• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Mengerem Risiko dengan Menurunkan Kredit

by Sandy Romualdus
6 Agustus 2016 - 00:00
14
VIEWS
0
SHARES
14
VIEWS

Di negara yang ekonominya masih bergantung pada sektor perbankan seperti Indonesia, setiap pelemahan pertumbuhan selalu diikuti kekhawatiran akan meningkatnya risiko kredit. Apalagi mulai 2014, pertumbuhan kredit selalu melorot dari tren selama ini, seiring juga dengan perlambatan ekonomi.

Padahal sejak tahun 2000 pertumbuhan kredit selalu berada di atas 20 persen. Pada 2014, pertumbuhan kredit mulai merosot, angkanya bahkan anjlok di 11,56 persen setahun kemudian angkanya makin rendah dan hanya tumbuh 10,12 persen. Tahun ini ketika banyak orang, termasuk pemerintah dan otoritas awalnya optimistis pertumbuhan kredit akan kembali ke track semula, pertumbuhan kredit diperkirakan akan anjlok lagi.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank Indonesia sendiri sudah menurunkan estimasi pertumbuhan kredit tahun ini menjadi 11 persen dari sebelumnya di atas 12 persen karena realisasi permintaan dan pasokan kredit yang rendah sejak awal tahun. “Kami lihat pertumbuhan yang rendah 8 persen (April 2016) kurang lebih akhir tahun ini sekitar 10-12 persen,” ujar Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Pertumbuhan kredit perbankan pada April 2016 yang sebesar delapan persen, juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit pada Maret yang sebesar 8,7 persen. Dan pada triwulan kedua pertumbuhan kredit juga belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, mengingat pertumbuhan ekonomi diprediksi tidak akan berbeda jauh dengan triwulan pertama.

Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, pertengahan Juli memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua 2016 adalah 4,94 persen. Angka ini di atas kuartal I-2016 yang sebesar 4,92 persen. “(Pertumbuhan ekonomi) 4,94 persen iya. Untuk satu tahunnya 5,04 persen,” kata Agus di Istana Negara, Jakarta, Senin (18/7).

Data BI menyebutkan bahwa sampai periode April 2016, pertumbuhan kredit perbankan hanya mencapai 8 persen. Sedangkan posisi (outstanding) kredit per akhir April 2016 sebesar Rp 4.006 triliun, tumbuh negatif dibandingkan akhir Desember 2015 yang senilai Rp 4.057 triliun.

Angka ini melambat jika dibandingkan dengan Maret 2016 yang sebesar 8,7 persen secara year of year (YoY). Tak hanya kredit, BI juga mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada April 2016 menurun menjadi 6,2 persen (YoY) dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,4 persen (YoY).

Pola ini tergolong tidak lazim karena pada tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan negatif biasanya hanya terjadi sampai bulan ketiga tahun berjalan. Namun, menurut Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Asmawi Syam, perlambatan kredit pada kuartal pertama memang menjadi tren yang biasa dari tahun ke tahun. “Memang kalau dari Januari, year to date tumbuhnya enggak tinggi, enggak sampai 1 persen, tapi kalau year on year kita masih tumbuh 18 persen, memang fenomena seperti itu,” papar Asmawi beberapa waktu lalu.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menilai wajar perlambatan pertumbuhan kredit Indonesia secara year on year (YoY), lantaran ekonomi RI dinilai belum stabil. “Wajar kalau turun. Karena kan ekonomi kita masih belum bisa dikatakan membaik betul. Hanya saja, kita di ASEAN ini malah relatif yang oke,” papar Ketua Komisioner OJK Muliaman D. Hadad usai acara Warta Ekonomi Digital Innovation Award for Banking 2016 belum lama ini.

Dia menambahkan bila pertumbuhan ekonomi kembali bergairah, maka untuk penyaluran kredit perbankan juga akan semakin besar. “Karena ekonomi kita belum stabil, maka permintaan kredit melemah dan melambat,” sambung dia.

Namun Muliaman percaya, bahwa kebijakan BI untuk menstimulus pelonggaran aturan KPR yang dikeluarkan beberapa waktu lalu akan bisa mendorong pertumbuhan kredit lebih cepat. “Dari Loan To Value (LTV) uang muka (down payment) bisa bantu karena berikan kemudahan kredit kepada nasabah, bisa create demand,” ujarnya.

NPL Naik

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Akan tetapi perlambatan ekonomi adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah. Perlambatan itu juga tak pelak juga membuat kredit bermasalah (NPL) naik. BI mencatat, hingga akhir Maret atau kuartal I-2016, rasio NPL perbankan Indonesia naik ke 2,8 persen (gross), dari akhir 2015 yang mencapai 2,7 persen. Kenaikan terjadi karena kondisi ekonomi melambat. Pada kuartal I-2016, ekonomi Indonesia tumbuh 4,92 persen, melambat dari kuartal IV-2015 yang masih di atas 5 persen.

