Jakarta 0 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan jumlah aktuaris di Indonesia menjadi dua kali lipat dari yang ada saat ini dalam jangka waktu lima tahun ke depan. Hal itu disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Firdaus Djaelani.
Seperti diketahui, OJK bersama beberapa universitas di Indonesia bekerja sama untuk melaksanakan program mencetak 1.000 aktuaris dalam lima tahun ke depan. Angka tersebut, menurut Firdaus bukan merupakan angka target pencapaian sebenarnya.
- Baca juga: Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital
“1.000 itu bukan untuk mencapai angka seribu tapi maunya banyak melahirkan aktuaris. Awal 2014 ada sekitar 170an. Harapannya lima tahun lagi double lah,” ucap Firdaus di Jakarta, Selasa (17/3).
Dia menyatakan saat ini telah ada perusahaan asuransi yang menawarkan beasiswa kepada mahasiswa tingkat akhir dari tiga universitas Indonesia, yakni UGM, UI, dan ITB. Harapannya, mahasiswa mau menjadi seorang aktuaris karena jumlah profesi itu masih terbilang minim.
Padahal profesi aktuaris sangat dibutuhkan dalam rangka peningkatan jumlah sumber daya manusia yang berkualitas di sektor industri perasuransian.
“Kita kan dulu mencanangkan 1.000 aktuaris. Berbagai cara dilakukan. Sosialisasi dengan universias, lembaga pendidikan, perusahaan sudah didorong. AIA juga sudah didorong mencoba memberikan beasiswa kepada mahasiswa akhir dari Matematika umumnya untuk mau jadi aktuaris,” katanya.
Aktuaris merupakan profesi yang menerapkan ilmu aktuaria, yakni ilmu yang menggunakan metode dan perhitungan statistika dan matematika dalam memprediksi dan melakukan perencanaan kemungkinan peristiwa di masa depan dan dampak keuangannya. Profesi itu nantinya juga akan bertugas mengkalkulasi perencanaan keuangan, premi-premi, dan nilai pengembalian dari premi yang diambil.

















