Stabilitas.id – pagi, saat matahari mulai menyengat aspal di kawasan Penggilingan, Jakarta Timur, Lydwina sudah sibuk di balik bilah-bilah bambu dan pipa pralon. Perempuan yang akrab disapa Ina ini bukan sedang bertukang, melainkan sedang memeriksa barisan sawi dan pakcoy yang tumbuh rimbun di atas lahan 1.500 meter persegi.
Di sini, di RT 09/RW 13, pemandangan beton yang kaku luluh oleh hijaunya daun. Ina dan para perempuan yang tergabung dalam KWT Buaran Citra Lestari adalah “arsitek” di balik transformasi lahan tidur milik Pemerintah Daerah ini. Program Pemberdayaan Perempuan melalui sektor Urban Farming kini bukan lagi sekadar hobi, melainkan urat nadi Ketahanan Pangan warga.
“Dulu ini lahan terbengkalai. Kami berpikir, daripada jadi tempat pembuangan atau sekadar semak, lebih baik jadi sesuatu yang bisa dimakan,” kenang Ina saat berbincang dengan kami.
BERITA TERKAIT
Melawan Stigma Lahan Sempit
Perjalanan menyulap lahan ini dimulai pada 2021. Bermodalkan semangat swadaya, mereka memulai dengan kolam ikan bioflok sederhana. Setahun kemudian, kawasan ini resmi menjadi pusat pertanian perkotaan. Tak hanya sayuran dasar seperti kangkung dan bayam, mereka juga menanam tomat hingga cabai rawit yang kerap menjadi pemicu inflasi di dapur warga.
Namun, mengelola pertanian di tengah kota bukan tanpa kendala. Suhu Jakarta yang ekstrem dan polusi udara menjadi tantangan nyata. Di sinilah intervensi teknologi masuk melalui program BRInita (BRI Bertani di Kota), sebuah inisiatif dari BRI Peduli.
Dukungan dari CSR BRI ini mengubah peta permainan. Sebuah greenhouse berdiri kokoh, menjadi pelindung bagi tanaman dari cuaca yang tak menentu. “Tahun 2025 lalu kami dapat bantuan rumah tanaman ini. Hasil panen jadi lebih stabil dan berkualitas,” kata Ina.
Bukan Sekadar Bertani
Bagi para ibu di Buaran Citra Lestari, lahan ini lebih dari sekadar tempat mencari tambahan ekonomi. Sebagian besar anggota kelompok adalah pensiunan yang mencari ruang aktualisasi. Bertani menjadi terapi sekaligus sarana bersosialisasi.
Hilirisasi pun dijalankan. Hasil panen tak melulu dijual segar. Mereka mengolah bunga telang menjadi teh kering yang berkhasiat, hingga memproduksi nugget bayam. Bahkan, dedaunan di sana disulap menjadi kerajinan ecoprint bernilai seni tinggi. Semua dipelajari melalui rentetan pelatihan packaging dan pemasaran yang didukung penuh oleh BRI.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, melihat fenomena di Jakarta Timur ini sebagai representasi semangat Kartini modern. “Program ini bertujuan mendorong kaum perempuan mengambil peran lebih besar, mengubah keterbatasan menjadi kekuatan ekonomi yang bermakna,” ujarnya.
Angka di Balik Rimbun Daun
Data mencatat, program BRInita yang dimulai sejak 2022 ini bukan sekadar proyek kosmetik. Program ini menjadi bagian dari transisi menuju Ekonomi Hijau yang diusung emiten berkode BBRI tersebut.
Dampaknya terasa pada angka-angka sosiologis:
-
Indeks Pembangunan Manusia (IPM): Berkontribusi pada peningkatan hingga 47%, khususnya bagi perempuan.
-
Lingkungan: Berhasil menekan emisi gas rumah kaca sebesar 645,7 kg CO2-eq melalui praktik tani ramah lingkungan.
-
Produksi: Menghasilkan puluhan ribu tanaman sayuran dan ribuan liter pupuk organik cair yang kembali ke tanah.
Kembali ke gang-gang sempit di Cakung, Ina dan kelompoknya telah membuktikan satu hal: di tangan perempuan yang berdaya, lahan tidur pun bisa “berbicara” dan memberi makan pada sesama. ***
















