• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Menjaring Nakhoda Pilihan Otoritas

by Sandy Romualdus
9 Juli 2015 - 00:00
33
VIEWS
Menjaring Nakhoda Pilihan Otoritas
0
SHARES
33
VIEWS

Selalu ada yang berubah dari perekrutan jajaran direksi, setidaknya dalam tiga kali proses pemilihan belakangan. Untuk kali ini, otoritas tampak dominan dalam menentukan para pengelola Bursa Efek Indonesia untuk periode 2015-2018.
Sejatinya dominasi itu sudah dimulai tiga tahun lalu ketika pemilihan yang sama berlangsung. Saat itu otoritas yang masih dipegang Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, mengubah aturan mekanisme pemilihan. Jika sebelumnya, Anggota Bursa lebih dominan dalam pengajuan, pemilihan dan penetapan calon direksi, kini para perusahaan pedagang efek yang aktif di pasar modal hanya bertugas sebagai ‘tukang stempel’.
Aturan ini berbeda dari sebelumnya ketika pada 2009 direksi bursa dipilih dan ditetapkan oleh Anggota Bursa (AB) di dalam rapat anggota tahunan. Pengamat ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Danhil Anzar mengatakan mekanisme pemilihan direksi bursa dengan melibatkan peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai penentu siapa yang pantas menjadi direksi seharusnya tidak dilanjutkan.
“Idealnya OJK hanya melakukan screening calon direksi dan hasilnya diserahkan ke AB dan pemilihannya dilakukan di dalam RUPS. Maka berangkat dari situ tentu saja OJK tidak memiliki kewenangan untuk memilih siapa direksi bursa periode berikutnya,” kata dia seperti dikutip dari sebuah koran nasional.
Namun demikian, Nurhaida, Komisioner OJK yang mengawasi Pasar Modal mengatakan bahwa mekanisme yang memberikan kewenangan otoritas untuk memilih dan menetapkan jajaran direksi bursa justru banyak manfaatnya bagi industri.
“OJK memilih yang sudah diajukan anggota bursa, bukan memilih langsung. Kenapa pemilihan kali ini berbeda? Karena dengan cara ini ada hal-hal negatif yang bisa dihindari,” kata Nurhaida.

Dia memberi contoh bahwa hal itu untuk menghindari terjadinya insider trading di masa mendatang di mana pengurus bursa cenderung dikendalikan oleh pelaku pasar. Sementara dengan kewenangan OJK dalam memilih direksi disebutnya akan membuat bursa lebih patuh dalam mengikuti aturan yang ada dan tidak lagi dikendalikan oleh pelaku pasar.
Untuk pemilihan kali ini, OJK akan melakukan screening dari calon pengurus bursa dari beberapa paket yang diajukan oleh pelaku pasar (lihat boks). Kemudian dari situ, otoritas akan menentukan siapa yang terbaik yang akan menjalankan manajemen bursa nasional dalam tiga tahun mendatang.
Meski ada beberapa pihak yang meragukan hasilnya namun Nurhaida menegaskan, pihaknya tidak akan memberikan keistimewaan apalagi memberikan dukungan pada pihak atau kelompok manapun. “Fit and proper test dilaksanakan secara independen, profesional, objektif, dan menekankan pada dua aspek utama yakni integritas dan kompetensi dari para calon,” jelasnya.
Dalam Peraturan yang terbit pada tahun 2012, tata cara pencalonan dan pengajuan calon Direktur Bursa Efek wajib dilakukan oleh kelompok Anggota Bursa (AB) dengan paling sedikit terdiri dari 10 atau lebih AB yang telah melakukan transaksi efek secara bersama-sama paling kurang 10 persen dari total frekuensi dan nilai perdagangan efek di BEI selama 12 bulan terakhir sebelum pengajuan kepada OJK.
Disebutkan juga, masing-masing AB hanya dapat menjadi anggota pada satu kelompok AB. Lalu, calon direktur BEI wajib diajukan kepada OJK oleh kelompok AB dalam satu kesatuan paket calon direktur pasar modal dengan memenuhi ketentuan jabatan.
Asa Untuk Direksi
Dirut BEI saat ini, Ito Warsito berharap, nantinya direksi baru yang akan terpilih memimpin BEI dapat terus memperkuat pondasi pasar modal Indonesia sehingga dapat bersaingan ditingkat regional. Menurutnya, kebutuhan pasar modal akan terus berubah seiring berjalannya waktu. Sehingga, direksi berikutnya harus bisa menyesuaikan kebutuhan pasar modal ke depannya.
“Karena pasar modal dinamis. Kebutuhan masa depan tidak sama dengan masa kini. Direksi harus melihat masa depan seperti apa. Apa yang perlu disiapkan untuk pasar modal agar bisa bersaing dengan pasar modal negara lain,” jelas Ito.
Dia menambahkan, direksi selanjutnya harus bisa menambah kapasitas pasar modal baik dari jumlah emiten ataupun investasinya. Selain itu, produk yang saat ini telah ada juga masih harus ada penambahan. “Produk-produk pasar modal juga harus diperbanyak. Kemudian, emiten harus ditambah dan teknologi informasi (TI) harus diperkuat,” pungkasnya.
Sedangkan menurut Nurhaida, OJK berharap direksi baru BEI periode 2015- 2018 memiliki strategi jitu menarik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melantai di bursa alias go public. Menurutnya, perusahaan pelat merah tersebut akan lebih sehat jika bisa melantai di bursa Indonesia.
Sementara itu, seusai perkenalan serta pemaparan program kerja calon direksi BEI yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) medio April lalu, Ketua Umum APEI Susy Meilina mengemukakan bahwa masing-masing paket bakal calon direksi BEI memiliki program yang positif dalam mendukung industri pasar modal domestik. “Setelah pemaparan masing-masing paket calon direksi BEI, semuanya memiliki visi dan misi yang baik untuk pasar modal,” ujar Susy.
APEI mengharapkan, paket atau kandidat calon direksi BEI yang nantinya terpilih oleh OJK berkomitmen membangun sinergi yang positif dengan APEI agar dapat membangun industri lebih baik. Jadi siapapun yang akan lulus fit and proper test dinilai bisa merealisasikan keinginan otoritas tersebut.

  • Baca juga: Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

Paket I
Paket Abiprayadi (Dirut Mandiri Sekuritas) yang terdiri dari Susanty Wijaya (Direktur PT DBS Vickers Securities Indonesia), Wijaya Subekti (Direkutr PT Maybank Kim Eng Securities), Supandi (mantan Direktur Keuangan & SDM BEI periode 2009-2012), Nicky Hogan (Presiden Direktur PT Reliance Securities Tbk), Trisnadi Yulrisman (Direktur PT Sarana Multigriya Finansial ), serta Patricius Sendjojo (Komisaris PT Universal Broker Indonesia).

BERITA TERKAIT

Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Abiprayadi Riyanto
Abiprayadi saat ini menjadi Presiden Direktur PT Mandiri Sekuritas. Pria kelahiran Jakarta, 2 Oktober 1957 menjadi Presdir Mandiri Sekuritas sejak 1 Desember 2012. Dia pernah menjabat sebagai Presdir PT Mandiri Manajemen Investasi (2004-2012), Managing Director Mandiri Sekuritas (2002- 2004), Technical Advisor NISP Sekuritas (2002), Presdir dan Country Manager PT ABN AMRO Manajemen Investasi (1996- 2001) dan Associate Director PT Mees Pierson Finas Investment Management (1990-1996).
Abiprayadi meraih gelar Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1986 dan Master of Business Administration (MBA) dari Indonesia Institute of Management pengembangan (IPMI) pada 1990.

 

Paket II
Paket Reynaldi Hermansjah (Direktur Independen Jasa Marga Tbk) terdiri dari Bambang Widodo (Direktur PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia), Kristian Manullang (Kadiv Pengaturan dan Pemantauan Anggota Bursa BEI), Ignatius Girendroheru (Dirut Indonesia Bond Pricing Agency/IBPA), Fifi Virgantria (Direktur Danpac Sekuritas), I Gusti Ngurah Budi Sanjaya (Project Management untuk Global Financial Institution PT BNI Tbk) dan Grace N Wiragesang (Direktur Lautandhana Investment Management).

Reynaldi Hermansjah
Reynaldi saat ini menjadi Direktur Independen PT Jasa Marga Tbk. Pria kelahiran 16 Mei 1967 ini pernah menjabat sebagai direktur keuangan di Jasa Marga sejak 2006. Reynaldi memiliki pengalaman selama 15 tahun di bidang investasi dan pasar modal di sektor keuangan. Karier yang dijalaninya dimulai pada 1991 sebagai head of sales di Nomura Securities.
Setelah itu, pada 1993-1996 menjabat sebagai Senior Manager Mees Pierson Finas Investment Management. Danpada 1996 sampai 1998 menjadi Presdir
BII Lend Lease Investment Services.  Kemudian, pada 1999-2002 menjabat sebagai group head di BPPN dan menjadi Presdir di PT PNM Investment Management (2003-2006).

 

  • Baca juga: Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Paket III
Paket Samsul Hidayat (Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI) terdiri dari Sulistyo Budi (Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia), I.G.Nyoman Yetna (Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Riil BEI), Chaerudin Berlian (Mantan Komisaris BEI), Yohanes Liauw (Kepala Divisi BEI), Hamdi Hassyarbaini (Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia BEI), dan Ratih D.Item (Presiden Direktur PT Sucorinvest Central Gani).

Samsul Hidayat
Samsul merupakan direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI sejak Juli 2012. Pria kelahiran Jambi, 22 Februari 1968 tersebut, mengawali kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Keuangan Republik Indonesia sejak 1993. Dengan jabatan terakhir sebagai kepala bagian Pengawasan Lembaga Efek, Biro Transaksi dan Lembaga Efek, Bapepam- LK, periode 2006 hingga 2012.
Samsul memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) atau Studi Manajemen dari Universitas Negeri Jambi pada 1991. Dan, berhasil memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA) dari Cleveland State University pada 1999.

 

Paket IV
Paket Tito Sulistio (Wakil Presdir CMNP) terdiri dari Alpino Kianjaya (Direktur PT MNC Securities), LID da Lopez (Dirut PT Equity Securities Indonesia), Andrew Haswin (mantan Direktur PT Kresna Securities), Moh. Mukhlis (Kadiv Manajemen Risiko BEI), Krishna Suparto (mantan Direktur BNI), dan Kanya Lakhsmi (Direktur PT Golden Plantation Tbk).

Tito Sulistio
Tito cukup dikenal di kalangan pasar modal, karena pernah menjabat komisaris di Bursa Efek Jakarta (BEJ) 2002-2004 dan komisaris di Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Dan, berbagai jabatan eksekutif di emiten. Saat ini Tito menjadi Wakil Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP).

 

  • Baca juga: Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Paket V
Paket Ronald T.Andi Kasim (Dirut Pefindo) terdiri dari Rudy Utomo (Dirut Evergreen Capital), Justitia Tripurwasari (Direktur Manulife Asset Management), John Tambunan (Citigroup Securities Indonesia), Mas Mokhamad Sudarmaji (DBS Vickers Securities Indonesia), Johannes Arts Abimanyu (Dirkeu Pefindo), Zaki Mubarak (Bosowa Sekuritas).

Ronald T Andi Kasim
Ronald saat ini adalah Dirut PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Ronald meraih gelar sarjana dan master di bidang keuangan dari Creighton University di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat. Dia memulai kariernya di Pefindo 1994 sebagai Rating Analyst. Namun, pada tahun 1999, Ronald meninggalkan Pefindo dan berkarier di First National Nebraska sebagai Finance Officer & Head of Fin Strat Group (1998- 2004), Lead Business Analyst di IPS Sendero of FISERV (2004-2007), Senior Consultant di Fermat (2007-2009), Senior Consultant di Moody’s Analytics (2007- 2009), kemudian kembali ke Indonesia sebagai Senior Vice President Permata Bank (2009-2010) dan menjadi Presdir Pefindo sejak Juni 2010 sampai sekarang.

 
 
 
 
 
Previous Post

BNI Gelar E-Banking Days 2015

Next Post

Cara Bank Indonesia Berkompromi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

by Sandy Romualdus
25 Oktober 2026 - 08:06

OJK mengapresiasi kesuksesan FinFest 2026 yang menghimpun dana Rp5 miliar, di mana Bank Jakarta menyabet predikat Booth Teredukatif dan Teratraktif....

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

by Sandy Romualdus
24 Oktober 2026 - 15:20

Bank Jakarta meraih Anugerah Digitalisasi Pasar Inklusif 4.0 sebagai PUJK Literasi Keuangan Teraktif 1 pada ajang Jakarta Financial Festival 2026...

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

by Stella Gracia
23 Oktober 2026 - 17:05

Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun pada kuartal III 2026, tumbuh 20,7 persen ditopang kredit ekosistem dan transaksi...

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

by Sandy Romualdus
23 Oktober 2026 - 16:47

Simak strategi agresif Direksi Bank BTN mengakselerasi transformasi digital, mencetak talenta global, dan memperluas ekosistem bisnis perbankan konsumer. Stabilitas.id -...

BNI (BBNI) Serap USD700 Juta dari Global Bond, Oversubscribe hingga 3,6 Kali

Sikapi Dinamika Bursa, BNI Pacu Aksi Buyback Terukur Berlandaskan Aset Rp1.434 Triliun

by Sandy Romualdus
23 Oktober 2026 - 15:33

BNI melanjutkan aksi buyback saham dan mencermati peluang perpanjangan periode pelaksanaan, ditopang aset Rp1.434,1 triliun dan laba Rp14,33 triliun. Stabilitas.id...

Tawarkan 5.000 Aset Properti: BRI Gelar Gebyar Lelang Serentak Nusantara dan Siapkan KPR 25 Tahun

Redam Volatilitas Pasar, BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

by Stella Gracia
23 Oktober 2026 - 15:16

BRI menyiapkan aksi buyback saham Tahap II sebesar-besarnya Rp1 triliun hingga Januari 2027 guna menjaga nilai saham di tengah volatilitas...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Himpun Dana Lebih dari Rp5 Miliar di FinFest 2026, OJK Apresiasi Bank Jakarta Dorong Inklusi Keuangan

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Sikapi Dinamika Bursa, BNI Pacu Aksi Buyback Terukur Berlandaskan Aset Rp1.434 Triliun

Di Rakornas TPAKD 2026, Presiden Prabowo Janji Siapkan Pembiayaan Rakyat Rp400 Triliun

OJK Tegaskan Sanksi Denda Rp2,1 Triliun Bukan Akhir, Buka Peluang Jerat Pidana Pasar Modal

Redam Volatilitas Pasar, BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

Perkuat Diplomasi Ekonomi, BRI Dorong Korporasi dan UMKM Lokal Masuk Rantai Pasok Global

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance