• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 27, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Kembalinya Dilema Itu

by Sandy Romualdus
6 Agustus 2015 - 00:00
27
VIEWS
Kembalinya Dilema Itu
0
SHARES
27
VIEWS

BERITA TERKAIT

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

Otoritas moneter kita agaknya kembali terbelit dilema. Perlambatan ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. Pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 4,7 persen pada pada triwulan pertama 2015, jauh di bawah target sebesar 5,7 persen. Perlambatan ekonomi ini menjadi peluang otoritas moneter untuk menurunkan suku bunga acuannya,BI Rate.
Secara historis, belum pernah terjadi pembaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kondisi pengetatan moneter. Yang lebih sering terjadi adalah ekonomi akan melambat jika BI Rate dinaikkan dan membaik jika BI Rate dilonggarkan.
Namun, persoalannya tak sesederhana itu. Bank Indonesia agaknya belum berani menurunkan BI Rate di tengah nilai tukar rupiah yang masih bergejolak didera tekanan depresiasi. Mazhab lama meyakini bahwa penurunan suku bunga berpotensi memicu pelemahan kurs mata uang nasional yang sudah menembus Rp13.300 per dollar AS dan tekanan depresiasi diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun sepanjang dollar AS terus diburu. Daya tarik pasar keuangan Indonesia bagi investasi portofolio (hot money) asing dikhawatirkan kian berkurang lantaran suku bunga riil (real effective interest rate) terkikis.
Inflasi merangkak naik hingga pada Mei 2015 sebesar 7,15 persen (year-on-year). Angka ini merupakan angka inflasi tertinggi Mei, setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Dengan adanya puasa dan lebaran di bulan Juni dan Juli ini,kemungkinan inflasi pada satu-dua bulan mendatang hanya naik atau stabil, sulit turun. Penurunan harga komoditas, termasuk energi, sejak tahun lalu tampaknya telah berhenti dan ada potensi berbalik naik terutama bila perekonomian negara maju terus membaik secara signifikan.
Moneter Ketat
Pengetatan sejak dua tahun yang lalu itu dilakukan demi menekan defisit transaksi berjalan yang bermula pada akhir 2012. Kombinasi antara rupiah yang lemah dan kebijakan moneter yang ketat diambil Bank Indonesia (BI) untuk mendorong ekspor sekaligus menahan laju impor. Pada triwulan I-2015, defisit transaksi berjalan telah turun menjadi 3,85 miliar dollar AS (triwulan IV-2014: 5,67 miliar dollar AS). Neraca perdagangan—sebagai bagian dari transaksi berjalan—mencatat kenaikan surplus dari 2,45 miliar dollar AS menjadi 3,09 miliar dollar AS pada periode yang sama. Per Mei kemarin, surplus dilaporkan sebesar 0,95 miliar dollar AS (0,45 miliar dollar AS di April ). Itulah mungkin dilema lain yang mendera BI ketika mempertimbangkan penurunan BI Rate saat ini. Mampukah pembaikan neraca perdagangan dan transaksi berjalan berlanjut jika suku bunga dinaikkan dan pertumbuhan ekonomi kembali digenjot?

  • Baca juga: Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

Impossible trinity

Meminjam terminologi moneter dari ekonom Mundell-Flemming, ada semacam impossible trinity (trilema) dalam kebijakan BI di tengah ancaman kembalinya dana asing membeli aset-aset Amerika Serikat menjelang kenaikan suku bunga The Fed. Ada setidaknya tiga tujuan ekonomi makro yang sepintas tidak dapat dipenuhi serentak dalam satu paket kebijakan yang seragam, yakni mendorong pertumbuhan, memperkuat nilai tukar serta memperbaiki neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Adapun dalam ilmu ekonomi moneter internasional, impossible trinity mengacu pada kemustahilan dalam memperoleh tiga kondisi sekaligus: kurs yang stabil, arus modal yang bebas, dan kebijakan moneter yang independen. Keluarnya dana asing alias capital outflow di satu sisi memang menjadi indikasi membaiknya transaksi berjalan.
Defisit pada neraca modal (capital account) suatu negara biasanya mencerminkan transaksi berjalan (current account) yang, sebaliknya, mengalami surplus. Namun, di sisi lain, capital outflow yang menyebabkan turunnya cadangan devisa bank sentral dapat memperlambat pertumbuhan uang beredar di dalam negeri. Cadangan devisa alias net foreign assets (NFA) bersama net domestic assets (NDA) menjadi faktor yang mempengaruhi jumlah uang primer yang beredar (reserve money/base money) di suatu negara. Mengambil persamaan neraca bank sentral, RM atau BM = NFA + NDA. Artinya, bila NFA turun, besar kemungkinan jumlah uang primer (uang inti) juga turun atau setidaknya kenaikannya melambat. Dan turunnya (atau melambatnya kenaikan) jumlah uang primer atau M0 umumnya berkorelasi positif dengan melambatnya aktivitas ekonomi.
Dilema yang serupa, tapi tak sama, pun pernah menggelayuti otoritas moneter kita ketika 2010 silam (baca“Paket Desember 2010 dan Trilema Kebijakan Moneter,” Stabilitas, Januari 2011). BI, yang ketika itu tengah berupaya menekan turun suku bunga kredit, justru harus menaikkan suku bunga acuan karena inflasi merangkak naik menembus 7 persen. Padahal, menaikkan BI Rate dari posisi saat itu 6,5 persen berarti juga menambah biaya bunga yang harus dibayar kepada para pemegang alat-alat moneter.
Intervensi pasar uang dilakukan untuk memborong hot money valas yang masuk. Tambahan likuiditas rupiah akibat intervensi tadi diserap kembali melalui operasi moneter. Demikian besarnya capital inflow ketika itu hingga posisi dana yang diserap dalam alat-alat moneter mencapai hampir Rp400 triliun. BI pun menghadapi semacam trilema: menurunkan suku bunga, mengendalikan inflasi atau menghemat biaya moneter.
Dan kini, ketika dana-dana asing itu hendak kembali ke asalnya, bank sentral kita kembali terbelit dilema, bahkan trilema. Mana yang harus dipilih?

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan
 
 
 
 
 
Previous Post

Beban Di Pundak Tito

Next Post

Pesimisme Yang Berlanjut

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

Efisiensi, Optimalisasi “Captive Market”, dan Kontribusi Ekonomi

by Sandy Romualdus
20 Oktober 2026 - 17:40

Oleh : Mas’ud Said - Penulis buku BPD Resilient, Competitive and Contributive PELUNCURAN Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Indonesia (RP3I)...

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

CBI Luncurkan Empat Solusi Credit Intelligence, Perluas Akses Kredit bagi 137 Juta Calon Debitur

Salurkan KUR Rp144,59 Triliun hingga Agustus 2026, BRI Fokus Biayai Sektor Produksi

Pendaftar Haji Tumbuh 64 Persen, CIMB Niaga Syariah Perkuat Layanan Nasabah di Surabaya

Hampir 30 Tahun Terjebak Middle Income Trap, Kepala Bappenas Dorong Inovasi dan Industri Semikonduktor

Studi Sun Life: 82 Persen Perempuan Generasi Sandwich Terhambat Bangun Ketahanan Finansial

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BUMN Bersihkan dan Hijaukan Kawasan Muara Angke

BUMN Bersihkan dan Hijaukan Kawasan Muara Angke

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance