Standard Chartered menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 jadi 5,3%. Kontras dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang dipangkas ke 3,0%.
Stabilitas.id – Bank internasional Standard Chartered merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5,3%, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,2%. Revisi optimistis ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik serta laju investasi yang berlanjut di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global.
Kenaikan proyeksi ekonomi Indonesia ini bertolak belakang dengan kondisi global. Dalam ajang Global Research Briefing (GRB) Semester II-2026 bertajuk A Test of Resilience di Jakarta, Standard Chartered justru memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3,0% dari estimasi sebelumnya sebesar 3,4%.
Pelemahan prospek global dipicu oleh tereskalasinya konflik geopolitik di Timur Tengah, volatilitas harga energi, ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional, serta tingginya premi risiko pasar keuangan dunia.
Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Swasta Jadi Penopang Utama
Senior Economist Standard Chartered Indonesia, Aldian Taloputra menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia diperkirakan tetap menjadi salah satu yang paling tangguh di kawasan ASEAN dan Asia Selatan, bersanding dengan India yang tidak terlalu bergantung pada pasar ekspor eksternal.
“Kami meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,3% dari sebelumnya 5,2% pada 2026, terutama ditopang oleh permintaan domestik dan investasi,” kata Aldian dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Aldian menambahkan bahwa konsumsi rumah tangga tetap terakselerasi berkat daya beli masyarakat yang terjaga, kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif, serta stimulus program prioritas nasional. Dari sisi investasi, sektor hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur pangan dan energi, investasi digital, serta proyek strategis nasional (PSN) terus menjadi pendorong utama.
Standard Chartered juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan investasi swasta dan Foreign Direct Investment (FDI) untuk menutupi ruang fiskal pemerintah yang kian terbatas, mengingat total utang pemerintah dilaporkan menembus Rp 10.293 triliun per Juni 2026 (rasio 41,26% terhadap PDB).
Inflasi Terjaga dan Arah Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Meskipun terdapat risiko tekanan inflasi impor (imported inflation) akibat gejolak harga energi global, Standard Chartered memperkirakan inflasi Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 3,4%. Tingkat inflasi ini dinilai masih berada dalam koridor sasaran Bank Indonesia sehingga tidak menggerus daya beli masyarakat secara signifikan.
Ditinjau dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) diproyeksikan bakal tetap berhati-hati (cautious) dalam menetapkan arah suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. BI diperkirakan lebih mengoptimalkan instrumen makroprudensial dan penyediaan likuiditas untuk mendukung saluran kredit perbankan.
Reorganisasi Rantai Pasok Lintas Negara dan Pembiayaan Berkelanjutan
Head of Corporate & Investment Banking Standard Chartered Indonesia, Amit Verma menambahkan bahwa pergeseran peta geopolitik global telah mendorong korporasi multinasional melakukan diversifikasi rantai pasok (supply chain relocation) dan memperluas investasi lintas negara.
“Indonesia berada pada posisi yang sangat menguntungkan untuk memanfaatkan perubahan struktural tersebut. Kebutuhan dunia usaha saat ini berkembang pesat, tidak hanya pada pembiayaan konvensional, tetapi mencakup solusi treasury, pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance), hingga pembiayaan lintas batas (cross-border financing),” jelas Amit.
Standard Chartered menegaskan kesiapannya dalam mendampingi korporasi Indonesia mengakses sumber pendanaan global, memitigasi risiko keuangan, serta memfasilitasi ekspansi bisnis di pasar regional maupun internasional. ***
Ringkasan Proyeksi Makroekonomi & Indikator Finansial Standard Chartered (2026)
| Parameter Ekonomi & Indikator | Proyeksi Lama | Proyeksi Baru (2026) | Faktor Pendorong Utama / Catatan Risiko |
| Pertumbuhan Ekonomi Indonesia | 5,2% | 5,3% | Konsumsi rumah tangga solid, hilirisasi, FDI, & belanja proyek prioritas. |
| Pertumbuhan Ekonomi Global | 3,4% | 3,0% | Geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga energi, & fragmentasi perdagangan. |
| Proyeksi Inflasi Indonesia | – | 3,4% | Terjaga dalam sasaran BI, meski dibayangi kenaikan biaya impor energi. |
| Kebijakan Moneter Bank Indonesia | – | Berhati-hati (Prudent) | Menjaga stabilitas Rupiah & mendorong kredit lewat makroprudensial. |
| Fokus Pembiayaan Korporasi | – | Cross-Border & ESG | Sustainable finance, solusi treasury, & relokasi rantai pasok global. |

















