• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Menyelamatkan Masa Depan Anak Istimewa

by Sandy Romualdus
16 Oktober 2012 - 00:00
231
VIEWS
Menyelamatkan Masa Depan Anak Istimewa
0
SHARES
231
VIEWS

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Oleh Prayogo P. Harto

Nama Christopher Langan memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan nama besar Albert Einstein. Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Chris Langan ternyata mempunyai IQ (intelligence quotient) yang jauh di atas Einstein. Chris Langan memiliki IQ 200, sementara IQ sang fisikiawan jenius penemu Teori Relativitas itu ‘hanya’ 160.[1]

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Dengan IQ super yang 40 poin di atas Einstein, boleh jadi banyak dari kita yang berpikir masa depan Chris Langan pastilah cemerlang. Mungkin ia akan menjadi ilmuan sukses seperti Einstein. Atau pemimpin Negara layaknya B.J. Habibie, mantan Presiden Indonesia, yang juga ber-IQ 200. Atau, paling tidak, memimpin lembaga keuangan ternama seperti Sri Mulyani, Managing Director Wold Bank dan mantan Menteri Keuangan Indonesia, yang ber-IQ 15  7.[2]

Sayangnya, tidak. Kisah hidup Chris Langan jauh dari cerita sukses. Pendidikannya gagal, ia di-droup out pada tahun pertama kuliahnya. Dan, hingga menginjak usia setengah abad (2008), ia masih bekerja serabutan, terkadang jadi kuli bangunan, bahkan sempat menjadi tukang pukul di sebuah bar.

Pertanyaannya, mengapa para jenius seperti Einstein, Habibie, atau Sri Mulyani bisa meraih kesuksesan, sementara Chris Langan tidak?

Malcolm Gladwell yang meneliti rahasia di balik orang-orang sukses (Outliers, 2008) punya jawabannya. Menurut Gladwell, para jenius sukes seperti Einstein, Habibie, Sri Mulyani (Lihat: Nilai IQ Beberapa Tokoh Dunia), beruntung mendapat dukungan dan pendidikan yang tepat sedari anak-anak, sehingga mereka mampu mengembangkan bakatnya dengan optimal. Faktor inilah yang tidak diperoleh Chris Langan, yang lahir dari keluarga miskin dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah.

Problem Anak Jenius

Anak jenius adalah sebutan untuk anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan (IQ) tertentu. Menurut Psikolog David Weschler[3], seorang anak dianggap jenius bila memiliki IQ 128 ke atas. Sementara Stanford-Binet[4] memakai patokan angka IQ 140. Sedangkan jika mengacu kepada UU Sisdiknas No.20/2003, Pasal 32 ayat 1, yang dikategorikan sebagai anak berkecerdasan istimewa (jenius) adalah jika memilik angka IQ lebih besar dari 130[5].

Sejatinya ada cukup banyak anak-anak Indonesia dengan kecerdasan istimewa dan berbakat istimewa (CI+BI) yang potensial menjadi Habibie atau Sri Mulyani baru di masa depan. Psikolog sekaligus pemerhati anak, Dr. Seto Mulyadi, memperkirakan populasi mereka sebesar 2,5 persen dari total 80 juta anak Indonesia.[6] Artinya, paling tidak ada sekitar 2 juta anak-anak Ibu Pertiwi yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa.

Sayangnya, mengutip hasil penelitian Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas Berbakat Istimewa (Asosiasi CI+BI), hanya sekitar 1 persen saja dari anak-anak CI+BI tersebut yang cukup beruntung memperoleh pendidikan memadai[7], yaitu pendidikan yang secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak CI+BI. Padahal, pendidikan khusus bagi anak-anak CI+BI ini sudah diamanatkan oleh Undang-undang Sisdiknas No.20 Th 2003 pasal 5 ayat 4, yaitu: “Warga Negara yang cerdas dan berbakat istimewa memerlukan pendidikan khusus”.

Jadi, mengapa pendidikan kita belum berpihak terhadap anak-anak CI+BI? Pertama, masih banyak dari kita yang terperangkap pada paradigma lama bahwa pendidikan yang adil adalah yang memperlakukan siswa sama. Implikasinya, banyak sekolah yang memaksa semua anak-anak untuk mengikuti kurikulum dan metode pembelajaran yang sama, tanpa terkecuali. Padahal model pendekatan pendidikan sama rata ini hanya akan mengkerdilkan potensi anak-anak CI+BI.

Kedua, masih banyak dari kita yang kurang memahami bahwa anak-anak CI+BI membutuhkan pendidikan yang berbeda, sama seperti dengan anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik dan keterbelakangan mental yang butuh sekolah luar biasa (SLB). Alasan orang tua menolak pendidikan khusus bagai anak CI+BI, antara lain, sekolah seperti itu mahal, terkesan esklusif, dan membuat anak asosial karena terpisah dari teman-temannya yang ‘normal’.

Akibatnya, anak-anak CI+BI tidak memperoleh pendidikan yang layak. Mereka pun menjadi korban dari pandangan usang pendidikan bahwa semua anak harus diperlakukan sama, tidak boleh dibeda-bedakan. Anak-anak ini pun ‘terpaksa’ patuh, meski sangat tertekan, dan bersusah payah membatasi kelebihan mereka agar dipandang sejajar dengan kemampuan teman-temannya yang ‘normal’.

Jika anak-anak CI+BI ini memberontak, meminta pendidikan yang seharusnya menjadi haknya, mereka justru dianggap sebagai anak bermasalah, suka melawan guru, tidak mampu bersosialisasi dengan teman-temannya, tidak bisa fokus pada pelajaran, abnormal, dan cap-cap negatif lainnya.

Fakta ini tentu saja sangat kita sesalkan. Pasalnya, anak-anak CI+BI ini membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda dengan anak-anak lain. Paling tidak ada dua alasannya. Pertama, tanpa pendidikan dan bimbingan yang tepat, masa depan anak-anak CI+BI akan suram. Ada banyak contoh di dunia, bagaimana masa depan anak-anak CI+BI berakhir mengenaskan karena tidak mendapatkan bimbingan pendidikan yang semestinya.

Salah satunya adalah William James Sidis (1898-1944). Sama dengan Langan, Sidis juga memiliki IQ 200. Kejeniusan Sidis, antara lain, terlihat dari kemampuannya menguasai bahasa secara singkat. Konon, ia dapat berbicara dalam 200 bahasa. Sidis juga lulusan termuda Universitas Harvard. Ia memperoleh gelar sarjana matematika pada usia 16 tahun dengan predikat cumlaude. Namun pendidikan AS kala itu terlalu mengeksploitasi kecerdasan Sidis dan lupa membangun mentalnya untuk menghadapi berbagai tekanan sebagai anak jenius. Pada akhirnya, hidup Sidis berakhir tragis. Dikenal sebagai anak terpintar di dunia, ia meninggal dalam kemiskinan pada usia 46 tahun.[8]

Kedua, tanpa pendidikan dan bimbingan yang tepat, anak-anak CI+BI dapat membahayakan masa depan orang lain. Amril Muhammad, sekjen Asosiasi CI+BI dan pendidik khusus anak-anak berbakat, yang sempat mewawancarai Imam Samudra, menilai terdakwa teroris tersebut sebagai orang jenius. Namun, karena tidak mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang tepat, Imam Samudra menggunakan kejeniusannya untuk melakukan teror.[9]

Contoh kejeniusan lain yang merusak adalah Adolf Hitler. Pemimpin Nazi ini yang ber-IQ 141 ini ternyata memiliki masa lalu kelam. Ayahnya, Alois Hitler, membenci Adolf kecil karena dianggap sebagai anak aneh dan antisosial. Cita-citanya menjadi seniman kandas karena ditolak Universitas Wina dengan alasan tidak berbakat. Beranjak dewasa, nasibnya semakin nelangsa, menggelandang tanpa pekerjaan, sembari menyaksikan kaum imigran hidup berkecukupan di Jerman. Pengalaman ini rupanya memupuk dendam Hitler. Ia jadi pembenci bangsa lain yang dianggapnya telah menari-nari di atas penderitaan rakyat Jerman. Pada akhirnya, sejarah mencatat, bagaimana Hitler menggunakan kejeniusannya untuk membalas dendam lewat agresi militer untuk memulai Perang Dunia II dan melakukan berbagai pembantaian etnis yang menewaskan jutaan orang di seluruh dunia.[10]

Mendidik Anak Jenius

Memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak CI+BI adalah cara yang paling efektif untuk menyelamatkan masa depan mereka, sekaligus menyelamatkan masa depan bangsa. Sebab, tanpa bekal pendidikan yang benar, anak-anak CI+BI hanya akan berakhir seperti Chris Langan, Sidis, bahkan lebih tragis lagi menjadi teroris atau diktator baru.

Untuk mengetahui kecerdasan dan bakat seorang anak, belum ada metode yang lebih baik daripada test IQ. Jadi, idealnya setiap anak sebelum memasuki bangku sekolah dasar harus mengikuti tes intelegensia untuk mengukur tingkat kecerdasan dan bakatnya. Dengan demikian, kita bisa memastikan sistem dan metode pendidikan yang paling tepat untuk mengoptimalkan kecerdasan dan bakat anak-anak tersebut.

Sayangnya, test IQ masih dianggap barang mewah di negeri ini. Jangankan di daerah terpencil di pelosok nusantara, di kota-kota besar pun test IQ masih dinilai sebagai sesuatu yang berlebihan. Bahkan, banyak orang tua yang secara salah kaprah menyamakan test IQ sebagai test kejiwaan, yaitu untuk melihat apakah anaknya memiliki kelainan jiwa atau tidak.

Tentu saja akan lain ceritanya jika pemerintah bersedia untuk turun tangan, misalnya, menjadikan program test IQ sebagai program wajib di seluruh sekolah di Indonesia. Namun, mengingat jalan menuju kebijakan tersebut, menjadi program wajib nasional, kemungkinannya masih akan sangat panjang, kita perlu mengambil langkah-langkah taktis, realistis, dan bisa segera dieksekusi, demi menyelamatkan masa depan anak-anak cerdas dan berbakat istimewa ini.

Ada ada dua pendekatan yang dapat kita lakukan, yaitu secara individual dan sistem/struktural. Pendekatan individual adalah menjadikan guru sebagai ujung tombak dalam mengenali ciri-ciri dan melakukan pendampingan terarah kepada anak-anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa. Apa saja ciri mereka? Antara lain, mampu membaca sebelum masuk sekolah, perkembangan bahasanya lebih baik, perbendaharaan katanya lebih banyak, suka mencari tahu jawaban dari "bagaimana" dan "mengapa" tentang sesuatu hal, dan lain lain (Lihat: Ciri Umum anak CI+BI).[11]

Setelah mengenali mereka, yang tidak kalah pentingnya adalah guru melakukan pendamping terhadap anak-anak CI+BI. Di sini kebijakan dan daya kreatifitas seorang guru jadi kunci. Sebab, Guru bukan hanya dituntut untuk kreatif dalam membantu mengoptimalkan kejeniusan dan bakat anak-anak CI+BI, tetapi juga mampu membekali mereka dengan mental dan karakter yang terpuji, hingga talenta istimewa mereka akan bermanfaat bagi diri sendiri dan bangsanya di kemudian hari.

Sementara metode pendekatan struktural dapat dilakukan tiga cara.[12] Pertama, pengayaan materi pembelajaran, yaitu menyediakan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan bagi CI+BI, baik yang bersifat vertikal (intensif, pendalaman) dan horizontal (ekstensif, perluasan). Misalnya, memberikan tambahan materi bagi anak genius di luar kurikulum sekolah, seperti tugas mempelajari kasus tertentu, mencari pengetahuan baru dari bacaan di perpusatakaan, dan sebagainya.

Kedua, percepatan pendidikan, yaitu dengan memperbolehkan anak CI+BI menyelesaikan sekolahnya lebih cepat dari anak-anak sebayaknya. Misalnya, anak CI+BI diperbolehkan melompat kelas pada akhir masa belajar dari kelas II SD ke kelas IV, atau meloncat kelas pada pertengahan tahun ajaran, dari kelas I naik ke kelas II.

Ketiga, mengelompokkan anak-anak CI+BI dalam satu kelas atau sekolah. Misalnya, sekolah umum membuat satu kelas khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak CI+BI. Dapat juga dengan mendirikan satu sekolah yang dikhususkan bagi anak-anak CI+BI. Baik kelas maupun sekolah khusus ini harus memiliki kurikulum dan program belajar mengajar yang mampu mengoptimalkan tumbuh kembang kecerdasan dan bakat anak-anak CI+BI.

***

 

Ciri Umum Anak CI+BI

Hasil penelitian dari Balitbang Depdikbud (1986) dan Council of Curriculum Examinations and Assessment (2006) menyebutkan bahwa seorang anak cerdas istimewa dapat mempunyai beberapa dari ciri-ciri berikut ini:

1.       Sangat peka dan waspada

2.       Belajar dengan mudah dan cepat

3.       Mampu berkonsentrasi

4.       Sangat logis

5.       Cepat berespon secara verbal dengan tepat

6.       Lancar berbahasa

7.       Mempunyai daya ingat yang baik

8.       Mempunyai pengetahuan umum yang luas

9.       Mempunyai minat yang luas dan mendalam

10.    Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan

11.    Cermat atau teliti dalam mengamati

12.    Kemampuan membaca yang baik

13.    Lebih menyukai kegiatan verbal daripada kegiatan tertulis

14.    Mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah dengan sangat cepat

15.    Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah

16.    Menunjukkan cara pemecahan masalah yang tidak lazim

17.    Mempunyai pendapat dan pandangan yang sangat kuat terhadap suatu hal

18.    Mempunyai rasa humor

19.    Mempunyai daya imajinasi yang hidup dan orisinil

20.    Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)

21.    Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya

22.    Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar

23.    Tertarik pada topik-topik yang berkaitan dengan anak-anak yang berusia lebih tua darinya

24.    Dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang dewasa, bahkan lebih baik daripada jika berkomunikasi dengan anak sebayanya

25.    Bisa belajar sendiri dalam bidang-bidang yang diminati

26.    Berfokus pada minatnya sendiri, bukan pada apa yang diajarkan

27.    Mempunyai keterampilan sosial

28.    Mudah bosan pada hal-hal yang dianggapnya rutin

29.    Menunjukkan kepemimpinan yang tinggi

30.    Kadang-kadang tingkah lakunya tidak disukai orang lain.

(Sumber: http://asosiasicibinasional.wordpress.com/pendukung/ciri-umum-anak-cibi/)

 

Nilai IQ Beberapa Tokoh Dunia

 

Nama Tokoh

Profesi dan Negara

Nilai IQ

Jodie Foster

Artis Film, AS

132

Al Gore

Mantan Wakil Presiden, AS

134

Arnold Schwarzenegger

Aktor / Mantan Gubernur, AS

135

Bill (William) J. Clinton

Mantan Presiden, AS

137

Madonna

Penyanyi, AS

140

Hillary Clinton

Menteri Luar Negeri, AS

140

Adolf Hitler

Pemimpin Nazi, Jerman

141

Bonaparte Napoleon

Pemimpin Negara, Perancis

145

Rembrandt van Rijn

Pelukis, Belanda

155

Stephen W. Hawking

Fisikiawan, AS

160

Benjamin Franklin

Penulis, AS

160

Paul Allen

Pendiri Microsoft, AS

160

Albert Einstein

Fisikiawan, AS

160

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Bill Gates

Pendiri Microsoft, AS

160

Wolfgang Amadeus Mozart

Musisi, Austria

165

Friedrich Hegel

Filosof, Jerman

165

James Watt

Ilmuan, Skotlandia

165

Johann Sebastian Bach

Musisi, Jerman

165

Charles Darwin

Ilmuan, Inggris

165

Ludwig van Beethoven

Musisi, Jerman

165

Raphael

Pematung, Italia

170

George Friedrich

Musisi, Jerman

170

Plato

Filosof, Yunani

170

Judith Polgar

Atlet Catur, Hongaria

170

Martin Luther

Teologis, Jerman

170

Immanuel Kant

Filosof, Jerman

175

Benjamin Netanyahu

Mantan PM Israel

180

Buonarroti Michelangelo

Pematung Italia

180

Charles Dickens

Penulis Inggris

180

James Woods

Aktor AS

180

David Hume

Filosof Skotlandia

180

Ren Descartes

Matemetikawan Prancis

185

Galileo Galilei

Ilmuan Italia

185

Bobby Fischer

Pemain Catur AS

187

Friedrich von Schelling

Filosof Jerman

190

Sir Isaac Newton

Ilmuan Inggris

190

Garry Kasparov

Atlet Catur Rusia

190

Voltaire

Penulis Perancis

190

Philip Emeagwali

Matematikawan Nigaria

190

Blaise Pascal

Matematikawan Prancis

195

George H. Choueiri

Pemimpin Lebanon

195

John Stuart Mill

Ilmuan Inggris

200

Kim Ung-Yong

Korea

200

William James Sidis

AS

200

Emanuel Swedenborg

Swedia

205

Johann Wolfgang von Goethe

Jerman

210

Leonardo da Vinci

Ilmuan Italia

220

 

[1] Outliers, Rahasia di Balik Sukses, Malcolm Gladwell, Gramedia Pustaka, 2009

[2] Sri Mulyani: IQ Saya 157, www.tempointeraktif.com

[3] David Weschler. The Measurement of Adult Intelligence, 3rd Ed. Baltimore: The Williams & Wilkins, 1944, p 190. Lewis M. Terman & Maud A. Merrill.

[4] Stanford-Binet Intelligence-Scale. manual for The Third Revision Form L-M. Boston: Houghton-Mifflin, 1973, p 18. American Psychiatric Association.

[5] http://www.pk-plk.com/p/tentang-fkpk-plk.html

[6] http://www.beritasatu.com/perempuan/35670-rsbi-harus-jaring-anak-cerdas-di-pelosok.html

  • Baca juga: Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

[7] http://asosiasicibinasional.wordpress.com/2011/06/25/ironi-anak-cerdas-yang-terabaikan/

 
 
 
 
 
Previous Post

Bank BUMN Mulai Susun SOP Aturan Hair Cut

Next Post

Maloy Menuju Kawasan Ekonomi Khusus

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Bankir yang Berhasil Banting Setir

Bankir yang Berhasil Banting Setir

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance