Stabilitas.id – Bagi Nia Anggraini, keputusan untuk berhenti menjadi tenaga pemasaran dan beralih ke dapur bukanlah sebuah kemunduran. Di rumahnya yang sederhana di Purwogondo, Kartasura, Nia justru menemukan “panggung” baru saat menjalani cuti melahirkan pada 2014 silam. Berawal dari niat mengisi waktu luang, ia mulai meracik tahu.
Siapa sangka, dari sekadar coba-coba, usaha tahu itu kini menjadi tulang punggung keluarga. Namun, jalan Nia tak selalu mulus. Menjalankan peran ganda sebagai istri, ibu, sekaligus pengusaha mikro menuntut ketangguhan ekstra. Di tengah kepulan uap produksi tahu, ia harus memastikan urusan domestik tetap terjaga.
“Usaha yang baik adalah usaha yang dijalankan, bukan hanya yang dipikirkan,” ujar Nia lirih, mengulang prinsip yang membawanya sejauh ini.
BERITA TERKAIT
Jejaring Mekaar di Tengah Pandemi
Titik balik usaha Nia terjadi saat ia mengenal PNM Mekaar. Ia melihat para tetangganya mampu bertahan di tengah hantaman pandemi Covid-19 berkat bantuan permodalan dari ekosistem UMKM tersebut. Tertarik dengan pola pendampingannya, Nia pun memutuskan bergabung.
Bagi Nia, bergabung dengan PNM Mekaar bukan sekadar meminjam modal. Ia masuk ke dalam ekosistem Holding Ultra Mikro yang diperkuat oleh BRI. Di sana, ia tidak hanya mendapatkan suntikan dana, tetapi juga networking—sebuah kemewahan bagi pelaku usaha di tingkat akar rumput.
“Yang paling terasa adalah jejaring yang semakin luas,” ungkapnya. Jejaring inilah yang mempermudah jalur pemasaran tahu miliknya hingga menembus pasar yang lebih lebar.
Inkubasi dan Naik Kelas
Ambisi Nia tak berhenti di pasar tradisional. Pada 2024, ia terpilih mengikuti Senyum Incubation Program di Rumah BUMN Yogyakarta. Selama empat bulan, ia digembleng oleh sinergi tiga raksasa: BRI, PNM, dan Pegadaian. Di sana, Nia belajar bahwa tahu bukan sekadar komoditas, tapi produk yang kualitas dan strateginya bisa ditingkatkan.
Upaya ini sejalan dengan kinerja pemberdayaan holding tersebut. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 1,4 juta debitur PNM berhasil “naik kelas”. Nia adalah salah satu potret nyata dari statistik tersebut. Kini, usaha Tahu miliknya dikelola bersama sang suami dan anggota keluarga lainnya, bahkan mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Perempuan sebagai Poros Ekonomi
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menekankan bahwa perseroan berkomitmen menghadirkan ekosistem yang terintegrasi. “Kami percaya perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi keluarga dan nasional,” tegasnya.
Bagi Nia, kemandirian finansial adalah bentuk harga diri. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa memiliki penghasilan tanpa harus menanggalkan peran utamanya dalam keluarga. Melalui kode emiten BBRI, BRI terus memperkuat dukungannya bagi jutaan “Nia” lainnya di pelosok Indonesia melalui layanan Mekaar yang inklusif.
Kisah Nia dari Kartasura ini menjadi pengingat sederhana: di tangan perempuan yang tekun, sepotong tahu bisa berubah menjadi harapan besar yang menghidupi masa depan. ***
.






.jpg)










