• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Internasional

Menanti Titik Balik Krisis Eropa

by Sandy Romualdus
16 Desember 2011 - 00:00
9
VIEWS
Menanti Titik Balik Krisis Eropa
0
SHARES
9
VIEWS

Krisis Eropa belum juga memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Bahkan diperkirakan pada 2012 nanti kawasan zona euro ini akan mengalami masa kelam mengingat belum ada solusi yang berarti.

Oleh : Ainur Rahman

  • Baca juga: Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

Pada awal tahun 2011, para pengambil kebijakan di Eropa sangat optimistis krisis akan berangsur-angsur membaik dengan menerbitkan kebijakan krusial sebagai upaya mengakhiri defisit anggaran dan menyebarnya utang di kawasan zona euro.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Dalam skema yang luncur 13 Januari, ditetapkan bahwa anggaran nasional masing0masing anggota di masa mendatang akan berada di bawah pengawasan Uni Eropa (UE) sebelum diberlakukan pemerintah masing-masing negara.

Di bawah kebijakan yang disebut Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan Uni Eropa itu pula, para anggota harus menjaga defisit anggaran di bawah tiga persen dari PDB. Hal ini merupakan tantangan berat bagi pemerintah karena saat ini sebagian melampaui batas tersebut.

Reformasi keuangan UE yang rencananya resmi akan diadopsi September tidak berhasil membawa perbaikan bahkan parahnya lagi tidak terlaksana. Penyebabnya tak lain adalah adanya beberapa anggota yang bersikukuh menjaga kedaulatan fiskalnya. Menurut negara-negara tersebut terutama Inggris dan Jerman, kondisi dalam negeri mereka tentu yang menjadi prioritas.

Hal itu tidaklah mengherankan karena dalam tubuh organisasi negara bermata uang tunggal itu, karena persoalan mata uang memang menjadi urusan kawasan Eropa sebagai sebuah kesatuan. Namun soal anggaran dan ekonomi hanya sebagian saja yang sudah terintegrasi. Masing masing negarapun akhirnya ingin membatasi tanggung jawab dalam menanggung masalah kawasan.

Itulah yang membuat persoalan krisis Eropa demikian pelik. Belum lagi perbedaan yang mencuat antara pengambil keputusan politik dan ekonomi yang membuat proses pencarian solusi tidak juga beranjak dari tempat gelap.

Malahan krisis Eropa telah memakan korban setelah George Papandreou dari Yunani dan Silvio Berlusconi dari Italia harus rela kehilangan kursi perdana menteri. Bahkan terakhir, Kepala IMF zona Eropa Antonio Borges juga memilih mundur yang membuat krisis euro yang kental dengan masalah politik makin jauh dari penyelesaian.

“Antonio Borges, Direktur International Monetary Fund’s European Department, telah memberitahu Direktur Pelaksana di Inggris menyatakan pada 31 Oktober lalu, dengan mengurangi kepemilikan obligasi Spanyol, Italia, Portugal, Irlandia dan Yunani sebesar 31 persen dalam tiga bulan bisa jadi pilihan yang realistis.

Royal bank of Scotland Group Plc, sebagai bank milik pemerintah terbesar di Britain, juga telah mengurangi obligasi dari negara-negara itu menjadi 1,1 miliar pounds dari 4,6 miliar pounds tahun ini juga akibat makin tidak menentunya penyelesaian krisis negara tersebut.

Hengkangnya pembeli obligasi kelas kakap ini membuat Uni Eropa pincang dan langkah rekapitalisasi perbankan Eropa hampir tak ada efeknya. CreditSights Inc dalam catatannya mengatakan, “langkah ini tidak memperbaiki masalah utama yakni status obligasi yang buruk,” kata laporan ini.

  • Baca juga: Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

BANK TERGUNCANG

Bahkan kerugian akibat obligasi Yunani dan pelemahan penyerapan obligasi pemerintah ini telah menghantam pendapatan perbankan Eropa di kuartal ketiga 2011. Bank-bank seperti Commerzbank, asal Jerman melaporkan kerugian sebesar 687 juta euro pada 4 November lalu, setelah melakukan cut loss di obligasi Yunani dan sekuritas di Eropa Selatan merugi.

Chief Financial Officer (CFO) Commerzbank, Eric Strutz, menyalahkan regulator yang dianggapnya memperkeruh keadaan dengan membuat peraturan pengetatan perbankan dengan mengharuskan perbankan meningkatkan modal. Hal ini secara efektif mendorong perbankan Eropa untuk menjual obligasi pemerintah yang mereka punya “Sedikit aneh melihat para pembuat kebijakan berdebat tidak pada penciptaan suplai di pasar. Dengan pengetatan itu, semua bank tentu akan menjual obligasi, karena pada akhirnya, perbankan butuh modal untuk memenuhi aturan pengetatan itu,” ujar Strutz.

Sekadar informasi, menurut Open Europe, lembaga riset yang berbasis di London dan Brussels, dari obligasi Yunani sebesar 355 miliar euro, sebesar 127 miliar euro surat utang dipegang oleh Uni Eropa (UE), International Monetary Fund (IMF) dan European Central Bank (ECB). Sementara sekitar 90 miliar euro milik perbankan Eropa yang sebagian besar adalah perbankan Yunani.

Fitch Ratings yang melakukan pemeringkatan utang menyatakan bahwa terdapat beberapa bank yang kondisinya tidak sehat lagi. Tiga bank raksasa kelas dunia yang terpaksa menelan pil pahit menurut survey dari Fitch adalah UBS AG, Lloyds Banking Group Plc, dan Royal Bank of Scotland Group Plc. Lebih dari sepuluh bank lainnya dilaporkan segera menerima nasib serupa.

Peringkat jangka panjang UBS berkurang dari semula A+ menjadi A. Meski UBS memiliki kedekatan dengan Pemerintah Swiss yang saat ini dianggap aman dari goncangan krisis, hal tersebut tidak menjadi jaminan.

Peringkat Lloyds dan RBS diturunkan dua grade, yaitu dari AAAA- menjadi A. Menurut Fitch, prospek ke depan bank belum memberikan jaminan kemajuan yang signifikan. Selain tiga bank tersebut, Fitch menempatkan peringkat kelayakan dan prospek negatif tujuh bank berskala global, termasuk Goldman Sach Group Inc dan Morgan Stanley terkait dengan peraturan baru bagi perbankan dan perkembangan ekonomi global.

Lembaga pemeringkat kelas dunia itu juga memasukkan bank asal Eropa, yaitu Credit Agricole SA dalam status pengawasan sehubungan dengan kekhawatiran utang negara di Uni Eropa.

Sementara itu, Otoritas Perbankan Eropa (EBA) menilai bahwa bank-bank Uni Eropa akan memerlukan tambahan 106 miliar euro (147 miliar dolar AS) untuk memenuhi persyaratan modal baru di bawah kesepakatan untuk mengatasi krisis utang zona euro. “Target awal dan agregat indikatif modal di tingkat Uni Eropa, berdasarkan angka imbal hasil obligasi negara Juni dan akhir September, sebesar 106 miliar euro,” kata badan pengawas dalam sebuah pernyataannya.

Maka banyak pihak yang mengatakan bahwa tahun ini menjadi titik balik penyelesaian krisis di zona euro ini. Jika tidak ada langkah penyelesaian maka dipastikan dampak krisis ini akan semakin besar. Bahkan dipastikan pada 2012 nanti kawasan zona euro ini akan mengalami masa kelam dan gaungnya juga akan dirasakan Asia, termasuk Indonesia.

  • Baca juga: Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

Oleh karena itu, tak ingin perekonomian Indonesia terguncang, Bank Indonesia menyiapkan langkah antisipatif untuk menangkal imbas krisis utang zona euro. Namun demikian, pejabat BI belum bisa mengungkapkan kebijakan apa yang akan diluncurkannya terkait hal itu. “Kami masih perkirakan krisis Eropa itu akan tetap terjadi. Ya kita lihat lah nanti,” kata Deputi Gubernur BI Muliaman Hadad.

“Saya belum bisa komentar banyak soal itu. Memang berbagai kemungkinan masih bisa karena krisis di Eropa kita juga belum tahu arahnya seperti apa, terutama yang terkait dengan supply and demand valas yang ada di sini,” ujar Muliaman. SP

 
 
 
 
 
Previous Post

Pasar Jasa Audit Belum Akan Berubah

Next Post

BII – Lion Air Luncurkan Cargo Online Payment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

by Stella Gracia
8 Oktober 2026 - 11:49

Korea Selatan menyelidiki pembobolan data 68.000 nasabah di tujuh bank terkemuka akibat serangan siber otomatis berbasis Artex AI. Stabilitas.id - Pemerintah...

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:11

Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen pada kuartal III/2026 ditopang ekspor dan investasi, memicu ADB merevisi proyeksi pertumbuhan tahunan menjadi 7,8...

Setahun Berjalan, Bullion Bank Pegadaian dan BSI Himpun 153 Ton Emas

Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

by Stella Gracia
23 September 2026 - 10:36

Tiongkok membukukan rekor impor emas melampaui 1.000 ton senilai Rp2.811 triliun. Manuver ini menjadi langkah mitigasi risiko seiring kolapsnya properti...

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

by Stella Gracia
22 September 2026 - 10:49

IMF membunyikan alarm terkait rasio utang publik global yang akan melampaui 100% PDB pada 2029. Investor mulai rekalibrasi portofolio menjauhi...

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

Lawan Intervensi Trump, The Fed Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 4 Persen

by Stella Gracia
18 September 2026 - 18:14

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75-4,00 persen demi menekan inflasi, mengabaikan kritik dan desakan Presiden Donald...

Deeskalasi Timur Tengah: Trump Tangguhkan Serangan, Iran Ajukan Proposal 10 Poin

Ambisi Trump di Ladang Emas Hitam: Bayang-Bayang Skenario Venezuela di Tanah Persia

by Stella Gracia
14 September 2026 - 14:48

Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih kendali minyak Iran mengadopsi skenario kesepakatan Venezuela, di tengah memanasnya konflik Selat...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Mengembalikan Pengaruh BI Rate

Mengembalikan Pengaruh BI Rate

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance