• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Internasional

Eropa dalam Zona Merah

by Sandy Romualdus
14 November 2011 - 00:00
14
VIEWS
Eropa dalam Zona Merah
0
SHARES
14
VIEWS

Tidak adanya penyelesaian yang cepat atas krisis finansial di kawasan bermata uang euro mulai berdampak pada sektor perbankan di Eropa. Perbankan di area tersebut tampaknya akan menjalankan program rekapitalisasi yang akan berdampak pada ekonomi Asia.

 

  • Baca juga: Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

Oleh: Ainur Rahman

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

 

Saat ini hampir semua mata pengambil keputusan bidang ekonomi tengah mengarahkan pandangannya ke wilayah Eropa sambil harap-harap cemas mengenai apa yang bakal terjadi di kawasan bermata uang euro itu.

Krisis Eropa yang dipicu oleh membengkaknya utang beberapa negara di area kini tengah memasuki tahapan yang paling krusial sejak pertama kali meletup pasca krisis keuangan 2008. Sejatinya upaya penyelesaian krisis zona euro telah dilakukan oleh Uni Eropa. Namun penyelesaian yang berkepanjangan dan terkesan setengah-setengah, makin memunculkan ketidakpastian bagi perekonomian dunia.

Negara-negara lain tentu khawatir kondisi di kawasan yang menguasai 27 persen produk domestik bruto dunia akan memburuk dan menyebar. Apalagi beberapa kebijakan yang ditelurkan oleh Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (European Financial Stability Facility /EFSF) beberapa bulan lalu tampaknya mubazir. Lembaga itu telah memutuskan bailout kedua untuk Yunani, rekapitalisasi bank dan fleksibilitas lebih untuk EFSF dalam memberikan bantuan.

Upaya terakhir dalam penyelesaian krisis zona adalah dikucurkannya dana segar sebesar 440 miliar euro atau setara dengan 603 miliar dollar AS dan direncanakan ada 2.000 miliar euro lagi untuk menambal kekurangan dana awal itu. Dana 440 miliar euro atau lebih dari Rp5.368 triliun bisa digunakan sebagai asuransi bagi negara-negara bermasalah yang menerbitkan surat utang.

Namun demikian hingga kini belum ada hasil menggembirakan dari langkah-langkah yang diambil otoritas Eropa itu. Bahkan perbedaan yang mencuat antara pengambil sisi politik dan ekonomi membuat proses pencarian solusi krisis makin masuk lagi ke dalam ruang yang gelap.

Persoalan mata uang memang menjadi urusan kawasan Eropa sebagai sebuah kesatuan, tapi anggaran dan persoalan ekonomi hanya sebagian saja yang terintegrasi. Masing-masing negara pun ingin membatasi tanggung jawab dalam menanggung utang negara lain dan untuk mencegah campur tangan negara lainnya dalam kebijakan ekonomi.

Itulah yang menyebabkan hingga kini, tanda-tanda perbaikan belum juga terlihat dan makin menambah kecemasan para pemimpin dunia. Tak heran jika banyak pihak yang memperkirakan bahwa krisis di Eropa ini akan lebih dahsyat dari yang terjadi di AS pada 2008 silam.

Awal krisis di zona euro ini berasal dari pemerintahan baru Yunani yang ketahuan mengalami defisit anggaran sebesar 14 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kondisi itu tentunya membawa Yunani ke tepi jurang gagal bayar (default). Parahnya lagi, rasio tersebut dalam beberapa waktu tidak membaik malah membengkak hingga mencapai 143 persen. Utangnya menumpuk sampai 328 miliar euro. Kondisi ini tentu memprihatinkan jika melihat pertumbuhan rata-rata tahun 1995-2008 mencapai 3,6 persen kemudian sejak tahun 2009 sampai 2015 diramalkan -3 persen.

Portugal juga menjadi masalah di zona euro ini. Negeri ini tergolong sakit secara ekonomi. Rasio utang terhadap PDB pada 2010 mencapai 93 persen dengan utang menggunung sampai 195 miliar euro. Defisit anggarannya mencapai -9,1 persen terhadap PDB.  Pertumbuhannya jika dipakai standar tahun 1995-2008 rata-rata 2,2 persen, maka 2009-2015 akan mengalami -1,5 persen.

Irlandia juga masuk jurang krisis ekonomi dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 96,2 persen. Utangnya juga besar, mencapai 148 miliar euro dengan defisit anggaran -32,4 persen terhadap PDB. Sampai 2008, Irlandia menikmati pertumbuhan cukup tinggi untuk skala Eropa, yakni 6,5 persen. Proyeksi setelah itu adalah 0,5 persen.

  • Baca juga: Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Spanyol juga masuk dalam zona merah krisis finansial. Negara matador mengalami prahara ekonomi dengan rasio utangnya terhadap PDB pada 2010 sebesar 60,1 persen. Jumlah total utang Spanyol mencapai 638 miliar euro dengan angka defisit -9,2 persen. Pertumbuhan tahun 2009- 2015 diperkirakan tidak mencapai angka minus, tetapi rendah sekali, yakni 0,8 persen, padahal sebelumnya antara 1995 dan 2008 rata-rata mencapai 3,5 persen.

Italia juga mengalami hal sama. Rasio utang terhadap PDB adalah 119 persen dengan utang mencapai hampir 1,9 triliun euro ditambah defisit mencapai -4,6 persen terhadap PDB. Jika Yunani yang skalanya kecil bisa diberi talangan, sulit sekali di atas kertas mau membantu Italia dengan dana talangan mengingat utangnya menggunung.

Menjalar ke Perbankan

Krisis yang masih mendera Eropa itu sekarang mulai menjalar ke urat nadi perekonomian. Hal itu diakui oleh Menteri Keuangan Jeman Wolfgang Schaeuble mengingat bank-bank di Eropa banyak yang memarkirkan dananya di negara yang terkena krisis.

Deutsche Bank, salah satu bank terbesar di Jerman diprediksi mengalami penurunan profit menjadi 10 miliar euro selama kuartal ketiga. Prediksi tersebut didasari oleh adanya laporan tertahannya dana sebesar 250 juta euro akibat kredit macet yang terjadi di Yunani.

Bank patungan Belgia dan Prancis, Bank Dexia jadi target penyelamatan karena prospek pertumbuhannya yang kurang bagus akibat gagal bayar Yunani. Bank Dexia selama kuartal ketiga tahun 2011 diperkirakan akan mengalami kerugian hingga 4 miliar euro dan sahamnya terus melorot lebih dari 22 persen, sebuah level kerugian terbesar sepanjang sejarah.

Dua bank Perancis, BNP Paribas dan Societe Generale juga mencatat kerugian 1,2 milyar dolar. Analis keuangan mengatakan kedua bank itu dan bank lainnya di Eropa bisa rugi lebih besar lagi jika krisis Yunani tidak teratasi dan hutang di benua itu menyebar ke pemerintah-pemerintah lain.

Bank-bank Eropa mulai bertindak mengurangi aset-aset yang “beracun” termasuk uang yang parkir di obligasi Yunani. Menurut Komisioner Uni Eropa Bidang Kerja Sama Keuangan Olli Rehn, posisi perbankan Eropa harus diperkuat dengan memberikan garansi keamanan tambahan guna mengurangi ketidakpastian di sektor keuangan.

Untuk memperkuat permodalan perbankan, Eropa kini sedang dalam tahap rencana pemimpin Uni Eropa. Kanselir Jerman Angela Markel dan Presiden Prancis usai melakukan pertemuan dengan pemimpin Eropa mengatakan berencana menjalankan program rekapitalisasi perbankan untuk menangkal krisis.

European Systemic Risk Board (ESRB), dewan Eropa yang menilai ekonomi terkait risiko sistemik menilai bahwa keputusan mengenai restrukturisasi perbankan dan dana bailout akan memainkan peranan penting dalam memutus rangkaian penyakit keuangan Eropa.

Namun imbas krisis itu menggema lebih jauh lagi hingga ke Asia. Perbankan di Eropa diprediksi akan memicu aksi jual atas aset-aset Asia. Menurut Dana Moneter International (IMF), hal itu akan memicu bank asing untuk memangkas penyaluran kredit ke kawasan regional dan mengganggu kestabilan pasar mata uang Asia.

Dalam hasil riset resmi yang dipublikasikan, IMF menulis, pertumbuhan Asia mencatatkan perlambatan sejak kuartal II 2011. Hal itu menyebabkan IMF memangkas estimasi pertumbuhan tahun ini menjadi 6,3 persen dari prediksi April sebesar 6,8 persen. Tidak hanya itu saja, tekanan inflasi di Asia masih akan terus meningkat dan kondisi finansial masih akomodatif.

  • Baca juga: Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

“Peningkatan guncangan finansial di kawasan Eropa dan perlambatan ekonomi AS akan memukul perekonomian makro termasuk di dalamnya Asia,” jelas IMF. Dalam analisanya, IMF juga menulis, sejak 2009, investor dari negara-negara maju sudah membangun posisi investasi di Asia. “Adanya likuidasi secara tiba-tiba atas posisi tersebut bisa memicu hilangnya kepercayaan. Guncangan tersebut juga dapat menyebar dari pasar obligasi, saham, mata uang, ke pasar lainnya,” kata pernyataan resmi tersebut.

Kenyataan tersebut tentunya makin membuat mata para pengambil keputusan dan investor makin tak berkedip memperhatikan setiap detik perkembangan yang terjadi di kawasan Eropa. Tentu sambil berharap agar kecemasan tidak makin meningkat. SP

 
 
 
 
 
Previous Post

Licinnya Prospek “Emas Cair”

Next Post

Rekonfigurasi Radikal Sebuah Tunggangan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

by Stella Gracia
8 Oktober 2026 - 11:49

Korea Selatan menyelidiki pembobolan data 68.000 nasabah di tujuh bank terkemuka akibat serangan siber otomatis berbasis Artex AI. Stabilitas.id - Pemerintah...

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:11

Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen pada kuartal III/2026 ditopang ekspor dan investasi, memicu ADB merevisi proyeksi pertumbuhan tahunan menjadi 7,8...

Setahun Berjalan, Bullion Bank Pegadaian dan BSI Himpun 153 Ton Emas

Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

by Stella Gracia
23 September 2026 - 10:36

Tiongkok membukukan rekor impor emas melampaui 1.000 ton senilai Rp2.811 triliun. Manuver ini menjadi langkah mitigasi risiko seiring kolapsnya properti...

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

by Stella Gracia
22 September 2026 - 10:49

IMF membunyikan alarm terkait rasio utang publik global yang akan melampaui 100% PDB pada 2029. Investor mulai rekalibrasi portofolio menjauhi...

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

Lawan Intervensi Trump, The Fed Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 4 Persen

by Stella Gracia
18 September 2026 - 18:14

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75-4,00 persen demi menekan inflasi, mengabaikan kritik dan desakan Presiden Donald...

Deeskalasi Timur Tengah: Trump Tangguhkan Serangan, Iran Ajukan Proposal 10 Poin

Ambisi Trump di Ladang Emas Hitam: Bayang-Bayang Skenario Venezuela di Tanah Persia

by Stella Gracia
14 September 2026 - 14:48

Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih kendali minyak Iran mengadopsi skenario kesepakatan Venezuela, di tengah memanasnya konflik Selat...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Ketika Risiko Harus Dikelola

Ketika Risiko Harus Dikelola

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance