Tahun ini, bisa dibilang merupakan tahun ketidakpastian. Pelemahan ekonomi yang sudah berlangsung dua tahun belakangan ini telah membuat hampir semua sektor bisnis melamban. Tahun depan banyak yang melihat kondisinya tidak akan jauh lebih baik dari itu. Bahkan ketika Donal J Trump terpilih jadi Presiden AS dan perubahan politik di beberapa negara Eropa, risiko global makin terlihat suram.
Kondisi tersebut menimbulkan pesimisme, terutama bagi kalangan investor. Salah satunya kekhawatiran pemerintahan Trump merealisasikan kebijakan pajak yang mampu memicu kenaikan suku bunga acuan lebih cepat dari yang dibayangkan. Keputusan itu tentu akan menarik kembali arus modal ke AS karena dianggap tempat yang lebih aman dan akan menekan mata uang banyak Negara, tak terkecuali Indonesia.
Ekonom senior Bank Dunia Hans Anand Beck menjelaskan, ada beberapa risiko yang dihadapi perekonomian Indonesia, baik secara negatif maupun positif. Salah satu risiko negatif yang disoroti Beck adalah pengaruh pelemahan kondisi perekonomian global. “Ada risiko penurunan yang berpengaruh terhadap proyeksi. Salah satunya yang terkait berlanjutnya pelemahan ekonomi dan perdagangan global,” jelas Beck.
Bank Dunia dalam rilis terbarunya tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu mencapai 5,1 persen pada 2016 dan 5,3 persen di 2017. Risiko lainnya menurut Beck adalah adanya ketidakpastian terkait kapan bank sentral AS Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate dan magnitude-nya. (Saat mengatakan hal ini, The Fed belum menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen). Beck menjelaskan, The Fed kemungkinan akan tetap menaikkan suku bunga acuan, namun tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi AS dan dampaknya secara global. “Suku bunga acuan AS akan naik, tapi saya rasa mereka tidak mau membuat panik pasar keuangan global,” ujar Beck.
Selain itu, Beck juga menyoroti risiko harga komoditas. Menurut dia, harga komoditas dunia akan naik secara perlahan, namun tidak akan secara dramatis hingga menyentuh level sebelum 2014.
Meski demikian, perekonomian Indonesia memiliki peluang besar untuk tetap menjaga pertumbuhan tetap pada jalurnya yaitu dengan adanya kebijakan pengampunan pajak. “Tax amnesty adalah risiko positif yang kemungkinan akan menaikkan (prospek pertumbuhan ekonomi). Kami memantau peningkatan penerimaan pajak sejak periode pertama pengampunan pajak,” ungkap Beck.
Hal itu juga dikatakan kalangan pengamat yang menilai bahwa Program Pengampunan Pajak masih mampu mendorong masuknya dana ke dalam negeri dalam jumlah cukup besar.
Dengan itu kurs rupiah terhadap dollar AS diproyeksikan tahun depan berada pada rentang Rp 13.300 – 13.400. “Dari tax amnesty ada inflow. Walaupun ada capital outflow tapi masih ada inflow, dan indeks tetap diproyeksikan akan menguat,” ujar Kepala Ekonom PT Bank BRI Tbk Anggito Abimanyu.
Selain itu, ekspor Indonesia juga diproyeksikan mengalami peningkatan tahun depan. Ini terjadi seiring dengan kenaikan harga minyak dunia yang juga berpengaruh terhadap perbaikan untuk berbagai komoditas. “Sehingga posisi Indonesia akan lebih baik dari yang lain. Meskipun seluruh negara terkena, dan cukup dalam,” tegas Anggito.
Sementara itu lembaga think tank pemerintah, Bappenas, memproyeksikan pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 akan berada di kisaran 5,1 persen-5,3 persen. Angka itu sudah memperhitungkan berbagai potensi dan risiko dari global seperti pelemahan ekonomi global dan kebijakan ekonomi di China serta Amerika Serikat.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang P.S Brodjonegoro mengatakan risiko global terbesar berasal dari China yang kemungkinan mengetatkan kebijakan ekonominya untuk menghadapi peningkatan utang pemerintah dan swasta.
Hasil simulasi Bappenas menunjukkan pertumbuhan ekonomi di China bisa mengikis produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga 0,72 presentase poin terhadap baseline di 2017. “China akan menurun di tahun depan, setelah pada 2016 diperkirakan lebih rendah dari 2015. China memiliki uang sektor swasta dan BUMN yang jumlahnya cukup besar di luar pertumbuhan yang melambat. Uni Eropa diperkirakan lambat, begitu pula Jepang,” kata Bambang.
Pertumbuhan ekonomi negara emerging market seperti India juga cenderung sama dengan tahun ini yaitu akan bertahan di level 7 -7,5 persen. Pertumbuhan AS yang menjadi motor penggerak ekonomi dunia setelah suku bunga acuannya dinaikkan 14 Desember lalu, diyakini akan tumbuh lebih 2 persen tahun depan. Lebih baik dari tahun ini yang diperkirakan mencapai 1,5 persen. Untuk itu, di tengah kondisi perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian, ekonomi Indonesia memiliki potensi untuk bisa bertahan supaya terus tumbuh. Salah satu upaya pemerintah adalah mengupayakan agar anggaran negara tahun depan mampu menciptakan daya tahan ekonomi dalam negeri.
Hal itu ditandaskan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bahwa Indonesia harus bisa tumbuh, tidak hanya bertahan. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan suntikan optimisme dari investor dalam negeri, bagaimana memanfaat kesempatan yang muncul dari tantangan yang ada.
Pemerintah akan mendorong investasi baik dari konsumsi pemerintah secara langsung, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), maupun dari pihak swasta. Di sisi sektoral, sektor manufaktur, konstruksi, pariwisata, perdagangan, transportasi, dan komunikasi masih bisa untuk tumbuh positif.
Dari sisi belanja pemerintah akan mengandalkan untuk yang sifatnya produktif, seperti infrastruktur, dan sosial. Infrastruktur sendiri diharapkan dapat menunjang investasi, sedangkan sosial seperti edukasi dan kesehatan diharapkan mampu menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, di mana mayoritas penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh para anak muda.
“Oleh karena itu, kami harus mengembalikan kredibilitas dari APBN. Sesudah kredibel, dia akan muncul dari penerimaan atau belanja negara. Keduanya sangat penting untuk menciptakan domestik demand yang berasal dari investment. Ini semua untuk memperkuat ekonomi Indonesia dalam menghadapi situasi yang tidak pasti di luar,” jelas Sri Mulyani.
Memahami Ketidakpastian
Sri Mulyani juga menegaskan perlunya pemahaman yang mendalam untuk mengetahui arti sesungguhnya ketidakpastian ekonomi global yang saat ini terus berlangsung. Menurutnya pergerakan ekonomi terutama di global merupakan sebuah hal yang tak bisa dipegang dan dipastikan.
Bahkan, di dunia ini bisa dikatakan tak ada yang pasti. Dirinya pun mengutip penyataan mantan Presiden AS Franklin Roosevelt. “Kalau candanya Presiden AS dalam dunia ekonomi, yang pasti hanya dua, mati dan pajak. Itu saja,” kata Sri Mulyani.
Menurut dia agak sulit menghubungkan bingkai ketidakpastian ekonomi dengan sesuatu yang pasti. Apalagi, dalam mengelola ekonomi tentu ada tujuan akhir yakni menjadikan masyarakat yang adil dan makmur.
Selama ini yang membuat ketidakpastian dalam ekonomi yakni masyarakat itu sendiri. Masyarakat membuat hidup mereka tak pasti dan banyak di antara mereka masih menyimpan uangnya di bawah bantal.
Padahal, jika masyarakat sadar bahwa penting menaruh uangnya di bank demi menggerakkan perekonomian dalam negeri, tentu ekonomi Indonesia tak akan terpengaruh dengan dinamika yanng terjadi di luar. “Mungkin tidak langsung di perbankan tapi di bawah bantal atau beli benda logam atau aset lainnya, sehingga tidak langsung masuk ke capital market atau fnancial instrument,” ujar dia.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menegaskan, kedepannya pihaknya akan mendisiplinkan masyarakat untuk melakukan aktivitas menabung. Selain untuk menguatkan perekonomian, juga tentu membuat hidup mereka lebih pasti, terutama di hari tua. Salah satu caranya yakni dengan memasukkan dananya ke instrumen pensiun.
“Jadi agar orang itu makin lama hidupnya makin tenang dan kepastian. Itu menciptakan lingkungan ekonmi yang lebih pasti lagi. Dengan begitu Indonesia bisa lebih kuat dari ketidakpastian,” pungkas dia.
















