Jakarta – Tahun 2013, pertumbuhan saham sektor keuangan akan melampaui level 14 persen. Kenaikan itu didukung dari besar volume kredit. Di samping, margin bunga bersih (net interest margin/NIM). "NIM akan turun dengan persaingan atau kompetisi yang ada," kata pengamat pasar modal Michael Tjoajadi di Jakarta, Rabu (7/11).
Dikatkan dia, penyaluran kredit perbankan Indonesia baru sebesar 9 persen bila dibandingkan Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP). Padahal, peluangnya mencapai 20 persen. "Banking penetration Indonesia masih rendah. Semakin maju negara, semakin maju perbankan, penetrasinya akan semakin naik," ucapnya.
BERITA TERKAIT
Selain kredit, menurut Michael, diversifikasi perbankan juga mendorong saham perbankan. "Misalnya, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi salah satu bank yang menjadi pemain utama di kredit mikro," jelasnya.
Dia juga mengungkapkan optimisme merujuk pada saham-saham perbankan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Proyeksi tersebut melihat potensial kenaikan lima emiten perbankan, antara lain PT Bank Negara Indonesia (BNI) memiliki ruang bertumbuh lebih besar hingga 24,86 persen dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp69 triliun.
Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) berpotensi naik 18,87 persen dengan nilai kapitalisasi Rp175,15 triliun. PT Bank Mandiri berpotensi naik 11,54 persen dengan nilai kapitalisasi pasar Rp195,99 triliun. Sedangkan, PT Bank Central Asia (BCA) berpotensi naik 9,43 persen dengan nilai kapitalisasi pasar Rp203,40 triliun. Lalu, PT Bank Danamon berpotensi naik 8,89 persen dengan nilai kapitalisasi pasar Rp58,94 triliun. "Jika dirata-ratakan, potensial kenaikan sahamnya 14,72 persen," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Jamsostek Elvyn G Masassya menambahkan efisiensi yang dilakukan perbankan, antara lain biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO) memberikan nilai positif bagi investasi. Di samping, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan juga meningkat sejak 2007 lalu. "Kenaikan saham itu akan dapat dilihat melalui sejauh mana bank yang bersangkutan dapat bersinergi dengan bank lain," ujarnya.
Return dari indeks saham-saham sektor keuangan atau Jakarta Stock Exchange Finance Index (Jakfin) juga menujukkan performa di atas rata-rata. Dalam lima tahun terakhir, Jakfin bahkan mengungguli kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Porsi kinerja Jakfin meningkat 143,68 persen, sedangkan IHSG meningkat 104,06 persen.
Perbankan di Indonesia diproyeksikan masih tumbuh. Hal itu ditunjukkan dari aset, kredit, dan dana pihak ketiga (DPK) yang juga terus tumbuh.
Permodalan bank di Indonesia juga kuat yang ditandai rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 16s persen hingga 18 persen. Bank juga semakin prudent dengan kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) yang semakin turun.






.jpg)










