JAKARTA, Stabilitas.id – Industri semen memiliki peran sentral dalam mendukung pembangunan nasional, sekaligus menjadi tantangan besar bagi Indonesia dalam upaya mencapai target net zero emission pada 2060. Pasalnya, sektor industri, termasuk semen, menyumbang sekitar 22% dari total emisi gas rumah kaca pada 2020.
Pemerintah telah menetapkan peta jalan transisi energi yang ambisius, yakni menurunkan emisi hingga 29% dengan usaha sendiri atau 41% dengan dukungan internasional pada 2030 dari level 2010. Salah satu strateginya adalah mendorong penggunaan energi terbarukan serta pemanfaatan bahan bakar alternatif di industri semen, yang dikenal sebagai salah satu penyumbang karbon terbesar di dunia.
PT Cemindo Gemilang Tbk, produsen Semen Merah Putih, menjadi salah satu pelopor transformasi hijau di industri semen Indonesia. Sejak awal, perusahaan menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas utama dalam setiap rantai produksinya, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi.
BERITA TERKAIT
Pada 2023, pabrik Semen Merah Putih di Bayah berhasil menurunkan emisi CO₂ spesifik bersih sebesar 5% dibandingkan 2022, yakni dari 633 kg menjadi 603 kg CO₂ per ton setara semen. Artinya, setiap ton semen yang diproduksi mengeluarkan 30 kg CO₂ lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
“Langkah ini menegaskan komitmen kami untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke energi yang lebih berkelanjutan,” ujar Oza Guswara, GM Sales & Marketing PT Cemindo Gemilang Tbk.
Selain itu, pemanfaatan teknologi Waste Heat Recovery System (WHRS) di pabrik Bayah juga menghasilkan 85.702 MWh listrik pada 2023, memanfaatkan panas buangan dari proses produksi untuk pembangkitan energi ramah lingkungan.
Target 2025: Kurangi 70.000 Ton CO₂
Upaya berlanjut dengan penambahan instalasi Alternative Fuels Feeding (AF) pada kalsiner di Kiln guna meningkatkan Thermal Substitution Rate (TSR) hingga 5% pada 2024. Langkah ini diperkirakan mampu mengurangi emisi CO₂ hingga 70.000 ton, melalui pemanfaatan biomassa dan refuse-derived fuel (RDF) sebagai pengganti batu bara.
Investasi lain juga diarahkan untuk elektrifikasi kendaraan operasional, dengan mengganti truk dan forklift berbahan bakar diesel menjadi listrik.
“Secara strategis, kami terus mengoptimalkan inovasi dan teknologi dengan penggunaan bahan bakar alternatif dalam proses produksi, sekaligus meningkatkan kualitas HSSE untuk manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” tambah Oza.
Pengakuan Internasional
Komitmen ini mendapat pengakuan global melalui WCA Climate Action Award 2024 dari World Cement Association (WCA). Penghargaan tersebut merupakan kali kedua diraih Semen Merah Putih dengan kategori Continuing Progress in Climate Actions.
Surindro Kalbu Adi, Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan bukti nyata komitmen perusahaan. “Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Semen Merah Putih untuk terus berinovasi dan meningkatkan kinerja lingkungan di masa depan,” ujarnya.
Semen Merah Putih bertekad memperkuat perannya dalam transisi hijau Indonesia. Perusahaan akan terus berinvestasi dalam teknologi modern, mengembangkan produk ramah lingkungan, mengelola limbah secara bertanggung jawab, hingga memperluas penggunaan kendaraan listrik.
Lebih jauh, Semen Merah Putih juga menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak. “Tantangan lingkungan saat ini sangat kompleks. Dengan kolaborasi, inovasi, dan komitmen kuat, kami yakin bisa menciptakan masa depan berkelanjutan bagi industri semen dan lingkungan hidup,” pungkas Surindro. ***

















