• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Sabtu, Oktober 17, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Fenomena Flexing : Tantangan dan Solusi bagi Generasi Millenial

by Sandy Romualdus
19 Mei 2022 - 12:09
1.4k
VIEWS
Fenomena Flexing : Tantangan dan Solusi bagi Generasi Millenial
0
SHARES
1.4k
VIEWS

Oleh : Aulianita Nurwidya, Reserch and Produk Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI)

Di era serba digital saat ini, hampir semua orang menggunakan sosial media. Anak-anak hingga orang dewasa tak luput memanfaatkannya sebagai ruang ekspresi diri. Namun tidak jarang tindakan itu menadi pisau bermata dua

  • Baca juga: Cetak Pemimpin Bank Berwawasan Global: LPPI Resmi Tutup Program Sespibank Angkatan 83

Belakangan ini ramai beredar di sosial media tentang influencer atau orang yang memiliki banyak followers kerap membagikan konten-konten yang memamerkan kekayaan mereka. Berada di sebuah jet pribadi, dikelilingi gepokan uang, menunjukkan saldo ATM, mengenakan outfit dengan harga selangit dan lain sebagainya

Perilaku menampilkan kehidupan mewah demi mendapatkan penilaian dari masyarakat dikenal dengan istilah “flexing”. Secara harfiah, flexing didefinisikan sebagai perilaku menyombongkan diri dengan memamerkan sesuatu yang berhubungan dengan kekayaan atau kemewahan. Mengutip definisi dari National Youth Council of Singapore, flexing adalah budaya ingin dilihat atau diperhatikan orang lain dengan barang-barang mahal yang menunjukkan bahwa kita mampu untuk membelinya. Sedangkan Cambridge Dictionary menyebutkan bahwa flexing merupakan perilaku yang menunjukkan bahwa kita bangga atau senang dengan apa yang kita miliki dan kita lakukan.

BERITA TERKAIT

Cetak Pemimpin Bank Berwawasan Global: LPPI Resmi Tutup Program Sespibank Angkatan 83

Siapkan 22 Pemimpin Cabang Pembantu: Bank NTT Gandeng LPPI Gelar Pelatihan Manajemen Eksekutif

Bukan Menyerahkan Kendali ke Mesin, LPPI Dorong Bankir Berkolaborasi dengan AI

Tepis Stigma Kaku Perbankan, Fitur Talent Check-In LPPI Sedot Antusiasme Siswa Vokasi

Fenomena flexing itu dinilai menjadi masalah. Paling tidak ada dua alasan. Pertama adalah semakin memperlihatkan financial gap yang terjadi dimasyarakat. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sebenarnya kekayaan itu hanya dimiliki oleh segelintir orang. Ada sebagian masyarakat kita yang masih tidak tahu hari ini mau makan apa, bahkan masih banyak orang yang bingung hari ini bisa makan atau tidak.

  • Baca juga: Siapkan 22 Pemimpin Cabang Pembantu: Bank NTT Gandeng LPPI Gelar Pelatihan Manajemen Eksekutif

Alasan yang kedua adalah gaya hidup yang materialistis, manipulatif dan serba instan yang dijadikan sebagai tontonan. Semakin sering kita melihat sesuatu, maka alam bawah sadar kita juga akan membenarkan itu sebagai sesuatu yang biasa dan pada akhirnya bisa menjadi lifestyle atau gaya hidup kita. Gaya hidup yang di ukur dari materi, secara tidak langsung akan menjadi tontonan dan dapat membentuk karakter seseorang. Menurut American Psychological Association, semakin materialistis seseorang maka akan semakin sulit merasakan emosi positif, sulit untuk berempati, mudah stress dan depresi hingga dapat menyebabkan penurunan kondisi fisik jika tidak mendapatkan life balance yang baik dari lingkungan sekitar.

Memang tidak ada yang salah dari memamerkan kekayaan, namun sisi materialistis yang dipertontonkan apalagi jika manipulatif, akan membuat generasi kita atau generasi penerus kita terbiasa untuk melakukan hal yang sama. Bukan tidak mungkin jika mereka terinspirasi dan menjadikannya target serta tujuan hidupnya. Terlebih saat pandemi, banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi, akhirnya ingin meniru jalan sukses para crazy rich yang cenderung instan tanpa mau melihat prosesnya. Padahal yang mahal dari sebuah pencapaian justru prosesnya. Yang mahal dari seorang pendaki adalah cerita pada saat mendaki, apa saja yang mereka lihat, apa saja yang mereka lakukan dan apa tantangan yang harus mereka hadapi saat mendaki. Namun, dengan adanya fenomena flexing ini, generasi muda cenderung semakin mendapatkan pembenaran untuk memperoleh semuanya dengan cara yang instan.

Lalu, bagaimana supaya kita tidak terjebak dengan fenomena flexing? Pertama, adalah berfikir kritis. Dasar dari berfikir kritis adalah skepticism, yaitu sikap mempertanyakan atau mencurigai segala sesuatu karena semua bersifat tidak pasti. Saat kita menerima informasi, maka sebaiknya kita analisa terlebih dulu sebelum merespons dan mengikutinya. Pertanyakan dulu sumbernya dari mana, dapat dipertanggungkawabkan atau tidak. Dengan kita mencoba untuk berpikir kritis, paling tidak apapun keputusan yang kita ambil berdasarkan logika, bukan berdasarkan emosi semata.

Kedua, kerjakan apa yang kita ketahui, bukan sekedar ikut-ikutan. Apalagi terkait finansial, kita perlu mempelajarinya lebih dulu dan harus terus meng-upgrade pengetahuan tentang finansial supaya tidak terjebak flexing-flexing yang semakin marak terjadi belakangan ini.

  • Baca juga: Bukan Menyerahkan Kendali ke Mesin, LPPI Dorong Bankir Berkolaborasi dengan AI

Ketiga, stop mencari validasi dari orang lain. Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Sidiq Hari Madya menyatakan bahwa salah satu penyebab orang mengikuti flex culture adalah ingin memenuhi imajinasi audiens baik di sosial media maupun di dunia nyata. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa flex culture adalah hasil dari pencarian kita yang terlalu tinggi terhadap validasi dari orang lain terhadap kita. Kita hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain dan membuat semua orang senang. Terakhir, hal yang harus kita lakukan tentu saja adalah mem-filter sosial media kita. Kita harus mampu mengendalikan diri dalam menggunakan sosial media yang kita miliki.

Dengan demikian, sebagai generasi muda sudah seharusnya kita tidak terjebak dengan fenomena flexing. Pada hakikatnya generasi mudalah yang akan menjadi penggerak roda kehidupan bangsa. Tidak sepantasnya generasi yang justru menjadi tonggak harapan bangsa terbuai hasrat validasi hedonisme. Menjadi kaya memang tidak salah, namun menunjukkan kepada orang lain secara berlebihan, apalagi sampai memanipulasi keadaan adalah kondisi yang perlu kita cermati dan kritisi. Fokuslah untuk bertumbuh dan menyebarkan energi yang positif untuk lingkungan sekitar.***

Tags: Aulianita NurwidyaFenomena FlexingFlexingGenerasi MillenialKolom LPPILPPI
 
 
 
 
 
Previous Post

Favorit! Transfer BI-Fast di Bank Mandiri Tembus 35 Juta Transaksi

Next Post

Kinerja Cemerlang Saat Pandemi, Bank DKI Raih Penghargaan TOP BUMD 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Kinerja Cemerlang Saat Pandemi, Bank DKI Raih Penghargaan TOP BUMD 2022

Kinerja Cemerlang Saat Pandemi, Bank DKI Raih Penghargaan TOP BUMD 2022

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance