• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Strategi Atasi Anomali Rupiah

by Sandy Romualdus
31 Mei 2015 - 00:00
16
VIEWS
Strategi Atasi Anomali Rupiah
0
SHARES
16
VIEWS

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Nasib rupiah sepertinya masih belum menentu. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Bank Indonesia (Jisdor BI) rupiah kembali menguat pada level Rp12.937 (30/4), setelah sebelumnya sempat kembali menembus kisaran Rp13.000- per dollar AS. Berarti rupiah telah terdepresiasi lebih dari 4 persen, termasuk terburuk sejak krisis moneter 1998. Meski tidak besar, depresiasi rupiah akan turut memberikan sumbangan terhadap inflasi. Karena menurut Bank Indonesia, setiap 1 persen depresiasi akan menyumbang inflasi sebesar 0,07 persen.
Posisi rupiah terhadap dollar AS memang begitu rentan, namun tidak dengan mata uang lain seperti Yen atau dollar Australia. Kondisi seperti ini diperkirakan akan terus berlangsung sampai kondisi perekonomian negeri Paman Sam benar-benar pulih. Ketergantungan nasib terhadap dollar AS inilah bisa dikatakan sebagai anomali. Hingga kini, keperkasaan dollar AS masih sulit dikalahkan, dan perilaku pasar domestik juga menjadi salah satu pemicunya.
Data BI menyebutkan, transaksi dollar AS di pasar spot dalam negeri sudah melonjak hingga 567 persen menjadi 2 milliar dollar AS perhari. Padahal sebelumnya hanya 300 juta dollar AS. Bila digabungkan dengan pasar forward dan pasar swap, transaksi per harinya menjadi 7 milliar dollar AS. Transaksi sebesar itu terjadi karena demand terhadap dollar AS meningkat untuk berbagai keperluan, seperti impor dan pembayaran utang luar negeri, repatriasi keuntungan penanaman modal asing, serta pelepasan portofolio saham dan surat berharga negara. Demand yang tinggi juga disebabkan aksi perusahaan membeli dollar AS untuk mengatasi kerugian akibat selisih kurs. Kerugian semacam ini memang sulit dicegah, malah cenderung sulit dikendalikan.
Bila anomali kurs ini berkepanjangan, utang BUMN dan swasta akan semakin membengkak. Data BI menyebutkan, utang luar negeri Indonesia per Desember 2014 mencapai 292,6 miliar dollar AS, 55,7 persen merupakan utang swasta, sementara utang luar negeri pemerintah dan BI mencapai 44,3 persen. Kurs dollar pada 31 Desember masih Rp 12.440, bila tidak dilakukan lindung nilai, maka pada bulan ini (April 2015) seluruh utang luar negeri Indonesia meningkat sebesar 4,5 persen.

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Mitigasi Risiko

Risiko kerugian akibat selisih nilai tukar tidak bisa dipandang sebelah mata. Bila dibiarkan berlarut, dalam jangka pendek dapat menjadi penyebab perusahaan gulung tikar, dalam jangka panjang bisa menjadi pemicu terjadinya krisis. Setidaknya ada tiga cara yang harus diperhatikan pemerintah mengatasi ini. Pertama, perusahaan harus melakukan strategi meminimalisir dampak akibat selisih kurs dengan lindung nilai (hedging).
Sayangnya, lindung nilai belum menjadi budaya, tidak seperti di Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Di negeri matahari terbit, hedging sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Begitu juga di Tiongkok, fungsi lindung nilai di negeri tirai bambu sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab bank sentral. Korea Selatan sendiri rasio hedging-nya sudah mencapai 30 persen. Rasio hedging adalah selisih antara aset valas milik perusahaan dengan kewajiban valas yang akan jatuh tempo dalam waktu 6 bulan.
Bila mengacu kepada PBI No. 16/21/2014 tentang Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank yang merupakan penyempurnaan dari PBI No. 16/20/ PBI/2014 tanggal 28 Oktober 2014, rasio hedging yang berlaku saat ini sebesar 20 persen. BI akan menaikan rasio menjadi 25 persen dan berlaku pada Januari 2016. Berdasarkan survei yang dilakukan BI terhadap 154 perusahaan, jumlah pengutang terbesar yang rasio hedgingnya sudah mencapai 20 persen baru sebanyak 54 persen, sisanya, 47 persen belum mengadopsi lindung nilai atau rasio hedgingnya masih di bawah 20 persen.
Kedua, tegakkan ketentuan yang terkait kewajiban transaksi di dalam negeri menggunakan rupiah. Pada pasal 34 UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang disebutkan, setiap orang yang tidak menggunakan rupiah dalam : setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran; penyelesaian kewajiban lainnya yang harus dipenuhi dengan uang; dan/atau ; transaksi keuangan lainnya, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun dan pidana denda paling banyak Rp200 juta.
Bila aturan tersebut tidak diberlakukan, maka akan menjadi salah satu pemicu meningkatnya demand mata uang asing terutama dollar AS. Penegakan ketentuan aturan ini diharapkan turut berkontribusi menurunkan permintaan terhadap dollar AS karena transaksi.
Ketiga, meski masih terhitung tinggi dan berpotensi akan menimbulkan dampak lain, pada tahun ini BI Rate sepertinya bisa sedikit dinaikan sekitar 0,25 bps menjadi 7,75 persen. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya market shock yang disebabkan aliran dana yang tiba-tiba secara deras pergi (capital outflow) menuju AS bila The FED jadi menaikan suku bunganya. Dengan kondisi pasar keuangan yang masih dangkal, untuk jangka pendek, cara ini masih cukup efektif meredam keinginan pemilik modal mengalihkan dananya.

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital
 
 
 
 
 
Previous Post

Gadai Emas Syariah

Next Post

Memegang Filosofi Sepakbola

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BTN Layani Transaksi Pendaftaran Dan Iuran BPJS

BTN Layani Transaksi Pendaftaran Dan Iuran BPJS

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance