JAKARTA, Stabilitas.id – Bank Dunia atau World Bank menyatakan bahwa saat ini dunia sedang bergerak menuju resesi pada 2023.
Hal ini dikarenakan kenaikan suku bunga global yang terjadi secara agresif sebagai bentuk dari mencegah kenaikan inflasi yang semakin tinggi.
“Tiga negara dengan ekonomi terbesar di dunia Amerika Serikat, China dan Kawasan Eropa, telah melambat tajam,” dikutip dalam sebuah studi, pada Jumat (16/9/22).
BERITA TERKAIT
Bank Dunia memperkirakan kenaikan suku bunga akan terus terjadi hingga tahun depan. Namun, hal ini tidak cukup mencegah inflasi tetap terjadi.
Lembaga keuangan internasional ini juga mengatakan, bank sentral perlu menaikkan suku bunga dengan tambahan 2 poin presentase untuk meredam inflasi.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira menegaskan bahwa laporan Bank Dunia benar adanya. Pelaku pasar sudah menyepakati akan terjadinya perlambatan ekonomi global pada 2023 akibat dari kombinasi perang, gangguan rantai pasok, hiperinflasi, stagflasi, dan krisis akibat kenaikan harga pangan.
Sementara itu, hingga saat ini, Eropa masih mengalami tekanan cukup dalam krisis energi dan pangan yang akan berdampak pada perdagangan Indonesia.
“kalau terjadi resesi global, surplus perdagangan yang selama ini dibangga-banggakan, bisa berubah menjadi defisit perdagangan,” ungkap Bima.
Oleh karena itu, menurutnya masyarakat miskin perlu diperlukan perlindungan sosial, karena pendapatan masyarakat miskin terkena dampak yang cukup besar dari krisis ini.
Selain itu, tingkat suku bunga internasional yang akan melonjak tinggi, memicu peralian dari negara berkembang. Pelaku UMKM yang selama ini menjadi bantalan perekonomian, harus terus mendapatkan dukungan dari pemerintah.
Bantuan tersebut dapat berupa pembiyaan murah dan bantuan modal langsung, pendampingan dan upaya mendorong UMKM lebih cepat masuk ke ekosistem digital. Langkah ini harus diupayakan agar melindungi ekonomi Indonesia pasca pandemic Covid-19.***





.jpg)










