Jakarta, Stabilitas–Dampak kebijakan tahun 2015 yang tidak terkontrol menyebabkan kredit tidak mengalami pertumbuhan yang baik. Non Performing Loan (NPL) terjaga pada level yang relatif rendah yaitu 3,18 persen gross net. Begitupun pada perusahaan pembiayaan, Non Performing Financing (NPF) juga terjaga pada level yang rendah yaitu 3,20 persen.
Bank Perkreditan Rakyat terus mengalami kenaikan NPL. Hampir 80 persen BPR di Indonesia ditutup operasinya sebab mengalami pelemahan. Untuk itu OJK mengupayakan penguatan kinerja BPR dengan melakukan konsolidasi.
“Perlu dibangun semangat kemitraan antar bank-bank BPR. Kita dorong BPR untuk menjadi satu ekosistem pembiayaan dengan beberapa BPR yang ada,”kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad, di Jakarta, Jumat (30/12).
OJK berharap tidak hanya BPR, semua sektor keuangan diharapkan mampu membentuk kemitraan dan melakukan kosolidasi. “Tidak hanya BPR tapi juga lembaga-lembaga mikro,”lanjut Muliaman.
Upaya konsolidasi ini pernah dilakukan oleh sektor pertambangan. Dampak dari tahun 2015 secara bertahap bisa dikontrol terutama sisa jumlah NPL pertambangan.
“Karena sebagian sudah dicoverage dan memadai, skrg di akhir tahun 2016 dan harapannya di 2017 beban NPL pertambangan semakin berkurang. Dgn demikian pertumbuhan kredit bisa relatif rendah,”jelas Muliaman.
















