Stabilitas.id pabrik Beton Merah Putih di Jatiasih, Bekasi, sebuah instalasi futuristik berdiri tegak di antara deru truk molen dan debu industri. Sekilas, bentuknya menyerupai akuarium raksasa dengan cahaya temaram yang elegan. Namun, bagi para ilmuwan dan pegiat lingkungan, kotak kaca berukuran 1,30 x 1,90 meter ini adalah harapan baru bagi udara perkotaan yang kian menyesakkan.
Namanya MPTree. Sebutan populernya: “pohon cair”. Alih-alih menggunakan batang dan daun, teknologi hasil kolaborasi PT Cemindo Gemilang Tbk (Semen Merah Putih) dengan AlgaePark Indonesia ini menggunakan mikroalga untuk menyerap karbon dioksida (CO₂).
“Bagi kami, komitmen keberlanjutan dibuktikan melalui langkah nyata yang dapat diuji dan diukur,” ujar Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih.
BERITA TERKAIT
Mesin Fotosintesis di Lahan Sempit
Mengapa mikroalga? Secara sains, organisme mikroskopis ini adalah juara dunia dalam urusan fotosintesis, melampaui kemampuan pohon konvensional. Di dalam sistem photobioreactor MPTree, mikroalga bekerja nonstop menyerap polutan dalam ruang tertutup.
Efisiensinya luar biasa. Satu unit prototipe MPTree saat ini mampu menyerap karbon setara dengan 8 pohon dewasa, dengan target pengembangan hingga 16 pohon. Di tengah krisis lahan terbuka hijau di Jakarta dan sekitarnya, MPTree hadir sebagai solusi yang tidak membutuhkan lahan berhektar-hektar.
Secara teknis, MPTree adalah perpaduan antara biologi dan rekayasa presisi:
-
Struktur Tangguh: Menggunakan rangka baja modular dengan kaca tempered laminasi 8+8 mm yang dirancang tahan benturan di lingkungan industri.
-
Sistem Hybrid: Beroperasi 24 jam penuh menggunakan perpaduan panel surya dan jaringan PLN.
-
Berbasis IoT: Dilengkapi sensor pintar yang memantau kadar CO₂, O₂, suhu, hingga pH alga secara real-time.
Uji Nyata di ‘Medan Perang’
Pemilihan lokasi di Jatiasih bukan tanpa alasan. Semen Merah Putih sengaja meletakkan teknologi ini di jantung aktivitas berat untuk menguji ketangguhan operasionalnya. Jika MPTree bisa bertahan dan bekerja optimal di tengah debu pabrik semen, maka ia siap ditempatkan di mana saja—mulai dari trotoar jalan protokol hingga kawasan industri padat.
Muhammad Zusron, Direktur Utama Algaepark Indonesia Mandiri, menjelaskan bahwa kolaborasi ini adalah jembatan antara inovasi sains dan kebutuhan industri. “Proses penyerapan karbon dapat dikontrol dan dioptimalkan secara presisi lewat sistem ini,” ungkapnya.
Melampaui Target ESG
Langkah emiten berkode CMNT ini bukan sekadar pemanis laporan tahunan. Di tengah sorotan global terhadap emisi industri semen, inovasi ini menjadi pembuktian komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) yang transparan.
Bagi Nyiayu, transisi menuju industri rendah karbon membutuhkan keberanian untuk memulai dan menyempurnakan. “Langkah di MPTree adalah ikhtiar bersama dalam menciptakan lingkungan yang bersih demi generasi mendatang,” tutupnya.
Ketika pohon-pohon di kota kian tergerus gedung tinggi, barangkali masa depan udara kita memang harus dititipkan pada “pohon-pohon cair” yang tumbuh di dalam tabung kaca ini. ***






.jpg)










