• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Senin, September 14, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Interview

Harus Ada Subsidi untuk Sektor Pertanian

oleh Sandy Romualdus
15 Desember 2011 - 00:00
11
Dilihat
Batasi Asing Picu Krisis Permodalan Bank
0
Bagikan
11
Dilihat

Kredit di sektor pertanian masih menjadi masalah utama yang dihadapi dalam pembiayaan UMKM saat ini. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Aviliani, mengatakan petani perlu diberi bunga kredit yang lebih kecil. Jika tidak, sektor pertanian tidak bisa hidup. Selain itu diperlukan juga pendirian bank khusus pertanian. Berikut petikan lengkapnya:

Berdasarkan data, kebanyakan masyarakat bekerja di sektor pertanian namun porsi kreditnya justru paling sedikit. Mengapa hal ini bisa terjadi?

  • Baca juga: Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Berdasarkan data Kementrian Koperasi dan UKM hingga Agustus 2011 jumlah angkatan kerja kita 117 juta orang dan 40 juta diantaranya bekerja di sektor pertanian. Namun porsi kredit sektor ini hanya 13 persen.

BERITA TERKAIT

Perluas Jangkauan Bisnis, BNI Fasilitasi Solusi Digital di Beyoutiful Symphony Festival 2026

Implementasi Sustainable Finance, Portofolio ESG BRI Tembus Rp842,1 Triliun di Triwulan II 2026

Evaluasi Standar Global, KRQA-SQC Gelar Audit Terintegrasi di PT Trans Yeong Maritime

Kinerja Penjualan Eceran Menguat, BI Prediksi Tekanan Inflasi Melandai di Akhir Tahun

Ini disebabkan skala ekonomi dari petani kita relatif terlalu kecil dan membuat risiko kreditnya jadi lebih besar. Bank tidak mau terkena risiko. Kalau dikasih pinjaman tidak balik. Karena itu tadi, skala ekonomi petani tidak memenuhi, produktivitasnya juga rendah, maka ya tidak salah jika bank kasih kreditnya lebih banyak ke sektor perdagangan. Karena perdagangan tinggal mengambil margin, jadi kalau dikasih bunga 16 persen atau 14 persen atau 22 persen dia masih punya untung. Tapi kalau di sektor pertanian tidak bisa.

Lalu apa yang bisa dilakukan perbankan agar porsi sektor pertanian meningkat?

Perbankan harus sudah berpikir bagaimana CSR untuk ketahanan pangan, khususnya adalah bagaimana menghidupkan petani supaya mereka bisa meningkatkan produktivitas. Harusnya Indonesia bisa mandiri pangan, malah ekspor. Pada 2012, Thailand sudah tidak mau ekspor beras ke Indonesia karena mereka butuk stok beras untuk mereka sendiri. Artinya kita bisa rawan pangan. Berarti yang terjadi 2012 justru harga komoditas akan naik, walaupun krisis di AS dan UE.

Menurut saya, ini yang perlu diwaspadai. Kalau sektor perdagangan dikasih kredit 16 persen, 24 persen, mereka masih bisa membayar. Tapi kalau pertanian, peternakan rata-rata hanya bisa hidup kalau bunganya 8 persen, di atas itu mereka tidak bisa hidup. Nah, ke depannya harus dipikirkan apakah ada pemberian bunga khusus jika tidak ingin sektor pertanian kita mati perlahan.

Bagaimana agar petani dan bank sama-sama untung?

Yang perlu diingat adalah Indonesia yang angkatan kerjanya 117 juta jiwa ini lebih dari 50 persennya merupakan lulusan SD ke bawah. Jadi kalau SD ke bawah dikasih modal terus langsung bisa untung itu berat. Ini yang menjadi problem. Kebanyakan petani yang pinjam itu SMA ke bawah, jadi sama saja. Perlu bimbingan, binaan. Nah dari tingkat pendidikan itu kita bisa memprediksikan untuk jangka panjang termasuk model bisnis seperti apa yang cocok agar perbankan bisa masuk di dalamnya.

Mungkin perlu diberikan pinjaman modal untuk membeli mesin pengolahan sehingga petani mendapat nilai tambah?

Ini yang menjadi masalah, industri pengolahan pertanian produktivitasnya terus mengalami penurunan. Mengapa? Ternyata dari survey yang dilakukan oleh ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) hampir sebagian besar UMKM, termasuk sektor pertanian, umur mesinnya sudah di atas 20 tahun. Jadi kalah bersaing. Kalau itu direvitalisasi oleh perbankan cicilan kredit investasinya tidak nutup. Maka itulah kenapa petani harus dibentuk kelompok-kelompok. Karena kalau berdiri sendiri tidak akan bisa mengembalikan.

  • Baca juga: Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Selama ini petani menganggap meminjam di bank itu susah. Apa yang harus dilakukan?

Ya ada gap informasi antara bank dengan petani. Jadi petani harus diberi informasi agar gap ini tidak semakin besar. Agar kontribusi kredit petani tinggi, maka pemerintah harus melakukan pengelompokan petani-petani. Kita juga harus belajar dari China. Mereka sekarang tidak membolehkan anaknya petani jadi petani. Anaknya petani dididik menjadi industriawan atau mengelola basis industri mereka supaya ekonomi mereka semakin meningkat. Kalau di kita kan anaknya ada tiga, dibagilah tanah pertanian menjadi tiga. Ini problem yang harus diperhatikan pemerintah.

Apa lagi yang harus dilakukan regulator?

Banyak yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, memberikan dukungan pendanaan terkait dengan subsidi bunga, sejauh ini baru diberikan ke sektor energi alternatif. Seharusnya subsidi juga diberikan pada sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi unggulan berorientasi ekspor. Kedua, bila tidak memungkinan bank-bank umum berkontribusi lebih besar pada sektor pertanian maka perlu didirikan bank pertanian seperti di negara lain (Malaysia dengan Bank Pertanian Malaysia, Thailand dengan Bank for Agriculture and Agricultural Cooperative (BAAC), China dengan Agriculture Bank of China).

Ketiga, pemerintah harus memberikan perlindungan petani atas bencana dan kekeringan dengan kompensasi asuransi kerugian. Keempat, membangun infrastruktur pertanian. Kelima, memanfaatkan koperasi atau BUMN terkait sebagai penyedia bibit, pupuk, dan kelengkapan lain bagi petani agar tidak terjadi kelangkaan maupun stabilisasi harga pada faktor input. Keenam, pengembangan teknologi agar kualitas hasil selalu memenuhi permintaan pasar dan mampu bersaing.

Selain kredit pertanian, apalagi yang menjadi kendala dalam pembiayaan UMKM oleh perbankan?

Kalau kita bandingkan usaha besar dengan UMKM itu sebenarnya seimbang dari GDP nya. Namun kebanyakan usaha mereka masih terlalu mikro karena aset mungkin tak lebih dari Rp20 juta-an, jadi relatif sangat kecil. Makanya tingkat usaha pendapatan mikro semakin tidak sustainable, belum bisa menabung. Apa yang bisa kita lihat dari sini? Kondisi ini membuat bank tidak mau terkena risiko gagal bayar.

Bagaimana NPL untuk UMKM?

Kalau kita lihat sebenarnya perkembangan dari pertumbuhan NPL kecil untuk UMKM, walaupun banyak perbankan yang sudah meng-cover dari bunganya itu untuk kredit macet. Potensi kredit UMKM masih sangat tinggi, namun mereka dianggap belum bankable. Nah ini CSR bank yang perlu digalakkan karena sebenarnya di daerah-daerah sekarang mulai muncul pengusaha-pengusaha baru.

UMKM kita masih tidak terbiasa dengan pembukuan?

  • Baca juga: Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Jadi kalau kita lihat banyak UMKM yang merupakan sektor informal. Kadang-kadang yang penting jualan anaknya bisa sekolah, itu dianggapnya ga perlu pembukuan. Nah, bank perlu membuat kreativitas bagaimana caranya membantu mereka. Jadi mereka bisa punya gambaran kelayakan usaha. Ini yang belum dilakukan. Sehingga bank biasanya meminta jaminan yang besar padahal mereka rumah saja masih ngontrak. Nah ini menjadi kendala usaha kecil terutama mikro mendapatkan dana dari bank. Kendala UMKM bukan hanya soal pembukuan, tapi kadang mereka juga bingung ke mana mereka harus memasarkan produksi mereka. Sehingga disitulah para money lender masuk. Kasih pupuk, kasih bibit, sistem ijon. Nanti begitu panen dia yang ambil. Nah itulah mengapa jadi akses perbankan jadi tidak bisa masuk. SP

 

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Menjaga Konsistensi Kebijakan BI Rate

Selanjutnya

Regulasi Harus Seimbang

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

oleh Stella Gracia
10 September 2025 - 12:17

Di tengah gejolak ekonomi global dan dinamika domestik, industri perbankan nasional masih menunjukkan resiliensi. Hal ini tercermin dari kinerja penyaluran...

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

oleh Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:35

Pada konperensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Agusman selaku Kepala Eksekutif Pengawas PVML menyampaikan rangkaian update penting seputar...

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

oleh Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:22

Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 8 Juni 2025, berbagai isu strategis di sektor...

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:57

Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK (KE IAKD) Dalam konferensi...

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

oleh Sandy Romualdus
29 Mei 2021 - 13:14

Anung Herlianto, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIGITALISASI perbankan mendapatkan momentum justru ketika pandemi meledak...

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

oleh Sandy Romualdus
16 April 2021 - 15:31

Michael Tjoajadi, CEO Schroder Investment Management Indonesia KITA lihat aturan OJK No 3/POJK 04/ 2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Pasar...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Desak Bank KBMI 1 Konsolidasi, Buka Opsi Merger Demi Penuhi Free Float 15%

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Perluas Jangkauan Bisnis, BNI Fasilitasi Solusi Digital di Beyoutiful Symphony Festival 2026

Implementasi Sustainable Finance, Portofolio ESG BRI Tembus Rp842,1 Triliun di Triwulan II 2026

Evaluasi Standar Global, KRQA-SQC Gelar Audit Terintegrasi di PT Trans Yeong Maritime

Kinerja Penjualan Eceran Menguat, BI Prediksi Tekanan Inflasi Melandai di Akhir Tahun

Genjot Penetrasi Merchant di Kota Kembang, Bank BSN Rilis Program Serbu Ekosistem

Lintasarta Rilis Bandwidth on Demand untuk Akselerasi Infrastruktur Digital Perbankan

BRICS Perkuat Transaksi Mata Uang Lokal, RI Dorong Konektivitas Pembayaran Lintas Negara

Asia Care Survey 2026: Warisan Bukan Lagi Prioritas Tunggal, 40% Aset Disiapkan untuk Anak

Prof. Syafii Antonio Usulkan Alokasi 15% Dana APBN dan BUMN untuk Pacu Bank Syariah

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Tekan NPL, Mandiri Restrukturisasi Kredit 144,5 Juta Dollar AS

Bank Mandiri Gelar Mandiri Economic Forum

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance