BERITA TERKAIT
Oleh Prayogo P. Harto
Nama Christopher Langan memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan nama besar Albert Einstein. Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Chris Langan ternyata mempunyai IQ (intelligence quotient) yang jauh di atas Einstein. Chris Langan memiliki IQ 200, sementara IQ sang fisikiawan jenius penemu Teori Relativitas itu ‘hanya’ 160.[1]
Dengan IQ super yang 40 poin di atas Einstein, boleh jadi banyak dari kita yang berpikir masa depan Chris Langan pastilah cemerlang. Mungkin ia akan menjadi ilmuan sukses seperti Einstein. Atau pemimpin Negara layaknya B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia, yang juga ber-IQ 200. Atau, paling tidak, memimpin lembaga keuangan ternama seperti Sri Mulyani, Managing Director Wold Bank dan mantan Menteri Keuangan Indonesia, yang ber-IQ 15 7.[2]
Sayangnya, tidak. Kisah hidup Chris Langan jauh dari cerita sukses. Pendidikannya gagal, ia di-droup out pada tahun pertama kuliahnya. Dan, hingga menginjak usia setengah abad (2008), ia masih bekerja serabutan, terkadang jadi kuli bangunan, bahkan sempat menjadi tukang pukul di sebuah bar.
Pertanyaannya, mengapa para jenius seperti Einstein, Habibie, atau Sri Mulyani bisa meraih kesuksesan, sementara Chris Langan tidak?



Malcolm Gladwell yang meneliti rahasia di balik orang-orang sukses (Outliers, 2008) punya jawabannya. Menurut Gladwell, para jenius sukes seperti Einstein, Habibie, Sri Mulyani (Lihat: Nilai IQ Beberapa Tokoh Dunia), beruntung mendapat dukungan dan pendidikan yang tepat sedari anak-anak, sehingga mereka mampu mengembangkan bakatnya dengan optimal. Faktor inilah yang tidak diperoleh Chris Langan, yang lahir dari keluarga miskin dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah.
Problem Anak Jenius
Anak jenius adalah sebutan untuk anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) tertentu. Menurut Psikolog David Weschler[3], seorang anak dianggap jenius bila memiliki IQ 128 ke atas. Sementara Stanford-Binet[4] memakai patokan angka IQ 140. Sedangkan jika mengacu kepada UU Sisdiknas No.20/2003, Pasal 32 ayat 1, yang dikategorikan sebagai anak berkecerdasan istimewa (jenius) adalah jika memilik angka IQ lebih besar dari 130[5].
Sejatinya ada cukup banyak anak-anak Indonesia dengan kecerdasan istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI) yang potensial menjadi Habibie atau Sri Mulyani baru di masa depan. Psikolog sekaligus pemerhati anak, Dr. Seto Mulyadi, memperkirakan populasi mereka sebesar 2,5 persen dari total 80 juta anak Indonesia.[6] Artinya, paling tidak ada sekitar 2 juta anak-anak Ibu Pertiwi yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa.
Sayangnya, mengutip hasil penelitian Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas Berbakat Istimewa (Asosiasi CI+BI), hanya sekitar 1 persen saja dari anak-anak CI+BI tersebut yang cukup beruntung memperoleh pendidikan memadai[7], yaitu pendidikan yang secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak CI+BI. Padahal, pendidikan khusus bagi anak-anak CI+BI ini sudah diamanatkan oleh Undang-undang Sisdiknas No.20 Th 2003 pasal 5 ayat 4, yaitu: “Warga Negara yang cerdas dan berbakat istimewa memerlukan pendidikan khusus”.
Jadi, mengapa pendidikan kita belum berpihak terhadap anak-anak CI+BI? Pertama, masih banyak dari kita yang terperangkap pada paradigma lama bahwa pendidikan yang adil adalah yang memperlakukan siswa sama. Implikasinya, banyak sekolah yang memaksa semua anak-anak untuk mengikuti kurikulum dan metode pembelajaran yang sama, tanpa terkecuali. Padahal model pendekatan pendidikan sama rata ini hanya akan mengkerdilkan potensi anak-anak CI+BI.
Kedua, masih banyak dari kita yang kurang memahami bahwa anak-anak CI+BI membutuhkan pendidikan yang berbeda, sama seperti dengan anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik dan keterbelakangan mental yang butuh sekolah luar biasa (SLB). Alasan orang tua menolak pendidikan khusus bagai anak CI+BI, antara lain, sekolah seperti itu mahal, terkesan esklusif, dan membuat anak asosial karena terpisah dari teman-temannya yang ‘normal’.
Akibatnya, anak-anak CI+BI tidak memperoleh pendidikan yang layak. Mereka pun menjadi korban dari pandangan usang pendidikan bahwa semua anak harus diperlakukan sama, tidak boleh dibeda-bedakan. Anak-anak ini pun ‘terpaksa’ patuh, meski sangat tertekan, dan bersusah payah membatasi kelebihan mereka agar dipandang sejajar dengan kemampuan teman-temannya yang ‘normal’.



Jika anak-anak CI+BI ini memberontak, meminta pendidikan yang seharusnya menjadi haknya, mereka justru dianggap sebagai anak bermasalah, suka melawan guru, tidak mampu bersosialisasi dengan teman-temannya, tidak bisa fokus pada pelajaran, abnormal, dan cap-cap negatif lainnya.
Fakta ini tentu saja sangat kita sesalkan. Pasalnya, anak-anak CI+BI ini membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda dengan anak-anak lain. Paling tidak ada dua alasannya. Pertama, tanpa pendidikan dan bimbingan yang tepat, masa depan anak-anak CI+BI akan suram. Ada banyak contoh di dunia, bagaimana masa depan anak-anak CI+BI berakhir mengenaskan karena tidak mendapatkan bimbingan pendidikan yang semestinya.
Salah satunya adalah William James Sidis (1898-1944). Sama dengan Langan, Sidis juga memiliki IQ 200. Kejeniusan Sidis, antara lain, terlihat dari kemampuannya menguasai bahasa secara singkat. Konon, ia dapat berbicara dalam 200 bahasa. Sidis juga lulusan termuda Universitas Harvard. Ia memperoleh gelar sarjana matematika pada usia 16 tahun dengan predikat cumlaude. Namun pendidikan AS kala itu terlalu mengeksploitasi kecerdasan Sidis dan lupa membangun mentalnya untuk menghadapi berbagai tekanan sebagai anak jenius. Pada akhirnya, hidup Sidis berakhir tragis. Dikenal sebagai anak terpintar di dunia, ia meninggal dalam kemiskinan pada usia 46 tahun.[8]
Kedua, tanpa pendidikan dan bimbingan yang tepat, anak-anak CI+BI dapat membahayakan masa depan orang lain. Amril Muhammad, sekjen Asosiasi CI+BI dan pendidik khusus anak-anak berbakat, yang sempat mewawancarai Imam Samudra, menilai terdakwa teroris tersebut sebagai orang jenius. Namun, karena tidak mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang tepat, Imam Samudra menggunakan kejeniusannya untuk melakukan teror.[9]
Contoh kejeniusan lain yang merusak adalah Adolf Hitler. Pemimpin Nazi ini yang ber-IQ 141 ini ternyata memiliki masa lalu kelam. Ayahnya, Alois Hitler, membenci Adolf kecil karena dianggap sebagai anak aneh dan antisosial. Cita-citanya menjadi seniman kandas karena ditolak Universitas Wina dengan alasan tidak berbakat. Beranjak dewasa, nasibnya semakin nelangsa, menggelandang tanpa pekerjaan, sembari menyaksikan kaum imigran hidup berkecukupan di Jerman. Pengalaman ini rupanya memupuk dendam Hitler. Ia jadi pembenci bangsa lain yang dianggapnya telah menari-nari di atas penderitaan rakyat Jerman. Pada akhirnya, sejarah mencatat, bagaimana Hitler menggunakan kejeniusannya untuk membalas dendam lewat agresi militer untuk memulai Perang Dunia II dan melakukan berbagai pembantaian etnis yang menewaskan jutaan orang di seluruh dunia.[10]
Mendidik Anak Jenius
Memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak CI+BI adalah cara yang paling efektif untuk menyelamatkan masa depan mereka, sekaligus menyelamatkan masa depan bangsa. Sebab, tanpa bekal pendidikan yang benar, anak-anak CI+BI hanya akan berakhir seperti Chris Langan, Sidis, bahkan lebih tragis lagi menjadi teroris atau diktator baru.
Untuk mengetahui kecerdasan dan bakat seorang anak, belum ada metode yang lebih baik daripada test IQ. Jadi, idealnya setiap anak sebelum memasuki bangku sekolah dasar harus mengikuti tes intelegensia untuk mengukur tingkat kecerdasan dan bakatnya. Dengan demikian, kita bisa memastikan sistem dan metode pendidikan yang paling tepat untuk mengoptimalkan kecerdasan dan bakat anak-anak tersebut.
Sayangnya, test IQ masih dianggap barang mewah di negeri ini. Jangankan di daerah terpencil di pelosok nusantara, di kota-kota besar pun test IQ masih dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan. Bahkan, banyak orang tua yang secara salah kaprah menyamakan test IQ sebagai test kejiwaan, yaitu untuk melihat apakah anaknya memiliki kelainan jiwa atau tidak.
Tentu saja akan lain ceritanya jika pemerintah bersedia untuk turun tangan, misalnya, menjadikan program test IQ sebagai program wajib di seluruh sekolah di Indonesia. Namun, mengingat jalan menuju kebijakan tersebut, menjadi program wajib nasional, kemungkinannya masih akan sangat panjang, kita perlu mengambil langkah-langkah taktis, realistis, dan bisa segera dieksekusi, demi menyelamatkan masa depan anak-anak cerdas dan berbakat istimewa ini.
Ada ada dua pendekatan yang dapat kita lakukan, yaitu secara individual dan sistem/struktural. Pendekatan individual adalah menjadikan guru sebagai ujung tombak dalam mengenali ciri-ciri dan melakukan pendampingan terarah kepada anak-anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa. Apa saja ciri mereka? Antara lain, mampu membaca sebelum masuk sekolah, perkembangan bahasanya lebih baik, perbendaharaan katanya lebih banyak, suka mencari tahu jawaban dari "bagaimana" dan "mengapa" tentang sesuatu hal, dan lain lain (Lihat: Ciri Umum anak CI+BI).[11]
Setelah mengenali mereka, yang tidak kalah pentingnya adalah guru melakukan pendamping terhadap anak-anak CI+BI. Di sini kebijakan dan daya kreatifitas seorang guru jadi kunci. Sebab, Guru bukan hanya dituntut untuk kreatif dalam membantu mengoptimalkan kejeniusan dan bakat anak-anak CI+BI, tetapi juga mampu membekali mereka dengan mental dan karakter yang terpuji, hingga talenta istimewa mereka akan bermanfaat bagi diri sendiri dan bangsanya di kemudian hari.
Sementara metode pendekatan struktural dapat dilakukan tiga cara.[12] Pertama, pengayaan materi pembelajaran, yaitu menyediakan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan bagi CI+BI, baik yang bersifat vertikal (intensif, pendalaman) dan horizontal (ekstensif, perluasan). Misalnya, memberikan tambahan materi bagi anak genius di luar kurikulum sekolah, seperti tugas mempelajari kasus tertentu, mencari pengetahuan baru dari bacaan di perpusatakaan, dan sebagainya.
Kedua, percepatan pendidikan, yaitu dengan memperbolehkan anak CI+BI menyelesaikan sekolahnya lebih cepat dari anak-anak sebayaknya. Misalnya, anak CI+BI diperbolehkan melompat kelas pada akhir masa belajar dari kelas II SD ke kelas IV, atau meloncat kelas pada pertengahan tahun ajaran, dari kelas I naik ke kelas II.
Ketiga, mengelompokkan anak-anak CI+BI dalam satu kelas atau sekolah. Misalnya, sekolah umum membuat satu kelas khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak CI+BI. Dapat juga dengan mendirikan satu sekolah yang dikhususkan bagi anak-anak CI+BI. Baik kelas maupun sekolah khusus ini harus memiliki kurikulum dan program belajar mengajar yang mampu mengoptimalkan tumbuh kembang kecerdasan dan bakat anak-anak CI+BI.
***
Ciri Umum Anak CI+BI
Hasil penelitian dari Balitbang Depdikbud (1986) dan Council of Curriculum Examinations and Assessment (2006) menyebutkan bahwa seorang anak cerdas istimewa dapat mempunyai beberapa dari ciri-ciri berikut ini:
1. Sangat peka dan waspada
2. Belajar dengan mudah dan cepat
3. Mampu berkonsentrasi
4. Sangat logis
5. Cepat berespon secara verbal dengan tepat
6. Lancar berbahasa
7. Mempunyai daya ingat yang baik
8. Mempunyai pengetahuan umum yang luas
9. Mempunyai minat yang luas dan mendalam
10. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan
11. Cermat atau teliti dalam mengamati
12. Kemampuan membaca yang baik
13. Lebih menyukai kegiatan verbal daripada kegiatan tertulis
14. Mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah dengan sangat cepat
15. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah
16. Menunjukkan cara pemecahan masalah yang tidak lazim
17. Mempunyai pendapat dan pandangan yang sangat kuat terhadap suatu hal
18. Mempunyai rasa humor
19. Mempunyai daya imajinasi yang hidup dan orisinil
20. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)
21. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya
22. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar
23. Tertarik pada topik-topik yang berkaitan dengan anak-anak yang berusia lebih tua darinya
24. Dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang dewasa, bahkan lebih baik daripada jika berkomunikasi dengan anak sebayanya
25. Bisa belajar sendiri dalam bidang-bidang yang diminati
26. Berfokus pada minatnya sendiri, bukan pada apa yang diajarkan
27. Mempunyai keterampilan sosial
28. Mudah bosan pada hal-hal yang dianggapnya rutin
29. Menunjukkan kepemimpinan yang tinggi
30. Kadang-kadang tingkah lakunya tidak disukai orang lain.
(Sumber: http://asosiasicibinasional.wordpress.com/pendukung/ciri-umum-anak-cibi/)
Nilai IQ Beberapa Tokoh Dunia
|
Nama Tokoh |
Profesi dan Negara |
Nilai IQ |
|
Jodie Foster |
Artis Film, AS |
132 |
|
Al Gore |
Mantan Wakil Presiden, AS |
134 |
|
Arnold Schwarzenegger |
Aktor / Mantan Gubernur, AS |
135 |
|
Bill (William) J. Clinton |
Mantan Presiden, AS |
137 |
|
Madonna |
Penyanyi, AS |
140 |
|
Hillary Clinton |
Menteri Luar Negeri, AS |
140 |
|
Adolf Hitler |
Pemimpin Nazi, Jerman |
141 |
|
Bonaparte Napoleon |
Pemimpin Negara, Perancis |
145 |
|
Rembrandt van Rijn |
Pelukis, Belanda |
155 |
|
Stephen W. Hawking |
Fisikiawan, AS |
160 |
|
Benjamin Franklin |
Penulis, AS |
160 |
|
Paul Allen |
Pendiri Microsoft, AS |
160 |
|
Albert Einstein |
Fisikiawan, AS |
160 |
|
Bill Gates |
Pendiri Microsoft, AS |
160 |
|
Wolfgang Amadeus Mozart |
Musisi, Austria |
165 |
|
Friedrich Hegel |
Filosof, Jerman |
165 |
|
James Watt |
Ilmuan, Skotlandia |
165 |
|
Johann Sebastian Bach |
Musisi, Jerman |
165 |
|
Charles Darwin |
Ilmuan, Inggris |
165 |
|
Ludwig van Beethoven |
Musisi, Jerman |
165 |
|
Raphael |
Pematung, Italia |
170 |
|
George Friedrich |
Musisi, Jerman |
170 |
|
Plato |
Filosof, Yunani |
170 |
|
Judith Polgar |
Atlet Catur, Hongaria |
170 |
|
Martin Luther |
Teologis, Jerman |
170 |
|
Immanuel Kant |
Filosof, Jerman |
175 |
|
Benjamin Netanyahu |
Mantan PM Israel |
180 |
|
Buonarroti Michelangelo |
Pematung Italia |
180 |
|
Charles Dickens |
Penulis Inggris |
180 |
|
James Woods |
Aktor AS |
180 |
|
David Hume |
Filosof Skotlandia |
180 |
|
Ren Descartes |
Matemetikawan Prancis |
185 |
|
Galileo Galilei |
Ilmuan Italia |
185 |
|
Bobby Fischer |
Pemain Catur AS |
187 |
|
Friedrich von Schelling |
Filosof Jerman |
190 |
|
Sir Isaac Newton |
Ilmuan Inggris |
190 |
|
Garry Kasparov |
Atlet Catur Rusia |
190 |
|
Voltaire |
Penulis Perancis |
190 |
|
Philip Emeagwali |
Matematikawan Nigaria |
190 |
|
Blaise Pascal |
Matematikawan Prancis |
195 |
|
George H. Choueiri |
Pemimpin Lebanon |
195 |
|
John Stuart Mill |
Ilmuan Inggris |
200 |
|
Kim Ung-Yong |
Korea |
200 |
|
William James Sidis |
AS |
200 |
|
Emanuel Swedenborg |
Swedia |
205 |
|
Johann Wolfgang von Goethe |
Jerman |
210 |
|
Leonardo da Vinci |
Ilmuan Italia |
220 |
[1] Outliers, Rahasia di Balik Sukses, Malcolm Gladwell, Gramedia Pustaka, 2009
[2] Sri Mulyani: IQ Saya 157, www.tempointeraktif.com
[3] David Weschler. The Measurement of Adult Intelligence, 3rd Ed. Baltimore: The Williams & Wilkins, 1944, p 190. Lewis M. Terman & Maud A. Merrill.
[4] Stanford-Binet Intelligence-Scale. manual for The Third Revision Form L-M. Boston: Houghton-Mifflin, 1973, p 18. American Psychiatric Association.
[5] http://www.pk-plk.com/p/tentang-fkpk-plk.html
[6] http://www.beritasatu.com/perempuan/35670-rsbi-harus-jaring-anak-cerdas-di-pelosok.html
[7] http://asosiasicibinasional.wordpress.com/2011/06/25/ironi-anak-cerdas-yang-terabaikan/
BACA JUGA
Related Posts
Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025
Oleh : Dr. Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Tanggal 18 Maret 2025 pasar...
Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara
Oleh Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik dan Ekonom UPN Veteran Jakarta Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan oleh serangan siber besar-besaran...
Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank
Oleh Ahmed Zulfikar, Relationship Manager LPPI SAAT ini isu perubahan iklim telah menjadi topik hangat yang hampir selalu dibahas dalam...
Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan
Oleh : Novita Yuniarti, Assistant Programmer LPPI SERANGAN siber memiliki dampak yang serius dan menjadi isu kritis dalam digitalisasi keuangan...
Kilas Balik Pandemi COVID-19: Strategi Cermat India yang Terhambat Sistem Pasar Obat-Obatan Dunia
Oleh : Baiq Shafira Salsabila, Diospyros Pieter Raphael Suitela, Muhammad Faiz Ramadhan * INDIA adalah salah satu negara berkembang dengan industri farmasi terbesar...
Transformasi Digital vs Literasi Digital
Oleh Danal Meizantaka Daeanza - Assistant Programmer LPPI Perubahan yang terjadi di dunia selama satu dekade belakangan ini sangat signifikan....
TERPOPULER
-
OJK Tunjuk Friderica sebagai ADK Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK
-
Kasus Scam di Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 274 Ribu Laporan dalam Setahun
-
OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya
-
1 Sak Mortar Plester Berapa m²? Simak Cara Hitung dan Keunggulan Semen Merah Putih
-
Diteror Debt Collector, Nasabah Seret Aplikasi Pinjol AdaKami ke Pengadilan
-
Rekam Jejak Panji Irawan, Dirut Bank Mandiri Taspen
-
Kasus Korupsi Pertamina, Riza Chalid Masuk Daftar Buronan Internasional
Terbaru
STABILITAS CHANNEL






.jpg)









