Jakartra – Kawasan industri dan pelabuhan internasional (KIPI) Maloy dan sekitarnya telah siap untuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Kawasan tersebut akan diprioritaskan untuk pengembangan industri sawit dan batu bara.
Saat mempresentasikan Masterplan untuk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Wakil Menteri PPN/Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo dalam World Export Development Forum di Jakarta kemarin menyebutkan, Maloy merupakan salah satu kawasan industri yang diunggulkan dalam MP3EI.
BERITA TERKAIT
"Maloy akan menjadi salh satu kawasan industri terhubung dengan internasional terbesar di bagian Timur Kalimantan untuk minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara," kata Lukita Senin (15/10) malam. "Sekarang sedang diurus di Dewan KEK."
Maloy dapat masuk daftar tunggu status KEK, kata Lukita, terutama karena kesiapan daerahnya selain dampak ekonomi dari perluasan industri di daerah tersebut. Proyek infrastruktur di daerah tersebut sudah ditawarkan, salah satunya sudah disepakati dengan investor asal Uni Emirat Arab (UEA).
Proyek yang ditangani perusahaan UEA Ras Al-Khaimah Minerals and Metals Investments adalah proyek kereta Muara Wahau – Lubuk Tutung sepanjang 150 km. Total investasi bersama perusahaan tersebut dan pemda ialah US$900 juta.
Selain itu, dalam masterplan, masih ada tiga rute kereta lain yang akan dibangun di Maloy, yakni rute Muara Tuhup – Balikpapan sepanjang 361 km, rute Bontang – Samarinda sepanjnag 115 km, dan rute Tabang – Lubuk Tutung sepanjang 185 km. Proyek yang terakhir juga sudah mendapat investor dari pihak swasta, yakni PT Gunung Bayan, dengan estimasi total investasi US$1 miliar.
Pembebasan lahan daerah tersebut, kata Lukita, juga sudah tuntas. KIPI Maloy berada di lahan seluas 5.035 ha, 1.000 ha di antaranya berada di Teluk Golok dan akan dikembangkan pada tahap pertama.
"Siap itu yang paling penting dari sisi tanahnya, infrastruktur yang dibangun mana porsi daerah, mana porsi pemerintah pusat. Maloy sejauh ini sudah siap karena pemda sudah memberikan komitmen ke situ dan pusat sudah masuk dari tahun lalu untuk jalan nasionalnya. Untuk pelabuhan, feasibility study (FS) sedang disiapkan," kata Lukita.

















