• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Minggu, Mei 10, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Kolom

Fenomena Flexing : Tantangan dan Solusi bagi Generasi Millenial

oleh Sandy Romualdus
19 Mei 2022 - 12:09
1.4k
Dilihat
Fenomena Flexing : Tantangan dan Solusi bagi Generasi Millenial
0
Bagikan
1.4k
Dilihat

Oleh : Aulianita Nurwidya, Reserch and Produk Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI)

Di era serba digital saat ini, hampir semua orang menggunakan sosial media. Anak-anak hingga orang dewasa tak luput memanfaatkannya sebagai ruang ekspresi diri. Namun tidak jarang tindakan itu menadi pisau bermata dua

Belakangan ini ramai beredar di sosial media tentang influencer atau orang yang memiliki banyak followers kerap membagikan konten-konten yang memamerkan kekayaan mereka. Berada di sebuah jet pribadi, dikelilingi gepokan uang, menunjukkan saldo ATM, mengenakan outfit dengan harga selangit dan lain sebagainya

Perilaku menampilkan kehidupan mewah demi mendapatkan penilaian dari masyarakat dikenal dengan istilah “flexing”. Secara harfiah, flexing didefinisikan sebagai perilaku menyombongkan diri dengan memamerkan sesuatu yang berhubungan dengan kekayaan atau kemewahan. Mengutip definisi dari National Youth Council of Singapore, flexing adalah budaya ingin dilihat atau diperhatikan orang lain dengan barang-barang mahal yang menunjukkan bahwa kita mampu untuk membelinya. Sedangkan Cambridge Dictionary menyebutkan bahwa flexing merupakan perilaku yang menunjukkan bahwa kita bangga atau senang dengan apa yang kita miliki dan kita lakukan.

BERITA TERKAIT

SESPIBANK® 82 Gandeng EDHEC Business School Paris, LPPI Pertajam Kompetensi Global Bankir Senior Indonesia

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

LPPI Gelar Virsem#107 ‘Hijrah Finansial’, Dorong Perbankan Syariah Bidik Rasionalitas Ekonomi

Pacu Blueprint 2030, BI dan OJK Jadikan PIDI ‘Engine’ Inovasi Talenta Digital

Fenomena flexing itu dinilai menjadi masalah. Paling tidak ada dua alasan. Pertama adalah semakin memperlihatkan financial gap yang terjadi dimasyarakat. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sebenarnya kekayaan itu hanya dimiliki oleh segelintir orang. Ada sebagian masyarakat kita yang masih tidak tahu hari ini mau makan apa, bahkan masih banyak orang yang bingung hari ini bisa makan atau tidak.

Alasan yang kedua adalah gaya hidup yang materialistis, manipulatif dan serba instan yang dijadikan sebagai tontonan. Semakin sering kita melihat sesuatu, maka alam bawah sadar kita juga akan membenarkan itu sebagai sesuatu yang biasa dan pada akhirnya bisa menjadi lifestyle atau gaya hidup kita. Gaya hidup yang di ukur dari materi, secara tidak langsung akan menjadi tontonan dan dapat membentuk karakter seseorang. Menurut American Psychological Association, semakin materialistis seseorang maka akan semakin sulit merasakan emosi positif, sulit untuk berempati, mudah stress dan depresi hingga dapat menyebabkan penurunan kondisi fisik jika tidak mendapatkan life balance yang baik dari lingkungan sekitar.

Memang tidak ada yang salah dari memamerkan kekayaan, namun sisi materialistis yang dipertontonkan apalagi jika manipulatif, akan membuat generasi kita atau generasi penerus kita terbiasa untuk melakukan hal yang sama. Bukan tidak mungkin jika mereka terinspirasi dan menjadikannya target serta tujuan hidupnya. Terlebih saat pandemi, banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi, akhirnya ingin meniru jalan sukses para crazy rich yang cenderung instan tanpa mau melihat prosesnya. Padahal yang mahal dari sebuah pencapaian justru prosesnya. Yang mahal dari seorang pendaki adalah cerita pada saat mendaki, apa saja yang mereka lihat, apa saja yang mereka lakukan dan apa tantangan yang harus mereka hadapi saat mendaki. Namun, dengan adanya fenomena flexing ini, generasi muda cenderung semakin mendapatkan pembenaran untuk memperoleh semuanya dengan cara yang instan.

Lalu, bagaimana supaya kita tidak terjebak dengan fenomena flexing? Pertama, adalah berfikir kritis. Dasar dari berfikir kritis adalah skepticism, yaitu sikap mempertanyakan atau mencurigai segala sesuatu karena semua bersifat tidak pasti. Saat kita menerima informasi, maka sebaiknya kita analisa terlebih dulu sebelum merespons dan mengikutinya. Pertanyakan dulu sumbernya dari mana, dapat dipertanggungkawabkan atau tidak. Dengan kita mencoba untuk berpikir kritis, paling tidak apapun keputusan yang kita ambil berdasarkan logika, bukan berdasarkan emosi semata.

Kedua, kerjakan apa yang kita ketahui, bukan sekedar ikut-ikutan. Apalagi terkait finansial, kita perlu mempelajarinya lebih dulu dan harus terus meng-upgrade pengetahuan tentang finansial supaya tidak terjebak flexing-flexing yang semakin marak terjadi belakangan ini.

