BERITA TERKAIT
Tidak banyak eksekutif di Indonesia yang begitu menggilai sepakbola, boleh dibilang hingga mendarah daging. Bahkan meresapinya sampai kepada praktik bisnis perbankan yang digelutinya. Yang sedikit itu adalah Sunarso, bankir yang baru saja diangkat menjadi Wakil Direktur Utama Bank BRI.
Sepakbola, bagi dia, bukan sekadar permainan. Olahraga ini merupakan permainan cerdas dan cocok buat ditiru perbankan maupun dunia usaha. Karena dalam sepakbola terdapat value strategy untuk mencapai tujuan. Filosofi sepakbola juga cocok diterapkan dalam organisasi dan perbankan. Apalagi tim sepakbola merupakan organisasi yang memiliki aturan yang jelas, termasuk dalam menempatkan posisi masing-masing pemain.
“Setiap pemain mempunyai tugas sendiri, seperti kiper, penyerang, dan bek. tapi semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni mencapai target untuk menang. Target itu hanya bisa dicapai dengan team work yang kuat. Team work akan melahirkan strategi untuk mencapai target,” kata Sunarso kepada Stabilitas.
Mantan Direktur Bank Mandiri ini memang dikenal suka sepakbola yang akhirnya menginsipirasinya kala membangum tim di tempatnya bekerja. Baginya, tim hebat tidak bisa dibeli, tapi harus dibangun. Dia mencontohkan klub kesayangannya FC Barcelona. “Barca membuktikan teori saya bahwa tim hebat tidak bisa dibeli, tapi dibangun. Apa yang harus dibangun? Ya organisasinya, spirit, mental pemain. Maka dibentuklah apa yang dinamakan culture dari tim tersebut. Membangun culture itu kuncinya komunikasi,” terang Sunarso, yang lahir dari anak keluarga petani di Desa Gambiran, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, pada 7 November 1963.
Sepakbola juga menjadi miniatur dari organisasi besar dan penyederhanaan jitu dari situasi yang kompleks, sehingga bisa dipakai sebagai model membangun tim organisasi. Dia mencontohkan ketika pada 2007 dia ditugaskan perusahaan untuk membentuk unit kerja baru di corporate banking yang fokus kepada pengelolaan nasabah-nasabah yang bergerak di bidang perkebunan.
“Waktu itu, saat membangun Agrobased Group, tidak banyak orang yang saya rekrut, hanya 25 anak muda, 15 diantaranya fresh graduate. Disitu saya tanamkan nilai-nilai semangat kebersamaan untuk trust satu sama lain, kemudian bekerja untuk tujuan bersama. Hasilnya luar biasa bagus, baik buat tim dan perusahaan,” kenang pria yang meraih gelar Insinyur Pertanian dari IPB jurusan Agronomi (1988) dan Magister Sains dari UI (2002).
Kesuksesannya memimpin Agrobased Group, membuat pemegang saham Bank Mandiri dalam RUPS Mei 2010 mengangkatnya menjadi Direktur yang membidangi Direktorat Commercial & Business Banking. Di direktorat ini, Sunarso menjalankan tugas utamanya memimpin lebih dari 3.000 karyawan dan juga mengawasi anak perusahaan, yakni Bank Syariah Mandiri yang memiliki 16.000 karyawan.
Direktorat Commercial & Business Banking mengelola bisnis segmen Commercial (nasabah perusahaan atau grup perusahaan berskala besar), sedangkan Business Banking mengelola nasabah-nasabah Small Medium Enterprise (SME) atau sering disebut UKM. Pada tahun 2014, Direktorat yang dipimpin Sunarso memberikan konstribusi laba sebesar Rp10,5 triliun dari total laba Bank Mandiri yang sebesar Rp19,9 triliun.
Sepak terjangnya di segmen Commercial & Business Banking tak hanya membuatnya dikenal oleh para pelaku usaha di segmen tersebut. Berdasarkan survei yang dilakukan Majalah Alpha Southest Asia pada 2012, Sunarso dinobatkan sebagai salah satu dari 4 orang The Most Influential People in Southeast Asia, kategori Leading Corporate & Commercial Bankers.
Kontribusinya dalam pengembangan sektor UKM juga diapresiasi oleh Majalah The Asset, majalah ekonomi yang berpusat di Hongkong, dengan menobatkan Bank Mandiri sebagai The Best SME Banking pada 2011,2012 dan 2013 serta menobatkan dirinya sebagai SME Banker of The Year 2013.
Habitat yang Pas
Pria yang juga suka menonton pertunjukan wayang ini memulai kariernya sebagai konsultan di PT Rekakarya Utama, perusahaan konsultan perencanaan tata ruang (1988-1989), kemudian menjadi Field Manager perusahaan perkebunan PT Sembada Tanam Pertiwi (1989-1990). Pada akhir 1990, Sunarso diterima di PT Bank Dagang Negara (BDN) melalui jalur Officer Development Program. Berbagai posisi telah dijalaninya sampai BDN merger dengan bank pelat merah lain menjadi Bank Mandiri. Di Mandiri, Sunarso menempati beberapa posisi, mulai dari Senior Relationship Manager, Vice President di Corporate Banking, Senior VP di Agrobased Group dan menjadi Direktur pada 2010.
Kini, pemerintah mempercayainya untuk menjadi Wakil Direktur Bank BRI. Pria yang sudah dinyatakan lulus fit and proper test oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) medio April lalu ini akan membawahi bridging finance, treasury & international, commercial banking, consumer banking, BUMN dan kelembagaan.
Bapak tiga orang putri ini mengaku bangga dengan amanah para pemegang saham yang diberikan kepadanya. Namun, amanah itu bukan sekedar promosi jabatan dari Direktur menjadi Wakil Direktur Utama. Kebanggaannya lebih didasari pada kesempatan baginya untuk merealisasikan hal-hal yang menjadi kompetensinya.
Kompetensinya adalah, pertama, professional experience sebagai corporate and commercial banker. Kedua, personal life experience, latar belakang keluarga, pendidikan dan perjalanan karirnya, termasuk membawahi commercial & business banking di Mandiri. Ketiga, passion-di perbankan, yakni di agrobanking.
“Berbekal tiga kompetensi tadi, rasanya saya menemukan habitat yang pas dan ideal buat saya. Bukan berarti di habitat yang lain tidak cocok, di sini (BRI) merasa lebih pas. Itu alasan mengapa penugasan ini membanggakan bagi saya karena saya punya kesempatan untuk mengaplikasikan, merealisasikan hal-hal yang menjadi kompetensi saya di habitat yang baru ini, yang menurut saya sangat kondusif,” tandas suami dari Arena Prima ini.

















