Stabilitas.id — PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) aktif memperkuat pertahanan lini siber masyarakat, khususnya generasi muda, di tengah lonjakan ancaman kejahatan keuangan digital bermodus canggih. Langkah ini diwujudkan melalui edukasi literasi keuangan daring bertajuk “Tantangan Mengelola Keuangan di Era Digital dan Mawas Terhadap Penipuan Digital”.
Dalam agenda yang menggandeng Himpunan Mahasiswa Hubungan Masyarakat (HIMMAS) UIN Sunan Gunung Djati Bandung tersebut, emiten bank digital ini menyoroti krusialnya kewaspadaan dini terhadap scammers transnasional. Langkah ini juga menjadi bagian dari dukungan perseroan terhadap program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) 2026 yang dicanangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Fraud Operations Head Bank Neo Commerce, Vicky Valentino Frickel, memaparkan bahwa pelaku kejahatan siber saat ini tidak lagi hanya mengandalkan modus konvensional, melainkan sudah memanfaatkan penetrasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
BERITA TERKAIT
“Di era digital yang makin canggih, banyak celah baru yang dimanfaatkan. Banyak kasus terjadi di mana pelaku menggunakan modus penipuan dengan kloning suara (voice cloning) berbasis AI, panggilan video manipulasi wajah (deepfake), hingga metode phishing dan account takeover,” urai Vicky, dikutip Selasa (30/6/2026).
Tembus Rp7,8 Triliun
Tingginya eskalasi serangan siber finansial ini diperkuat oleh data resmi penanganan penipuan oleh Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di bawah naungan OJK. Selama periode setahun operasionalnya (22 November 2024 s.d. 11 November 2025), IASC mencatatkan statistik pergerakan kasus yang masif:
- Total Laporan Masuk: 343.402 laporan penipuan digital.
- Rekening Terindikasi: 563.558 rekening dilaporkan terkait aktivitas scam.
- Tindakan Penegakan Hukum: 106.222 rekening resmi diblokir oleh otoritas.
- Estimasi Kerugian Korban: Mencapai Rp7,8 triliun, dengan total dana yang berhasil diselamatkan (dibekukan) sebesar Rp386,5 miliar.
Melihat urgensi tersebut, Public Relations Head Bank Neo Commerce, Puji Agung Budiman, menegaskan bahwa kemudahan transaksi lewat smartphone harus diimbangi dengan kecerdasan digital (digital savvy) pengguna agar tidak menjadi sasaran empuk kejahatan social engineering.
Respons positif datang dari dunia akademis. Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Enjang Muhaemin, M.Ag., menilai kehadiran praktisi industri perbankan sangat penting untuk melengkapi kurikulum teori mahasiswa di kelas dengan realita dinamika industri terkini.
“Pengalaman praktis langsung dari industri seperti ini merupakan hal komprehensif yang saling melengkapi bagi mahasiswa. Kami berharap kegiatan literasi keuangan ini menjadi pemantik kolaborasi strategis jangka panjang antara UIN Bandung dan Bank Neo Commerce,” tutur Enjang.
Sebagai bank dengan layanan digital nasional yang telah berkiprah selama 36 tahun, Bank Neo Commerce berkomitmen untuk terus memperluas jaringan edukasi melalui kanal neobank dan media sosial resmi. Kemitraan publik-swasta-akademisi dinilai sebagai fondasi utama dalam menciptakan ekosistem keuangan digital nasional yang aman, sehat, dan tepercaya. ***

