Ketiga, stop mencari validasi dari orang lain. Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sidiq Hari Madya menyatakan bahwa salah satu penyebab orang mengikuti flex culture adalah ingin memenuhi imajinasi audiens baik di sosial media maupun di dunia nyata. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa flex culture adalah hasil dari pencarian kita yang terlalu tinggi terhadap validasi dari orang lain terhadap kita. Kita hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain dan membuat semua orang senang. Terakhir, hal yang harus kita lakukan tentu saja adalah mem-filter sosial media kita. Kita harus mampu mengendalikan diri dalam menggunakan sosial media yang kita miliki.

Dengan demikian, sebagai generasi muda sudah seharusnya kita tidak terjebak dengan fenomena flexing. Pada hakikatnya generasi mudalah yang akan menjadi penggerak roda kehidupan bangsa. Tidak sepantasnya generasi yang justru menjadi tonggak harapan bangsa terbuai hasrat validasi hedonisme. Menjadi kaya memang tidak salah, namun menunjukkan kepada orang lain secara berlebihan, apalagi sampai memanipulasi keadaan adalah kondisi yang perlu kita cermati dan kritisi. Fokuslah untuk bertumbuh dan menyebarkan energi yang positif untuk lingkungan sekitar.***

Tags: Aulianita NurwidyaFenomena FlexingFlexingGenerasi MillenialKolom LPPILPPI
 
 
 
 
Sebelumnya

Favorit! Transfer BI-Fast di Bank Mandiri Tembus 35 Juta Transaksi

Selanjutnya

Kinerja Cemerlang Saat Pandemi, Bank DKI Raih Penghargaan TOP BUMD 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:16

Oleh : Dr. Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Tanggal 18 Maret 2025 pasar...

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

oleh Stella Gracia
26 Juni 2024 - 15:05

Oleh Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik dan Ekonom UPN Veteran Jakarta Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan oleh serangan siber besar-besaran...

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

oleh Sandy Romualdus
21 September 2023 - 16:34

Oleh Ahmed Zulfikar, Relationship Manager LPPI SAAT ini isu perubahan iklim telah menjadi topik hangat yang hampir selalu dibahas dalam...

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

oleh Sandy Romualdus
11 Agustus 2023 - 12:32

Oleh : Novita Yuniarti, Assistant Programmer LPPI SERANGAN siber memiliki dampak yang serius dan menjadi isu kritis dalam digitalisasi keuangan...

Kilas Balik Pandemi COVID-19: Strategi Cermat India yang Terhambat Sistem Pasar Obat-Obatan Dunia

Kilas Balik Pandemi COVID-19: Strategi Cermat India yang Terhambat Sistem Pasar Obat-Obatan Dunia

oleh Sandy Romualdus
3 Juni 2023 - 20:20

Oleh : Baiq Shafira Salsabila, Diospyros Pieter Raphael Suitela, Muhammad Faiz Ramadhan * INDIA adalah salah satu negara berkembang dengan industri farmasi terbesar...

Fenomena Bank Digital: Tren Naik, Harus Diimbangi dengan Literasi Digital

Transformasi Digital vs Literasi Digital

oleh Sandy Romualdus
14 Februari 2023 - 08:10

Oleh Danal Meizantaka Daeanza - Assistant Programmer LPPI Perubahan yang terjadi di dunia selama satu dekade belakangan ini sangat signifikan....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    Romy Wijayanto Resmi Terpilih Jadi Direktur Utama Bankaltimtara 2026-2030

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • CIMB Niaga (BNGA) Tebar Dividen Rp4,07 Triliun, Angkat Budiman Tanjung Jadi Direktur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPST Bank Jateng Angkat Bambang Widiyatmoko Jadi Dirut, Adnas Jabat Komut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manajemen Kinerja Kualitatif vs Kuantitatif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Minta BNI Tuntaskan Kasus Penyimpangan Dana Nasabah KCP Aek Nabara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPST BRI 2026: Setujui Dividen Rp52,1 Triliun, Setara 92 Persen dari Laba Bersih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

BTN Bikin Layanan Publik Pemkab Tapanuli Utara Makin Modern

SIG (SMGR) Alokasikan Seluruh Laba 2025 untuk Dividen, Intip Kinerja Kuartal I/2026

Laba Melesat 236%, Sun Life Indonesia Rilis Solusi Kesehatan Syariah ‘SHIFA Signature’

Garap Pasar Jawa Barat, CIMB Niaga (BNGA) Gandeng 70 Agen Properti di Bandung

Jaga Daya Beli, Menkeu Purbaya Siapkan Stimulus Ekonomi Tambahan di Kuartal II/2026

Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Pemerintah Siapkan Jurus ‘Currency Swap’

Target Pertumbuhan Ekonomi 2027 Dipatok 7,5%, Bappenas Siapkan Rp625 Triliun

Ekspansi ‘Hyperscale’, DCI Indonesia (DCII) Raih Kredit Rp17 Triliun dari BCA

Tanpa Bayar Premi, Nasabah Payroll Permata Bank Kini Otomatis Terlindungi Astra Life

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
Kinerja Cemerlang Saat Pandemi, Bank DKI Raih Penghargaan TOP BUMD 2022

Kinerja Cemerlang Saat Pandemi, Bank DKI Raih Penghargaan TOP BUMD 2022

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance