Stabilitas.id — Badan Pengelola (BP) BUMN bersama Badan Danantara bergerak agresif mempercepat penataan portofolio bisnis dan restrukturisasi korporasi plat merah di sektor teknologi. Langkah taktis ini diwujudkan lewat percepatan proses perampingan (streamlining) secara masif pada struktur Telkom Group, dengan memangkas 67 anak usaha Telkom menjadi hanya 19 entitas hingga akhir Desember 2026.
Gebrakan penciutan jumlah anak perusahaan ini sengaja dieksekusi guna mereduksi birokrasi internal yang gemuk, mengeliminasi duplikasi fungsi lini bisnis, serta mengukuhkan peran PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (IDX: TLKM) sebagai perusahaan induk strategis (strategic holding) digital nasional.
“Transformasi korporasi ini sangat krusial untuk memperkuat fokus core bisnis perusahaan dan memastikan Telkom Group bergerak jauh lebih lincah (agile) dalam merespons dinamika kebutuhan ekosistem digital nasional yang serbacepat,” tegas Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (26/5/2026).
BERITA TERKAIT
Strategi Transformasi
Cetak biru perampingan ini dibahas secara intensif dalam pertemuan strategis antara Kepala BP BUMN Dony Oskaria dengan Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (25/5).
Dalam draf draf aksi korporasi yang dipaparkan, Telkom merumuskan lima instrumen restrukturisasi guna memotong 48 anak usaha yang dinilai tidak efisien:
-
Penggabungan Usaha (Merger): Menyatukan anak usaha dengan model bisnis sejenis guna mencapai efisiensi skala ekonomi (economies of scale).
-
Pelepasan Aset (Divestasi): Melepas kepemilikan saham pada entitas anak yang tidak lagi selaras dengan peta jalan (roadmap) bisnis masa depan grup.
-
Penutupan Hukum (Likuidasi): Membubarkan secara resmi anak perusahaan yang tidak lagi produktif atau mencatatkan rapor keuangan pasif.
-
Konsolidasi Bisnis internal: Menata ulang kepemilikan silang aset dan memetakan kembali klaster operasional agar tidak saling berebut pasar.
-
Pembentukan Enterprise Holding Baru: Mengunci ekosistem bisnis digital dan infrastruktur telekomunikasi nasional ke dalam payung komando yang lebih terspesialisasi.
Dony menegaskan, di tengah ketatnya persaingan dengan operator swasta global dan penetrasi teknologi satelit, Telkom tidak boleh lagi terbebani oleh ongkos operasional anak usaha non-inti yang menguras kas induk.
Kunci Konsolidasi Mega-Proyek
Sebagai bagian dari agenda besar transformasi menuju strategic holding digital, BP BUMN dan Danantara menginstruksikan manajemen TLKM untuk mempercepat realisasi sejumlah proyek infrastruktur digital prioritas nasional, antara lain:
-
Konsolidasi FiberCo BUMN: Menyatukan seluruh aset jaringan kabel serat optik milik BUMN di bawah satu kendali operasi guna menghadirkan jaringan internet berkecepatan tinggi yang merata.
-
Pengembangan Data Center Skala Besar: Memperluas kapasitas komputasi awan (cloud) dan pusat data berstandar global untuk menangkap peluang bisnis Big Data dan kecerdasan buatan (AI) berdaulat.
-
Optimalisasi TowerCo & InfraCo: Mengonsolidasikan menara telekomunikasi dan infrastruktur pasif agar memiliki daya tawar komersial yang tinggi di pasar regional.
-
Penataan Ulang Lisensi Operasional: Merapikan dan mengintegrasikan perizinan spektrum frekuensi serta lisensi digital di internal grup agar penggunaan aset negara menjadi lebih optimal.
Melalui bauran strategi penyederhanaan struktur ini, BP BUMN bersama Danantara berkomitmen memperkuat penegakan prinsip tata kelola (GCG), mengoptimalkan utilisasi aset negara, serta melahirkan ekosistem digital nasional yang sehat. Telkom Group diproyeksikan bertransformasi menjadi korporasi yang sehat finansial, adaptif, serta tangguh bertarung di kancah global sebagai motor penggerak ekonomi digital Indonesia. ***
Cetak Biru Garis Besar Perampingan Struktural & Sektor Prioritas Telkom Group
| Dimensi Operasional | Kondisi Eksisting | Target Arsitektur Baru (Akhir 2026) | Instrumen Strategi Eksekusi | Proyeksi Dampak Efisiensi Makro |
| Jumlah Anak Usaha | 67 Perusahaan Ritel | Dipangkas Jadi 19 Entitas | Merger, Divestasi, & Likuidasi massal | Memangkas birokrasi & beban biaya operasional |
| Model Tata Kelola | Komando operasional terfragmentasi | Strategic Holding Digital Terpadu | Pembentukan enterprise holding baru | Pergerakan bisnis grup menjadi lebih lincah (agile) |
| Infrastruktur Jaringan | Aset serat optik terpisah | Konsolidasi FiberCo BUMN | Integrasi jaringan kabel hulu-hilir | Konektivitas data nasional lebih murah & stabil |
| Manajemen Aset Fisik | Menara & infrastruktur mandiri | Optimalisasi TowerCo & InfraCo | Komersialisasi aset pasif terintegrasi | Keunggulan daya saing menghadapi pasar global |
| Kapasitas Teknologi | Pusat data skala menengah | Pengembangan Data Center Global | Ekspansi infrastruktur cloud & AI | Mengamankan kedaulatan data digital nasional |






.jpg)










