• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, September 17, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Interview

Menjaga Konsistensi Kebijakan BI Rate

oleh Sandy Romualdus
15 Desember 2011 - 00:00
12
Dilihat
Menjaga Konsistensi Kebijakan BI Rate
0
Bagikan
12
Dilihat

Menjelang tahun ini berakhir, Bank Indonesia melakukan beberapa gebrakan kebijakan, salah satunya adalah menurunkan BI Rate dua kali berturut-turut di luar perkiraan banyak pengamat. Kondisi ekonomi dunia yang belum stabil di tengah bergolaknya zona Eropa dan masih limbungnya ekonomi AS adalah alasan utama di balik kebijakan itu. Oleh karena itu, BI merasa perlu untuk tetap menjaga konsistensi BI Rate pada tahun depan demi menjaga target inflasi dan stabilitas sistem keuangan. Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad mengatakan hal itu saat ditemui Stabilitas Perbankan dalam beberapa kesempatan.

Bagaimana gambaran kondisi perbankan Indonesia saat ini ?

  • Baca juga: Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Secara umum kondisi perbankan Indonesia masih tetap tumbuh positif. Ini terlihat dari tren pertumbuhan kredit yang meningkat 19,6 persen secara year to date (Januari-Oktober) atau 25,3 persen secara year on year. Pencapaian ini merupakan yang tertinggi di ASEAN meski ratio credit to GDP kita masih tergolong rendah. Pertumbuhan tertinggi tercatat di kredit investasi yang meningkat 31 persen, kemudian kredit modal kerja yang tumbuh 24 persen dan kredit konsumsi tumbuh 23 persen.

BERITA TERKAIT

Bidik Rantai Ekonomi Umrah, Bank BSN Eksplorasi Ekosistem Digital Bersama JARDY Travel

Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

Agresivitas BNI Amankan Likuiditas: Deposito Meledak 63%, Laba Bersih Tembus Rp14,3 Triliun

Laju Terukur BCA: Tembus Laba Rp40 Triliun di Tengah Limpahan Dana Murah

Untuk kualitas kredit sejauh ini masih tetap terjaga yang terlihat dari NPL (non performing loan) gross sebesar 2,7 persen sementara NPL net relatif stabil di angka 0,6 persen. Sementara CAR masih cukup tinggi yakni 16,7 persen. Kita berharap pertumbuhan kredit tidak meninggalkan bom waktu khususnya kredit untuk kendaraan bermotor yang diberikan lebih banyak oleh lembaga pembiayaan nonbank yang mungkin kebijakannya tidak seperti bank. Bank hanya memberikan sepertiga dari kredit tersebut.

Bagaimana dengan nilai tukar rupiah?

Nilai tukar rupiah sejauh ini masih mengalami tekanan meski intensitasnya lebih rendah, yaitu ratarata melemah 1,36 persen ke level Rp8.865 pada Oktober ini dari Rp8.744 per dolar AS pada September. Secara keseluruhan pada 2011, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi dibanding dengan rata-rata selama 2010 yaitu sebesar 4,06 poin. Namun kita tidak sendirian karena Singapura, Myanmar, Thailand, Jepang maupun Filipina juga mengalaminya.

Lalu bagaimana kemungkinannya di 2012?

Harus diakui masih ada potensi risiko inflasi di tahun depan. Meski ada potensi risiko inflasi, tetapi Bank Indonesia optimistis inflasi akan lebih rendah, hal ini tergantung pada bagaimana mengatur kebijakan makro yang berhati-hati. Inflasi masih mengalami penurunan, dan cukup kondusif. Tahun depan kita pegang pada 4,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi masih akan terkendali dan karena lambatnya perekonomian global sehingga mengurangi tekanan inflasi dari sisi harga impor, ditambah kurangnya tekanan dari sisi domestik karena terbatasnya pertumbuhan. Untuk tahun ini inflasi lebih rendah dari target kita.

Seberapa besar dampak gejolak di Eropa dan Amerika bagi perekonomian Indonesia tahun depan?

Pengaruh gejolak ekonomi global diperkirakan akan mulai berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012. Meski demikian kita masih optimistis dan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2012 akan berada pada kisaran 6,3 hingga 6,7 persen setelah memasukkan dampak gejolak ekonomi global tersebut. Saat ini kondisi perekonomian Amerika Serikat yang masih lemah yang ditandai dengan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) hingga Okotober 2011 hanya sebesar 1,6 persen. Sementara itu krisis utang Yunani yang mencapai 350 miliar euro telah menjadi beban bagi negara-negara Eropa. Juga adanya tekanan inflasi atau indeks harga konsumen (IHK) dengan tren meningkat di negara-negara maju.

Dampak ekonomi global masuk ke Indonesia melalui dua cara yaitu arus modal masuk dan keluar yang memiliki volatilitas yang tinggi dan saluran perdagangan dengan kemungkinan permintaan dan harga ekspor yang turun. Neraca perdagangan Indonesia (NPI) 2011 diperkirakan masih akan surplus karena didukung surplus transaksi berjalan dan transaksi modal dan finansial.

  • Baca juga: Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Lalu bagaimana arah kebijakan moneter Bank Indonesia?

Arah kebijakan moneter BI pada 2012 adalah menjaga konsistensi suku bunga BI (BI Rate) untuk menjaga target inflasi dan stabilitas sistem keuangan. Sejak 10 November lalu Bank Indonesia telah menurunkan BI rate dari 6,50 persen menjadi 6,0 persen. BI juga sesungguhnya bertugas untuk menetapkan kebijakan macroprudential yang terkait dengan arus modal yang mengatur manajemen likuiditas sehingga mengurangi risiko penggelembungan aset. Semuanya sudah masuk dalam Undang-Undang tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru disahkan, namun penerapannya masih akan kami bahas lagi.

Mengenai OJK, apakah akan ada semacam reposisi peran BI?

Peran bank sentral sangat dibutuhkan, tidak hanya di microprudential, tetapi juga macro prudential. Harus dipahami bahwa tidak mudah menjadi bank sentral di negara emerging market seperti Indonesia karena selain harus bisa menjaga kondisi mikro, bank sentral juga harus bisa menjalankan fungsinya secara prudensial secara umum. Oleh karenanya dengan kehadiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke depan diharapkan bisa mendefinisikan tugas bank sentral yang baru.

Apa yang akan dilakukan BI untuk mengembangkan pasar keuangan?

Ada lima prinsip pengembangan pasar keuangan yang akan dilaksanakan BI. Pertama, BI akan fokus pada pengembangan segmen pasar uang mengingat perannya yang sangat sentral dalam mempengaruhi perkembangan segmen pasar keuangan lainnya. Kedua, pengembangan pasar keuangan akan fokus sesuai persoalan yang dihadapi dan prioritasnya. Ketiga, koordinasi dan kerjasama seluruh otoritas terkait dan pemangku kepentingan lainnya. Keempat, harus mempertimbangkan potensi risiko dan biaya yang terjadi dalam hal terjadi shock atau instabilitas idi sektor keuangan. Dan kelima diutamakan pengembangan pasar keuangan terkait dengan sektor riil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Seberapa penting penataan pasar keuangan?

Sebagaimana kita tahu bahwa pasar uang akan mendorong perkembangan pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana investor tidak perlu khawatir terkait risiko ketidakcocokan likuiditas apabila membeli SBN yang jangka waktunya bisa mencapai 30 tahun. Minimal risiko tersebut akan mempengaruhi harga di pasar SBN, sehingga pemerintah tidak perlu membayar terlalu mahal untuk setiap penerbitan SBN. Berkembangnya SBN akan berdampak positif pada terbentuknya yield curve yang wajar dan kredibel terhadap surat berharga. Ini juga akan menjadi acuan baik bagi perbankan dalam penetapan suku bunga dana dan kredit, serta bagi korporasi dan investor dalam pasar obligasi korporasi,” ulasnya.

Diperkirakan capital inflows akan tetap kencang masuk ke Indonesia, apa yang harus dilakukan agar capital inflow bermanfaat bagi perekonomian Indonesia?

  • Baca juga: Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Ancaman dari large dan sudden capital reversal merupakan konsekuensi dari besarnya modal yang masuk sejak 2010. Satu hal yang penting adalah kita harus lihat bahwa capital inflows dan ekses likuiditas jika dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendalaman pasar dan diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik pasar keuangan akan merusak stabilitas pasar keuangan dan kondisi perekonomian. Oleh karennya perlu ada kebijakan yang optimal dalam mengantisipasi dampak aliran modal namun tidak menghambat perkembangan pasar keuangan. SP

 

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Parade Mobil Listrik di 2012

Selanjutnya

Harus Ada Subsidi untuk Sektor Pertanian

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

oleh Stella Gracia
10 September 2025 - 12:17

Di tengah gejolak ekonomi global dan dinamika domestik, industri perbankan nasional masih menunjukkan resiliensi. Hal ini tercermin dari kinerja penyaluran...

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

Stabilitas dalam Tekanan, OJK Waspadai Risiko Fintech & Geopolitik

oleh Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:35

Pada konperensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Agusman selaku Kepala Eksekutif Pengawas PVML menyampaikan rangkaian update penting seputar...

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

Asuransi Parametrik Relevan, Unitlink Perlu Transparansi di Tengah Konflik Global

oleh Sandy Romualdus
24 Juli 2025 - 09:22

Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 8 Juni 2025, berbagai isu strategis di sektor...

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

Integrasi Aset Kripto & Pentingnya Perlindungan Dana Nasabah

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:57

Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK (KE IAKD) Dalam konferensi...

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

Saatnya Fly To Service, Fly To Digital

oleh Sandy Romualdus
29 Mei 2021 - 13:14

Anung Herlianto, Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIGITALISASI perbankan mendapatkan momentum justru ketika pandemi meledak...

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

Kami Cukup Bahagia dengan Aturan Baru

oleh Sandy Romualdus
16 April 2021 - 15:31

Michael Tjoajadi, CEO Schroder Investment Management Indonesia KITA lihat aturan OJK No 3/POJK 04/ 2021 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Pasar...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Desak Bank KBMI 1 Konsolidasi, Buka Opsi Merger Demi Penuhi Free Float 15%

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Bidik Rantai Ekonomi Umrah, Bank BSN Eksplorasi Ekosistem Digital Bersama JARDY Travel

Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

Agresivitas BNI Amankan Likuiditas: Deposito Meledak 63%, Laba Bersih Tembus Rp14,3 Triliun

Laju Terukur BCA: Tembus Laba Rp40 Triliun di Tengah Limpahan Dana Murah

Langkah Taktis di Ujung Tenggat: BRI Eksekusi Buyback Rp90,7 Triliun demi Bantalan Internal

Bom Waktu Rp240 Triliun: LPEM UI Peringatkan Ancaman Kopdes Merah Putih bagi APBN

Ujian Likuiditas Akhir Tahun, BRI Tuntaskan Seri C Sebelum Hadapi Obligasi Jumbo Rp2,35 Triliun

Anomali Utang Luar Negeri: Saat Korporasi Menahan Diri, Asing Justru Guyur SBN Internasional

Geliat Gen Z Menabung Haji: Tambang Dana Murah Triliunan Rupiah bagi BSI

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
Tekan NPL, Mandiri Restrukturisasi Kredit 144,5 Juta Dollar AS

Bank Mandiri Gelar Mandiri Economic Forum

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance