pada penutupan perdagangan saham, awal Juli, IHSG turun tipis 6,5 poin (0,13 persen) menjadi 4.904,06. Indeks saham LQ45 tergelincir 0,20 persen menjadi 837,42. Ada sebanyak 159 saham melemah sehingga menekan IHSG, 114 saham menghijau, sedangkan 93 saham lainnya diam di tempat.
Secara sektoral, sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham perkebunan naik 2,22 persen, sektor saham industri dasar mendaki 0,28 persen, sektor saham keuangan menguat 0,19 persen, dan sektor saham barang konsumsi mendaki 0,11 persen. Sementara itu, sektor saham aneka industri melemah 0,64 persen, dan memimpin pelemahan sektor saham. Sedangkan sektor saham konstruksi tergelincir 0,62 persen dan sektor saham infrastruktur susut 0,57 persen.
Berdasarkan data RTI, investor asing melakukan aksi jual sekitar Rp 200 miliar. Sedangkan pemodla lokal melakukan aksi beli bersih sekitar Rp 200 miliar.
Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada menuturkan, rilis inflasi Juni mempengaruhi laju IHSG pada perdagangan awal Juli 2015. Ditambah sentimen penyelesaian utang Yunani juga menekan IHSG.
BPS menyatakan, inflasi bulanan pada Juni mencapai 0,54 persen, inflasi tahunan 7,26 persen, dan core inflasi 5,04 persen. Realisasi ini dinilai lebih baik dari perkiraan konsensus sebelumnya yaitu 0,65 persen bulanan, 7,4 persen tahunan, dan core inflasi 5,07 persen.
Sementara itu, di tengah volatilitas saham yang membawa IHSG ke level 4.900-an, OJK memperketat pengawasan di BEI. OJK memastikan tidak ada praktik pelanggaran dalam aktivitas perdagangan saham di tengah kondisi yang tidak menentu. Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Pasar Modal OJK, Nurhaida mengatakan, pengawasan agar tidak memicu pelanggaran dalam kegiatan transaksi di pasar modal. “Kami mengawasi lebih ketat di tengah penurunan indeks di bawah5.000 dalam beberapa hari terakhir,” kata Nurhaida
OJK, kata dia, akan menyiapkan sejumlah langkah antisipatif supaya tidak ada potensi pelanggaran atas penurunan IHSG . Ia mengharapkan tidak terjadi pelanggaran yang dilakukan emiten meski terjadi koreksi IHSG.
Menurut OJK, lanjut dia, pelemahan IHSG masih berada pada kategori normal terutama bagi para investor jangka panjang. “Dari krisis manajemen protokolnya OJK masih normal kalau kita lihat meningkat. Walaupun diperhatikan naik turun. Untuk pasar modal naik turun sudah biasa. Pasar modal itu adalah long term investment. Jadi kalau lihat perkembangan pasar modal suatu negara mesti lihat time horizon lebih panjang,” tambahnya.
Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo menyatakan, kalangan pemodal masih belum yakin atas sejumlah sentimen utama di pasar secara global. Harapan arah kejelasan soal penanggulangan utang Yunani, misalnya, telah mendorong kenaikan bursa di Asia. Indeks Nikkei225 Jepang naik 1,26 persen, indeks Kospi Korea Selatan menanjak 0,4 persen, dan indeks Hang Seng Hongkong meningkat 1,2 persen. Hal itu seiring bursa di Eropa yang menanjak hingga 3 persen di awal perdagangan. “Kalau krisis Eropa menemukan solusinya, maka setidaknya akan mengurangi rasa galau pasar,” kata Satrio. Ia memprediksi tren IHSG naik di rentang 5.075-5.100.

















