Menjelang tahun ini berakhir, Bank Indonesia melakukan beberapa gebrakan kebijakan, salah satunya adalah menurunkan BI Rate dua kali berturut-turut di luar perkiraan banyak pengamat. Kondisi ekonomi dunia yang belum stabil di tengah bergolaknya zona Eropa dan masih limbungnya ekonomi AS adalah alasan utama di balik kebijakan itu. Oleh karena itu, BI merasa perlu untuk tetap menjaga konsistensi BI Rate pada tahun depan demi menjaga target inflasi dan stabilitas sistem keuangan. Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad mengatakan hal itu saat ditemui Stabilitas Perbankan dalam beberapa kesempatan.
Bagaimana gambaran kondisi perbankan Indonesia saat ini ?
Secara umum kondisi perbankan Indonesia masih tetap tumbuh positif. Ini terlihat dari tren pertumbuhan kredit yang meningkat 19,6 persen secara year to date (Januari-Oktober) atau 25,3 persen secara year on year. Pencapaian ini merupakan yang tertinggi di ASEAN meski ratio credit to GDP kita masih tergolong rendah. Pertumbuhan tertinggi tercatat di kredit investasi yang meningkat 31 persen, kemudian kredit modal kerja yang tumbuh 24 persen dan kredit konsumsi tumbuh 23 persen.
BERITA TERKAIT
Untuk kualitas kredit sejauh ini masih tetap terjaga yang terlihat dari NPL (non performing loan) gross sebesar 2,7 persen sementara NPL net relatif stabil di angka 0,6 persen. Sementara CAR masih cukup tinggi yakni 16,7 persen. Kita berharap pertumbuhan kredit tidak meninggalkan bom waktu khususnya kredit untuk kendaraan bermotor yang diberikan lebih banyak oleh lembaga pembiayaan nonbank yang mungkin kebijakannya tidak seperti bank. Bank hanya memberikan sepertiga dari kredit tersebut.
Bagaimana dengan nilai tukar rupiah?
Nilai tukar rupiah sejauh ini masih mengalami tekanan meski intensitasnya lebih rendah, yaitu ratarata melemah 1,36 persen ke level Rp8.865 pada Oktober ini dari Rp8.744 per dolar AS pada September. Secara keseluruhan pada 2011, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi dibanding dengan rata-rata selama 2010 yaitu sebesar 4,06 poin. Namun kita tidak sendirian karena Singapura, Myanmar, Thailand, Jepang maupun Filipina juga mengalaminya.
Lalu bagaimana kemungkinannya di 2012?
Harus diakui masih ada potensi risiko inflasi di tahun depan. Meski ada potensi risiko inflasi, tetapi Bank Indonesia optimistis inflasi akan lebih rendah, hal ini tergantung pada bagaimana mengatur kebijakan makro yang berhati-hati. Inflasi masih mengalami penurunan, dan cukup kondusif. Tahun depan kita pegang pada 4,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi masih akan terkendali dan karena lambatnya perekonomian global sehingga mengurangi tekanan inflasi dari sisi harga impor, ditambah kurangnya tekanan dari sisi domestik karena terbatasnya pertumbuhan. Untuk tahun ini inflasi lebih rendah dari target kita.
Seberapa besar dampak gejolak di Eropa dan Amerika bagi perekonomian Indonesia tahun depan?
Pengaruh gejolak ekonomi global diperkirakan akan mulai berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012. Meski demikian kita masih optimistis dan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2012 akan berada pada kisaran 6,3 hingga 6,7 persen setelah memasukkan dampak gejolak ekonomi global tersebut. Saat ini kondisi perekonomian Amerika Serikat yang masih lemah yang ditandai dengan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) hingga Okotober 2011 hanya sebesar 1,6 persen. Sementara itu krisis utang Yunani yang mencapai 350 miliar euro telah menjadi beban bagi negara-negara Eropa. Juga adanya tekanan inflasi atau indeks harga konsumen (IHK) dengan tren meningkat di negara-negara maju.
Dampak ekonomi global masuk ke Indonesia melalui dua cara yaitu arus modal masuk dan keluar yang memiliki volatilitas yang tinggi dan saluran perdagangan dengan kemungkinan permintaan dan harga ekspor yang turun. Neraca perdagangan Indonesia (NPI) 2011 diperkirakan masih akan surplus karena didukung surplus transaksi berjalan dan transaksi modal dan finansial.
Lalu bagaimana arah kebijakan moneter Bank Indonesia?
Arah kebijakan moneter BI pada 2012 adalah menjaga konsistensi suku bunga BI (BI Rate) untuk menjaga target inflasi dan stabilitas sistem keuangan. Sejak 10 November lalu Bank Indonesia telah menurunkan BI rate dari 6,50 persen menjadi 6,0 persen. BI juga sesungguhnya bertugas untuk menetapkan kebijakan macroprudential yang terkait dengan arus modal yang mengatur manajemen likuiditas sehingga mengurangi risiko penggelembungan aset. Semuanya sudah masuk dalam Undang-Undang tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru disahkan, namun penerapannya masih akan kami bahas lagi.
Mengenai OJK, apakah akan ada semacam reposisi peran BI?
Peran bank sentral sangat dibutuhkan, tidak hanya di microprudential, tetapi juga macro prudential. Harus dipahami bahwa tidak mudah menjadi bank sentral di negara emerging market seperti Indonesia karena selain harus bisa menjaga kondisi mikro, bank sentral juga harus bisa menjalankan fungsinya secara prudensial secara umum. Oleh karenanya dengan kehadiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke depan diharapkan bisa mendefinisikan tugas bank sentral yang baru.
Apa yang akan dilakukan BI untuk mengembangkan pasar keuangan?
Ada lima prinsip pengembangan pasar keuangan yang akan dilaksanakan BI. Pertama, BI akan fokus pada pengembangan segmen pasar uang mengingat perannya yang sangat sentral dalam mempengaruhi perkembangan segmen pasar keuangan lainnya. Kedua, pengembangan pasar keuangan akan fokus sesuai persoalan yang dihadapi dan prioritasnya. Ketiga, koordinasi dan kerjasama seluruh otoritas terkait dan pemangku kepentingan lainnya. Keempat, harus mempertimbangkan potensi risiko dan biaya yang terjadi dalam hal terjadi shock atau instabilitas idi sektor keuangan. Dan kelima diutamakan pengembangan pasar keuangan terkait dengan sektor riil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Seberapa penting penataan pasar keuangan?
Sebagaimana kita tahu bahwa pasar uang akan mendorong perkembangan pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana investor tidak perlu khawatir terkait risiko ketidakcocokan likuiditas apabila membeli SBN yang jangka waktunya bisa mencapai 30 tahun. Minimal risiko tersebut akan mempengaruhi harga di pasar SBN, sehingga pemerintah tidak perlu membayar terlalu mahal untuk setiap penerbitan SBN. Berkembangnya SBN akan berdampak positif pada terbentuknya yield curve yang wajar dan kredibel terhadap surat berharga. Ini juga akan menjadi acuan baik bagi perbankan dalam penetapan suku bunga dana dan kredit, serta bagi korporasi dan investor dalam pasar obligasi korporasi,” ulasnya.
Diperkirakan capital inflows akan tetap kencang masuk ke Indonesia, apa yang harus dilakukan agar capital inflow bermanfaat bagi perekonomian Indonesia?
Ancaman dari large dan sudden capital reversal merupakan konsekuensi dari besarnya modal yang masuk sejak 2010. Satu hal yang penting adalah kita harus lihat bahwa capital inflows dan ekses likuiditas jika dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendalaman pasar dan diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik pasar keuangan akan merusak stabilitas pasar keuangan dan kondisi perekonomian. Oleh karennya perlu ada kebijakan yang optimal dalam mengantisipasi dampak aliran modal namun tidak menghambat perkembangan pasar keuangan. SP

















