Jakarta, Stabilitas–Menanggapi polemik beras akhir-akhir ini, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengurai persoalan dari sisi fundamental yaitu efektivitas kebijakan dalam mencapai kebutuhan.
INDEF melihat alokasi subsidi input di sektor pertanian (benih dan pupuk) meningkat drastis selama dua tahun terakhir, bahkan pada APBN 2017 subsidi pupuk mencapai lebih dari Rp 30 Triliun. Total anggaran kedaulatan pangan melonjak hingga mencapai 53,2 persen dari Rp 67,7 triliun di 2014 mencapai Rp 103,1 triliun di 2017.
Direktur INDEF, Enny Sri Hartati mengungkapkan masih adanya persolan dalam efektivitas subsidi input yang dinikmati petani. Di Indonesia biaya produksi padi Rp 4.079/kg, sementara Vietnam hanya Rp 1.679/kg.
“Subsidi ini sayangnya, subsidi apapun harapannya tentu harga biaya yang harus ditanggung petani kita lebih efisien, murah, datanya ternyata harga pokok untuk mengasilkan padi di Indonesia lebih dari 2,5 kali lipat dari Vietnam,”kata Enny, saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (27/7).
Enny menegaskan seharusnya subsidi yang diberikan pemerintah membuat harga produksi semakin turun, bukan melonjak tinggi. Mengutip Data yang dikeluarkan World bank bahwa subsidi pupuk yang efektif dinikmati petani hanya sekitar 40 persen. Apalagi ditambah subsidi benih yang tidak tepat waktu, kualitas, varietas yang dibutuhkan petani pada lahannya di daerah yang berbeda.
“Dimana letak persoalan mengapa subsidi besar tidak berdampak pada produksi padi? Minimal kalau ada subsidi yang diberikan tidak sampai 2,5 kali lipatnya dari Vietnam,”tegas Enny.
