“Dari NPL gross dan nett ada suatu peningkatan. Salah satunya diakibatkan pertumbuhan PDB (ekonomi) yang relatif lambat dan ini suatu kebiasaan, sehingga dari sisi NPL mengalami pemburukan. Kalau pertumbuhan ekonomi meningkat, NPL bakal ke sisi normal,” jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Erwin Rijanto.

Malahan jika melihat tren sejak 2014, tren kenaikan NPL terus berlanjut. Menurut Pusat Data Analisis Stabilitas (PDAS), Selama Desember 2014 hingga April 2016, terdapat lima sektor dengan NPL terbesar dan memiliki tren peningkatan pada periode tersebut. Kelima sektor tersebut adalah sektor pertambangan dan penggalian, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, transportasi, pergudangan dan komunikasi serta sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya.

Dari lima sektor tersebut di atas, sektor sektor pertambangan dan penggalian menjadi sektor dengan peningkatan nilai NPL terbesar. Pada Desember 2014, NPL sektor tersebut sebesar 2,52 persen. Angkanya meningkat menjadi 5,15 persen pada April 2016. Sedangkan nilai rata-rata NPL nya adalah sebesar 3,62 persen persen. Sektor dengan rata-rata NPL tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar 5,15 persen.

Meski begitu, secara total rasio NPL perbankan Indonesia masih aman karena jauh di bawah 5 persen. Apalagi, ujar Erwin, perbankan membuat pencadangan dan melakukan klasifikasi kredit. Sejumlah perbankan memang tertekan labanya di kuartal I-2016, karena harus membuat pencadangan akibat NPL yang naik, bank-bank besar seperti Bank Mandiri dan BCA tercatat mengalami kenaiakn NPL sepanjang kuartal I-2016.

Akan tetapi Erwin mengatakan, kondisi perbankan Indonesia sehat. Ini dapat dilihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang berada di 21,8 persen. Senada, Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan dengan NPL yang meningkat, perbankan akan cenderung berhati-hati memberikan kredit. Dikhawatirkan, kondisi ini akan membuat laju kredit tertahan, dan pertumbuhan ekonomi tak bisa melaju kencang.

Karena itu, BI akan melakukan koordinasi dengan OJK dan Menteri Keuangan, untuk terus menjaga kondisi ekonomi makro tetap stabil, dan likuiditas perbankan terjaga. Sehingga kredit bank bisa mengucur, dan mendorong ekonomi.

Melihat kondisi perekonomian dan risiko kredit yang meningkat, bank tentu sudah mulai ekstra waspada dan melakukan penyesuaian pada target kreditnya. Seperti yang dilakukan oleh Bank Mandiri. Sang Dirut, Kartika Wirjoatmodjo bahkan mengatakan tidak terlalu bernafsu memasang target pertumbuhan kredit tinggi akibat masih lemahnya penyaluran kredit perseroan pada kuartal pertama.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini penyaluran kredit Mandiri hanya tumbuh 8,7 persen atau lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. “Range OJK 12-14 persen memang masih masuk akal, tapi kalau untuk kami mungkin masih di range bawah itu,” kata Tiko.

Tiko optimistis penyaluran kredit Bank Mandiri baru akan mengalami kenaikkan signifkan pada kuartal ketiga nanti seiring dengan meningkatnya belanja pemerintah. Intinya, ia meyakini pertumbuhan kredit tetap akan terjaga pada tahun ini meski dengan kecepatan yang lambat. “Kami duga di kuartal tiga akan lebih naik, karena ada dampak belanja pemerintah. Tahun lalu kan belanja pemerintah baru kencang di kuartal empat, tahun ini harusnya kuartal tiga lah,” kata Tiko.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Senada, Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Herry Sidharta juga optimistis kredit korporasi bakal meningkat di semester kedua ini. Tercatat pertumbuhan kredit korporasi BNI rata-rata mampu tumbuh 20 persen per tahun.

BNI memproyeksikan kenaikan target penyalurankredit korporasi sekitar 50% dari target awal. Sejak awal, BNI membidik penyalurankredit korporasi senilai Rp 196 triliun di tahun 2016. “Kalau kami mendapat tambahan dana dari tax amnesty, mungkin kredit korporasi bisa bertambah sekitar Rp 90 triliun. Tergantung likuiditas kami juga,” papar Herry. 

 
 
 
 
 
Previous Post

Angin Segar di Pasar Modal

Next Post

Perlambatan Ekonomi dan Celah Pertumbuhan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post

Perlambatan Ekonomi dan Celah Pertumbuhan

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance