• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, Agustus 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Asuransi

Belajarlah Hingga ke Negeri Sakura

oleh Sandy Romualdus
12 Februari 2012 - 00:00
13
Dilihat
Belajarlah Hingga ke Negeri Sakura
0
Bagikan
13
Dilihat

Bencana alam yang datang silih berganti, tidak diimbangi oleh jaminan negara dalam memproteksi kerugian akibat bencana yang dialami masyarakat. Pemerintah perlu belajar banyak dari pemerintah Negeri Sakura terkait proteksi kerugian bencana alam.

Oleh : Romualdus San Udika

  • Baca juga: Laba Bersih IFG Life Melonjak 162,9% Jadi Rp 482,12 Miliar di 2025, RBC Terjaga 180,16%

 

BERITA TERKAIT

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Riuh bunyi terompet menyambut tahun baru sudah tak terdengar lagi. Namun bencana alam yang mengikuti pergantian tahun 2011 lalu hingga kini belum juga berhenti. Ya, bencana alam yang mulai akrab dengan Indonesia karena seringnya peristiwa tersebut terjadi seakan tiada hentinya menimpa masyarakat.

Sebut saja bencana banjir, badai, gunung meletus, gempa bumi hingga tsunami sudah mewarnai alam Indonesia sejak beberapa tahun lalu hingga awal tahun ini. Yang terakhir adalah gempa berkekuatan dahsyat 7,6 skala richter (SR) dan berpotensi tsunami yang terjadi di Aceh 11 Januari lalu. Gempa yang juga terasa hingga ke wilayah Bengkulu dan Lampung itu sontak membuat panik warga yang masih trauma akan kejadian tsunami tujuh tahun lalu.

Bencana alam yang terjadi itu tak pelak selalu diikuti oleh kerusakan yang berujung pada kerugian yang dialami manusia. Kerugian-kerugian materi yang jumlahnya tidak sedikit itu sejatinya bisa tidak membuat para korban makin menderita jika saja ada asuransi bencana.

Ya, untuk wilayah seperti Indonesia yang dilalui oleh lempengan bumi yang disebut Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik, gempa memang sangat mungkin bisa terjadi sewaktu-waktu. Karena itulah sangat mengherankan jika hingga kini tak ada satupun asuransi yang meng-cover bencana.

Namun risiko yang tinggi yang dihadapi perusahaan akan membuat biaya asuransi bencana –jika perusahaan akan menerbitkannya–menjadi mahal. Kenyataan itu tentu akan menjadi halangan terbesar bagi masyarakat berpendapatan minim, ditambah dengan kesadaran asuransi yang masih rendah untuk berasuransi. Padahal merekalah kelompok yang biasanya mendominasi jumlah korban bencana alam sekaligus membutuhkan proses recovery dengan biaya yang cukup besar.

Kondisi itu tidak terlihat di Jepang yang juga merupakan negeri yang rawan gempa. Bukti sahih bisa dilihat saat negeri itu saat gempa dahsyat 9 skala richter (SR) di timur laut Jepang pada Maret 2011 lalu. Gempa itu kemudian disusul tsunami hebat yang telah meluluhlantakkan gedung, rumah, dan aset-aset berharga milik warga Jepang, serta reaktor nuklir pemerintah.

Perusahaan simulasi risiko, AIR Worldwide, memprediksi kerugian bencana gempa dan tsunami di Jepang mencapai 35 miliar dollar AS atau sekitar Rp 304 triliun. Itu merupakan bencana termahal dalam sejarah.

Melihat jumlah kerugian dan kerusakan akibat gempa yang begitu dahsyat, pemerintah Jepang cepat bertindak. Bank of Japan sebagai bank sentral langsung mengucurkan dana senilai 183 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.610 triliun ke sistem perekonomian. Langkah itu dilakukan untuk mendorong recovery ekonomi pascagempa dan tsunami tersebut. Pemerintah Jepang juga mengganti rumah-rumah penduduk yang hancur, mengingat perumahan di Jepang memang ditanggung oleh sistem asuransi nasional milik pemerintah.

Oleh karena itu sudah seharusnya, pemerintah Indonesia juga mengikuti langkah yang diterapkan Jepang dalam menangani dampak dari bencana alam, terutama untuk membantu kalangan berpendapatan minim.

Lalu bagaimana pemerintah mengawali langkah meniru model yang penjaminan yang dilakukan Negeri Sakura? Menurut Linda Delhaye, Direktur PT Asuransi Multi Artha Graha (AMAG), langkah awal untuk mewujudkan asuransi bencana adalah dengan masuknya pemerintah sebagai salah satu pembuat regulasi. Menurutnya, instruksi yang nantinya diberikan pemerintah akan langsung berdampak pada pasar sehingga mampu meningkatkan kontribusi premi dari produk asuransi bencana.

  • Baca juga: Jamin Pembiayaan Rp157,3 Triliun untuk 2,28 Juta UMKM, Kinerja Jamkrindo Melesat di Semester I/2026

Saat ini sebenarnya, sudah banyak masyarakat yang meminta adanya asuransi bencana, namun perusahaan asuransi masih takut memenuhinya karena besarnya risiko yang dihadapi. “Banyak permintaan berasal dari daerah yang rawan gempa. Bukannya kami tak mau, kalau pemerintah saja tak membantu, (maka kalau kami penuhi) yang ada justru merugikan untuk pelaku usaha,” kata Linda.

Ketiadaan dukungan pemerintah minimal dalam bentuk penjaminan kepada perusahaan-perusahaan asuransi juga membuat perusahaan yang sudah menawarkan produk asuransi bencana belum bisa meningkatkan pendapatannya.

Julian Noor, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyebutkan, kontribusi pendapatan premi dari produk asuransi bencana sampai saat ini sebesar 2 persen sampai 3 persen saja. Angka tersebut bisa meningkat kalau ada campur tangan pemerintah, baik dari regulasi maupun permodalan.

“Target utama kami adalah agar pemerintah mau masuk ke dalam industri ini. Selama ini hanya dari perusahaan asuransi yang mendukung asuransi bencana. Nah, masyarakat juga tidak akan merasa penting kalau tidak ada instruksi atau campur tangan dari pemerintah,” tegas Julian.

Menurut Julian, salah satu bentuk campur tangan pemerintah adalah membantu industri untuk membuka jalur distribusi pembiayaan asuransi bagi si miskin melalui konsep micro-insurance. Selama ini industri dihadapkan persoalan mahalnya investasi pembukaan jalur distribusi untuk asuransi mikro.

Jadi Reasuransi

Sementara itu, jika serius ingin meniru apa yang dilakukan Jepang, Kornelius Simanjuntak, Ketua Umum AAUI mengatakan, mengusulkan agar pemerintah menjadi reasuradur yaitu pihak yang menerima pertanggungan ulang dari suatu penutupan asuransi.

“Produk asuransi bencana alam yang didukung penuh oleh pemerintahnya dapat dilihat dari reasuradur yang seluruh modalnya didapat dari negara,” tukas Cornelius sekaligus menjelaskan bahwa reasuradur yang didukung pemerintah mempengaruhi harga premi yang ditetapkan oleh para pelaku menjadi lebih murah.

Nah, jika pemerintah bisa menjamin sepenuhnya modal perusahaan reasuransi maka harga premi asuransi bencana akan bisa ditekan ke level yang bisa dijangkau masyarakat. Saat ini premi yang berlaku di pasar saat ini berkisar antara 2 permil hingga sekitar 2 persen dari total harga bangunan yang diasuransikan. Harga tersebut masih bisa lebih mahal atau lebih murah tergantung dari wilayahnya. Namun harga premi bisa lebih murah lagi kalau peserta yang ikut dalam produk asuransi bencana alam lebih banyak lagi.

Selama ini pelaku asuransi bencana di Tanah Air masih mengandalkan perusahaan reasuransi asing. Kondisi itu bisa membuat harga premi lebih mahal lagi karena penghitungan asuransi bencana alam tidak hanya dari dalam negeri melainkan juga dari luar negeri. “Pemberian premi ke luar negeri tadi mempengaruhi harga premi yang dibayarkan karena kalau di negara lain ada bencana efeknya juga akan kena terhadap harga premi bencana di dalam negeri,” jelas Konelius.

  • Baca juga: Sabet Empat Penghargaan hingga Juli 2026, BRI Life Perkuat Transformasi Digital dan GCG

Kalau pemerintah mendukung sepenuhnya modal perusahaan reasuradur di dalam negeri, tentunya harga premi tidak akan terpengaruh dengan bencana di luar negeri dan karenanya bisa lebih murah.

Jadi tunggu apalagi, belajarlah asuransi bencana sampai ke Negeri Sakura. SP

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Membatasi Sekaligus Mengarahkan

Selanjutnya

Bank Kian Tidak Efisien Tanpa Outsourcing

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Laba Bersih IFG Life Melonjak 162,9% Jadi Rp 482,12 Miliar di 2025, RBC Terjaga 180,16%

Laba Bersih IFG Life Melonjak 162,9% Jadi Rp 482,12 Miliar di 2025, RBC Terjaga 180,16%

oleh Stella Gracia
13 Agustus 2026 - 17:13

IFG Life bukukan laba bersih Rp 482,12 miliar di 2025 (naik 162,9%). Pendapatan jasa asuransi capai Rp 6,56 triliun &...

Jamin Pembiayaan Rp157,3 Triliun untuk 2,28 Juta UMKM, Kinerja Jamkrindo Melesat di Semester I/2026

Jamin Pembiayaan Rp157,3 Triliun untuk 2,28 Juta UMKM, Kinerja Jamkrindo Melesat di Semester I/2026

oleh Sandy Romualdus
7 Agustus 2026 - 18:07

Jamkrindo raih laba sebelum pajak Rp743,23 miliar di Semester I/2026, melonjak 34,7% YoY. Volume penjaminan tembus Rp157,3 triliun untuk 2,28...

Sabet Empat Penghargaan hingga Juli 2026, BRI Life Perkuat Transformasi Digital dan GCG

Sabet Empat Penghargaan hingga Juli 2026, BRI Life Perkuat Transformasi Digital dan GCG

oleh Sandy Romualdus
3 Agustus 2026 - 15:14

BRI Life borong empat penghargaan nasional dan internasional hingga Juli 2026, termasuk Insurance Asia Awards 2026 di Singapura. Stabilitas.id -...

Satu Dekade Beruntun, Tugu Insurance (TUGU) Pertahankan Rating Internasional ‘A- Excellent’

Laba Bersih Tugu Insurance (TUGU) Melesat 76,87% Jadi Rp 480,29 Miliar di H1 2026

oleh Sandy Romualdus
3 Agustus 2026 - 15:09

Laba bersih Tugu Insurance (TUGU) melesat 76,87% YoY menjadi Rp 480,29 miliar pada Semester I 2026. Hasil jasa asuransi melonjak...

Melampaui 328% Target, Askrindo Meraup Laba Bersih Rp 1,69 Triliun pada 2025

Melampaui 328% Target, Askrindo Meraup Laba Bersih Rp 1,69 Triliun pada 2025

oleh Sandy Romualdus
3 Agustus 2026 - 15:05

Askrindo (IFG) membukukan laba bersih konsolidasi Rp 1,69 triliun pada 2025, melampaui 328% dari target. Total aset tembus Rp 31...

Kelola Proyek Sampah Rp86 Triliun, Denera Bidik IPO pada 2028

Pangkas 12 Entitas Asuransi BUMN, Danantara dan IFG Soroti Bahaya Misinvestment

oleh Stella Gracia
24 Juli 2026 - 17:09

Danantara dan IFG pangkas 12 entitas asuransi & penjaminan BUMN. COO Danantara Dony Oskaria soroti ancaman misinvestment dan portofolio properti....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

Gelar Pameran Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Sabet Rekor MURI

Permodalan Negatif dan Gagal Penyehatan, OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Memaknai Angka 50 Tahun

Memaknai Angka 50 Tahun

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance