Yogyakarta – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia bersama Kementerian Perdagangan menggelar seminar bertajuk “Pemberdayaan Usahawan dan Potensi Daerah untuk Meningkatkan Ekspor” bertempat di Hotel Harper, Yogyakarta, Kamis (3/4/2015). Seminar ini merupakan bagian dari kegiatan Kadin dan Kementerian Perdagangan untuk membantu UKM-UKM lokal yang dinilai potensial dan memiliki peluang untuk berkembang pada lini bisnis nasional maupun global..
“Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk pola kemitraan strategis antara Pemerintah dan pelaku usaha dalam penguatan daya saing produk unggulan daerah guna mendukung ekspor daerah dan nasional,” papar Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Perbankan dan Finansial, Rosan P. Roeslani dalam sambutan tertulis di awal acara.
Rosan Roeslani menjelaskan, sebagai mitra pemerintah KADIN hendak melakukan pendampingan sekaligus mendukung usaha-usaha kecil potensial yang ada di DI Yogyakarta. Melalui kegiatan ini diharapkan akan lahir enterpreneur-enterpreneur baru dari DIY yang memiliki kompentensi dan daya saing, seiring mulai diberlakukannya MEA 2015. Dia menjelaskan, DIY dikenal sebagai salah satu ujung tombak perekonomian nasional dalam bidang ekonomi kreatif. Industri skala kecil di bidang garmen-konveksi asal DIY, misalnya, memiliki pangsa pasar yang luas dan diminati secara nasional maupun global.
“Pasar akan sangat luas dengan pemberlakuan MEA nanti. Keuntungan ini yang perlu difasilitasi agar potensi ekonomi, terutama yang terkategori UKM dan usaha kreatif lokal lainnya mampu ikut mendulang profit,” tambah Rosan.
Selain peluang pasar dan kualitas produk, Rosan menilai tantangan lainnya muncul dari permodalan atau pembiayaan. Sebagaimana data yang dilansir BKPM (2014), hambatan terbesar investasi di Indonesia setelah masalah akses keuangan. Problem keuangan ini malah dinilai lebih berpengaruh dibandingkan hambatan berupa inefisiensi birokrasi dan masalah infrastruktur.
“Banyak usaha kecil yang potensial yang mengalami kesulitan dalam pemodalan melalui jalur perbankan dan lembaga keuangan lain karena dinilai tidak bankable. Untuk itulah mereka perlu dibantu melalui skema pembiayaan lain, misalnya modal ventura, agar usaha mereka dapat berkembang,” papar Rosan.
















