Tumbuh signifikan dalam satu dekade terakhir ternyata belum mampu mendorong penetrasi pasar layanan asuransi di tengah masyarakat lebih besar lagi. Hingga kini masih ada 85 persen penduduk yang belum berasuransi. Maka dari itu muncul kekhawatiran jika pasar bebas ASEAN dibuka maka asuransi nasional cuma akan menjadi penonton di Tanah Air. Meski begitu, Direktur Utama PT Asuransi Tugu Mandiri, Maryoso Sumaryono menepis kekhawatiran itu. Menurut dia asuransi milik investor domestik bisa bersaing dengan perusahaan lain di regional Asia Tenggara. Bahkan dengan pengetahuan yang lebih baik atas pasar dalam negeri memungkinkan asuransi nasional memenangkan persaingan. Akan tetapi asuransi harus memperbaiki banyak hal, misalnya produk yang beragam dan inovatif, infrastruktur yang lengkap, sistem yang mumpuni dan tentu saja pelayanan yang unggul. Berikut petikan wawancara selengkapnya.
Industri asuransi, khususnya asuransi jiwa di Indonesia terus mendulang kinerja positif. Bagaimana dengan tahun ini?
Melihat tren yang ada, rasanya masih yakin sampai tahun ini masih tetap tumbuh positif. Industri asuransi di Indonesia akan tumbuh 25 sampai 30 persen di 2012. Setidaknya ada dua alasan untuk kita optimistis yakni pasar yang masih sangat luas, di mana sampai saat ini masyarakat yang menggunakan asuransi baru 15 persen. Dengan demikian masih 85 persen pasar yang belum tergarap. Hal kedua, terkait pertumbuhan kelas menengah Indonesia yang juga mengalami peningkatan yang signifikan, sehingga akan berpengaruh pada kebutuhan asuransi.
BERITA TERKAIT
Namun ada ancaman krisis di Eropa. Seberapa besar pengaruhnya bagi industri asuransi di Indonesia?
Krisis di Eropa harus diakui akan ada pengaruhnya ke Indonesia. Tetapi sejauh ini belum terasa dan kita juga belum mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap investasi di Indonesia. Tetapi sampai akhir 2011 lalu masih banyak perusahaan di Indonesia yang mencatat pertumbuhan positif. Ini akan meningkatkan pertumbuhan per kapita masyarakat, sehingga purchasing power akan semakin besar. Celah bagi industri asuransi masih cukup besar, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.
Apakah regulasi terkait asuransi sudah mendukung pertumbuhan industri?
Saya melihatnya dari sisi positif bahwa regulator membuat regulasi bukan untuk mematikan perusahaan tetapi untuk memajukan perusahaan. Sejauh ini regulasi yang ada membawa arah positif bagi asuransi di Indonesia seperti regulasi soal permodalan yang memang tujuannya agar industri asuransi di Indonesia kuat. Apalagi sebentar lagi akan berlaku AFTA (Asean Free Trade Area), diharapkan dengan modal kuat, kita bisa berbicara di tingkat ASEAN dan tidak hanya pemain lokal.
Dalam AFTA nanti, apakah asuransi Indonesia bisa bersaing?
Saya optimistis bisa dan lebih utama lagi bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena pada akhirnya yang tahu pasar kita adalah kita sendiri meski secara produk mungkin masih umum. Dan kita memang harus bisa berjaya di pasar kita sendiri sebelum merambah ke pasar negara lain. Pasar kita sangat besar.
Di tengah iklim persaingan ketat, apa yang penting dilakukan sebuah perusahaan?
Banyak hal. Dari sisi produk misalnya yang ditawarkan hendaknya semakin baik dan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Selain itu tentu saja infrastruktur harus terus dilengkapi, SOP (standard operational procedure) diperhatikan, sistem dan tentu saja pelayanan. Ujung dari persaingan ada di pelayanan. Kalau pelayanan kita bagus maka akan banyak pelanggan yang datang ke kita.
Apa yang diandalkan Tugu Mandiri untuk memenangkan persaingan?
Dari sisi produk sebenarnya tidak ada yang beda. Apa sih beda antara unit link Tugu Mandiri dengan yang lainnya. Hal yang akan membuat beda mungkin dari kreasi perusahaan yang membuatnya lebih unik. Dan kami sedang melakukan itu dimana dikembangkan suatu diferensiasi antara unit link dari Tugu Mandiri dengan produk yang sama milik yang lain. Kita lihat kebutuhan ini ada di asuransi kesehatan dan Tugu Mandiri merupakan salah satu perusahaan asuransi yang kuat di asuransi kesehatan.
Dari sisi pelayanan, apa yang menjadi andalan?
Untuk pelayanan, Tugu Mandiri terus melakukan perbaiki dan sejak 2010 perusahaan sudah mempunyai incoming call yang beroperasi selama 7 kali 24 jam. Saat itu perusahaan menambah agen dan operator yang duduk di call center dan selalu siap melayani konsumen baik asuransi jiwa, asuransi kesehatan maupun DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) selama 7 kali 24 jam.
Apa yang menjadi target Anda?
Secara pribadi saya ingin Tugu Mandiri suatu saat nanti masuk dalam 10 besar di industri dan menjadi the best health insurance provider di Indonesia. Ini dimulai dengan merealisasikan target 2015 dimana ditargetkan aset perusahaan mencapai di atas Rp 1 triliun. Saat ini kita sedang menuju ke sana dimana sampai 2011 asset perusahaan sudah mencapai Rp400 miliar. Sementara aset di 2012 kami yakin sudah masuk ke jenjang Rp500 miliar. Kita dalam rencana bisnis selalu berusaha untuk melebihi ketentuan standar ekuitas yang ditetapkan. Saat ini ekuitas perusahaan sudah di atas Rp 70 miliar yang berarti melampaui target 2012 dan dalam rencana bisnis perusahaan di 2014 pun sudah harus di atas ketentuan Rp 100 miliar yakni Rp 120 miliar.
Bagaimana dengan target pertumbuhan premi?
Di 2011 sampai November, premi bruto perusahaan sudah mencapai Rp 174 miliar. Kalau dibandingkan dengan 2010 sebesar Rp 69,9 miliar tercatat pertumbuhannya sebesar 149 persen. Untuk 2012 target premi diharapkan naik 35 persen dari capaian 2011. Itu normatif tetapi itu pun sudah di atas pertumbuhan rata-rata industri di tahun tahun sebelumnya.
Sejauh ini sektor individu yang sejak 2008 tidak dikembangkan mulai kuartal pertama tahun ini akan dikembangkan lagi. Sementara untuk korporasi saat ini pesertanya mencapai 230 ribu orang. Telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa karena pada 2008 jumlahnya masih di bawah 50 ribu peserta. Kemudian DPLK kita sudah mencapai 34 ribu.
Strategi investasi Tugu Mandiri seperti apa?
Karena sifat dari premi kami lebih ke jangka panjang maka investasi kami cenderung ke jangka panjang seperti obligasi. Ada juga saham tetapi tidak besar. Kalau perkembangan DPLK sendiri sebenarnya juga cukup bagus. Sampai saat ini Tugu Mandiri masih ada diurutan ke tujuh di industri DPLK di Indonesia. Tetapi ke depan kita ingin tumbuh. Jadi makin besar dana kelola DPLK, makin besar dana yang disumbangkan DPLK ke kita. Customer juga kami maintenance dengan sebaik baiknya, karena DPLK kami sudah mendapat sertifikasi ISO untuk Pension fund management dan kemudian juga sudah menggunakan unit sizing sehingga konsumen melihat harga per unitnya berapa. Dan dapat mengakses dimana dan kapan pun sehingga bisa memantau perkembangannya, aplikasinya perdana. Bisa tahu kapan pun dia mau, tetapi kalau mau Tanya tentang apa pun silahkan ke kantor kita.
Secara umum, telah terjadi pertumbuhan yang cukup besar di Tugu Mandiri. Apa pemicunya?
Perusahan ini punya potensi dan itu yang kita ambil. Sebut saja potensi di asuransi kesehatan memang punya risiko tetap sepanjang bisa ditata risikonya tentu akan menguntungkan. Itu tantangan kita dalam memenej risiko. Tidak hanya untuk Tugu Mandiri tetapi untuk konsumen dan stakeholder. Dan potensi itu yang dulu tidak dilihat sekarang kita optimalkan dan sekarang sudah terlihat.
Kemudian potensi Sumber Daya Manusia (SDM) kita barangkali dulu kita terlalu cepat ingin masuk ke individu tetapi waktu itu saya nyatakan belum siap dan biaya cukup tinggi dan masuk ke korporat. Potensi orang kita untuk masuk ke korporat juga cukup bagus. Kita tidak mendapat keistimewaan tetapi kita bersaing dengan sehat dan kita buktikan bahwa kita bisa. Sekali lagi potensi yang bisa kita lihat dan kita manfaatkan untuk kemajuan perusahaan.
Bagaimana dengan budaya perusahaan yang Anda kembangkan?
Saya memulai dengan contoh. Jika dulu di sini tidak ada kebiasan untuk kerja sampai larut malam, saat ini sedikit berubah. Bukan semata ingin bekerja malam tetapi karena ada tuntutan pekerjaan. Sejak dua minggu saya di sini kadang saya adakan rapat setelah magrib dan kita siapkan makan malam. Awalnya dirasa kurang nyaman tetapi lama kelamaan karena ada beberapa orang dari luar yang sudah terbiasa dengan itu akhirnya berjalan. Perubahan budaya perusahaan tidak bisa kita paksakan tetapi memang harus diciptakan dalam sebuah proses. Dulu tidak biasa mereka bekerja dengan QPI (quality performance index) tetapi sekarang sudah terbiasa dengan QPI. Kalau sesuai target ada insentif, ada bonus.
Bagaimana dengan penerapan GCG di Tugu Mandiri?
GCG (Good Corporate Governance) juga sudah dijalankan mulai dari code of conduct bagaimana tugas dan tanggungjawab komisaris, direksi, rapat komisaris, rapat reguler yang dijadwalkan termasuk rapat direksi yang seminggu sekali. Kita sudah atur mana harus dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Kalau dari sisi manajemen risiko?
Karena asuransi merupakan bisnis manajemen risiko, sejak awal sudah kita atur mulai dari pricing, di sana sudah ada risiko kalau pricing-nya salah akibatnya sampai ke ujung seperti premi terlalu rendah. Ini jarang terjadi. Ada aktuaris perusahaan dan secara GCG tidak ikut campur. Satu kakinya di manajemen dan satu lagi di kode etiknya dia sebagai aktuaris. Dia yang me-review produk yang dijual dan tentu harus mendapat persetujuan dari Biro Asuransi Bapepam-LK. Ketika produk tersebut ditawarkan pada nasabah di sana banyak risiko. Misalnya tidak sesuai atau bohong dan itu sudah harus diantisipasi.
Nasabah asuransi Tugu didominasi perusahaan migas, apakah ada perbedaan penanganan dengan yang nonmigas?
Menurut saya customer adalah customer, dan perusahaan asuransi wajib memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Kita tidak bisa membeda-bedakan dalam melayani customer baik di lingkup pertambangan. Sebut saja Pertamina dengan yang di luar pertambangan dan migas. Tetapi sebagai pemilik perusahaan tentu tuntutan dari Pertamina lebih tinggi. Mungkin mereka melihat ini cucu mereka sehingga minta dilayani dengan sebaik baiknya. Kadang mereka mencoba membandingkan kita dengan perusahaan perusahaan asuransi jiwa lain. Ini yang tidak kita dapati di customer lain tetapi bagi kita kata kuncinya adalah melayani customer dengan kualitas pelayanan yang sama.
Lantas apakah sektor pertambangan lebih besar risikonya?
Risiko secara bisnis sama dan kita hanya melihat dari jenis pekerjaan. Seperti mereka yang bekerja di sektor minyak dan gas tetapi dibagian administrasi tentu risikonya lebih rendah dibanding mereka yang bekerja di bagian pengeboran lepas pantai. Tetapi di sana ada risiko reputasi yang kita hadapi kalau sampai tidak memberi pelayanan yang sama.
Dari semua upaya yang telah dilakukan, apakah misi perusahaan untuk menjadi 10 besar tersebut sudah terlihat?
Menurut pertumbuhan perusahaan, kita selalu di atas pertumbuhan industri dan akan terus mencapai pertumbuhan itu di atas industri. Kemudian kita akan selalu lihat internasioan best practice, untuk pelayanan dan untuk SOP, jadi customer tidak perlu ragu, imej perusahaan terus kita sampaikan kepada customer. Harapannya kepercayaan terus meningkat di mata customer dan calon customer. Terkait prestasi menurut saya kita sudah sampai pada apa yang diinginkan. Mudah mudahan 2015 kita menembus target aset di atas Rp1 triliun. Dan kalau sudah seperti itu untuk mencapai 10 besar tidak sulit lagi.
Apa komentar Anda mengenai kehadiran BPJS?
Saya melihatnya sebagai suatu jalan bukan saingan dan itu dasar dan kita tambahan dari itu. Pertama itu bantu untuk memasarkan asuransi kesehatan dan orang makin sadar bahwa ada risiko dan ada kebutuhan di sana kita bisa menyediakan produk produknya baik individual maupun korporasi. SP

















