Yunani hanyalah sebuah negeri kecil, nun jauh di benua Eropa sana. Namun, negara yang luasnya hanya seperempat-belas dari Indonesia itu, kini sedang menjadi pusat perhatian dunia. Semua merasa prihatin, sekaligus khawatir terhadap krisis finansial yang melanda ‘Negeri Para Dewa’ tersebut. Sebab, jika Yunani tidak ditolong, negeri itu akan bangkrut serta dikeluarkan dari Uni Eropa. Dan, dampaknya akan menjalar ke mana-mana, tak terkecuali Indonesia.
Yunani sudah memastikan tidak akan membayar utang senilai 1,54 miliar euro (Rp22 triliun) ke International Monetary Fund (IMF) yang jatuh tempo pada 30 Juni 2015. Dengan demikian, Yunani menjadi negara maju pertama yang gagal bayar utang kepada IMF. Bangkrutnya Yunani ini menjadi salah satu noda hitam dalam perekonomiannya.
Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras sudah melakukan pembicaraan via telepon dengan petinggi Troika, yaitu Uni Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB), dan IMF di menit-menit terakhir. Troika adalah bentuk kepemimpinan suatu organisasi atau sidang yang dijabat oleh tiga pihak dengan peran yang sama. Troika hanya akan memberikan dana bantuan senilai 7,2 miliar euro (Rp108 triliun) jika Yunani bersedia tunduk kepada syarat-syaratnya, mulai dari pemangkasan anggaran pemerintah dan menaikkan pajak.
Pemerintah Yunani sendiri sudah mengambil referendum dan meminta warganya melakukan voting terhadap syarat-syarat tersebut, apakah akan diterima atau tidak. Voting dilakukan Minggu, 5 juli 2015. Dalam pemungutan suara untuk menentukan nasib perekonomian Yunani, warga pemilik hak pilih disuguhi dua pilihan yakni ‘Yes’ untuk memilih depresi alias menolak kebijakan bailout atau ‘No’ jika menerima bailout dari kreditor. “Pilihan ‘yes’ adalah untuk depresi,” ujar pakar ekonomi peraih hadiah Nobel, Joseph Stiglitz seperti dikutip Bloomberg.
Tetapi menurut Profesor dari Columbia University itu, pilihan tersebut akan sangat membahayakan tidak hanya masa depan Yunani tetapi juga ekonomi global, khususnya negara-negara di Eropa. Sedangkan jika memilih ‘No’, bukan berarti bahwa Yunani akan meninggalkan mata uang Euro. ”Apa yang dikatakan adalah bahwa tawaran Anda yang terakhir tidak bisa diterima,” ujar Stiglitz.
Akibat krisis yang berkepanjangan, pemerintahan Yunani sempat memutuskan menutup bank dan pembatasan penarikan dana. Kebijakan yang oleh Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras diambil, pada 28 Juni 2015 lalu, sebagai langkah tegas mengontrol modal yang digunakan untuk menjaga sistem perbankan.
Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat pada Februari lalu memprediksi, Yunani akan segera meninggalkan Uni Eropa. Sebab, tidak ada satu negara pun yang mau mengambil risiko meminjamkan uang kepada Yunani. Jika ramalam Greenspan menjadi kenyataan, keluarnya Yunani dari mata uang tunggal Eropa akan menciptakan ketidakstabilan di pasar keuangan Eropa. Sebab, bukan apa-apa, negara-negara Eropa adalah pembeli surat utang Yunani yang paling besar.
Ramalan Greenspan akhirnya kini menjadi kenyataan. Dampaknya tentu akan makin menghambat pemulihan ekonomi di Eropa, bahkan bukan tak mungkin akan membawa kawasan itu kembali krisis. Amerika Serikat dan China juga bakal kelimpungan karena kawasan Eropa selama ini menjadi tujuan utama ekspor mereka.
Efek lanjutannya adalah para investor asing akan menarik dananya dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mereka akan melepas asetnya di berbagai instrumen investasi yang dianggap berisiko tinggi. Mereka lebih aman dan nyaman menggenggam dolar AS, lalu membawa dananya ke negara yang berisiko kecil.
Minim Dampak
Benarkah krisis Yunani berdampak bagi perekonomian Indonesia? Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan pengaruh krisis Yunani tidak terlalu berdampak besar pada ekonomi Indonesia. Dampak krisis utang Yunani pada 2015 tidak separah krisis Yunani pada 2011-2012. “Tapi memang lihat fluktuasi di pasar keuangan internasional, dampaknya tidak separah krisis Yunani 3-4 tahun lalu,” ujar Mirza.
Dia mengatakan, lantaran investor sudah banyak keluar dari Yunani ketika krisis pertama pecah. Jadi, kalaupun terjadi krisis lagi tak membawa dampak besar. “Karena tahun 2010-2011 masih banyak eksposur negara-negara Eropa, negara di luar Eropa kepada ekonomi Yunani. Karena ekonomi sudah krisis sejak 2010-2011 sehingga sudah banyak investor dan perbankan banyak keluar sejak beberapa tahun yang lalu,” ujar Mirza.
Senada dengan Mirza, Kepala Ekonom Bank Central Asia Tbk, David Sumual menyatakan, krisis ekonomi yang menimpa Yunani tidak akan berdampak langsung terhadap Indonesia. David berujar, krisis Yunani hanya akan mempengaruhi nilai tukar rupiah. “Krisis Yunani akan mempengaruhi nilai tukar Euro terhadap dollar Amerika Serikat. Jika dolar makin kuat, pengaruhnya juga akan ke rupiah,” katanya.
David menjelaskan minimnya dampak krisis Yunani lantaran Eropa bukan menjadi pasar ekspor Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke Eropa masih di bawah 10 persen. “Trading hanya sekitar 8 persen dari keseluruhan eskpor dan itu sangat kecil,” kata David.
Pasar ekspor terbesar Indonesia, menurut David, adalah Amerika Serikat dan Cina. Jika kedua negara tersebut mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi bakal berdampak langsung ke Indonesia. “Kalau Cina jelas, tapi untuk Yunani tidak ada dampak langsung,” ucapnya.
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, mengatakan krisis Yunani hanya memberikan dampak kecil bagi Indeks Harga Saham Gabungan. “Pasti ada, tapi pelaku pasar perlu adjusment dari minimnya sentimen yang datang,” ujarnya.
Lantaran berdampak terhadap mata uang Euro, Reza meneruskan, pelaku pasar akan mengganti obligasi berdenominasi dolar. “Melihat yield dari obligasi yang menarik, pelaku pasar akan masuk ke aset-aset Amerika Serikat,” ujar Reza.
Ariawan, Analis Obligasi BNI Securities, mengatakan dampak penurunan rating Yunani mungkin bisa dirasakan oleh pasar obligasi Indonesia. “Krisis fiskal yang semakin dalam di Yunani bisa membuat investor global berpikir ulang sebelum masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia” katanya.
Namun, Ariawan menilai dampak tersebut tidak akan signifikan dan hanya berlangsung sesaat. Pasar obligasi Indonesia masih didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan menawarkan yield menarik. “Jadi sepertinya dana asing tetap masuk ke pasar obligasi, meskipun agak terbatas,” katanya.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) I Kadek Dian Sutrisna Artha mengatakan, sebenarnya dampak dari krisis Yunani tidak hanya pada sektor yang bertenor pendek saja, tapi juga pada sektor jangka menengah dan jangka panjang. “Dampak dari sektor jangka pendek seperti finansial market dan nilai tukar mata uang terhadap dolar,” ujar I Kadek. I Kadek mengaku, dampak dari krisis Yunani tersebut sebenarnya tidak besar, tapi tetap saja dampak psikologisnya dapat menurunkan harga saham dan melemahnya rupiah.
Sementara itu, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro juga wanti-wanti untuk mewaspadai kemungkinan keluarnya Yunani dari Uni Eropa. Pasalnya, Grexit (Greece Exit, istilah keluarnya Yunani dari Uni Eropa) dapat memicu sentimen negatif di pasar global yang bisa berdampak buruk terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Ini persoalannya lebih kepada masalah tingkat kepercayaan para pelaku pasar global. Kita harus punya persiapan yang kuat,” kata Bambang.
Untuk mengantisipasinya, Menkeu memastikan pemerintah akan terus berupaya menjaga fundamental makroekonomi Indonesia tetap kuat. Antara lain dengan menjaga kestabilan nilai tukar, pengelolaan anggaran, dan defisit transaksi berjalan. “Sejauh ini, hampir semua variabel dalam kondisi bagus. Kecuali nilai tukar,” tuturnya.
Senior Analis Bahana Securities Harry Shu melihat, krisis Yunani akan berdampak pada negara-negara lain termasuk Indonesia. Ancaman krisis ini telah membuat mata uang euro tertekan dan menguatkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar AS ini juga akan menekan mata uang negara lainnya termasuk Indonesia. “Sekarang sudah kelihatan kan, rupiah makin melemah. Kondisi Yunani ini bikin euro melemah, kalau euro melemah, dolar AS makin kuat, kalau dolar AS kuat, rupiah ya terus melemah,” ungkap dia.
Lebih jauh Harry menjelaskan, jika Yunani dinyatakan gagal bayar atas utang-utangnya tidak menutup kemungkinan ancaman krisis melanda negeri dewa-dewi ini. Tentu ini akan menyeret negara lain termasuk Indonesia

















