Stabilitas.id – Di tangan seorang perempuan, selembar uang bisa menjadi penentu banyak hal: kelangsungan dapur, biaya sekolah anak, hingga benteng terakhir ketika badai ekonomi datang menerpa. Di era digital saat ini, peran itu kian berat. Dompet tak lagi sekadar kulit lipat di dalam tas, melainkan aplikasi di dalam gawai yang rentan goyah oleh godaan konsumerisme maupun jebakan industri keuangan ilegal.
Sadar akan besarnya beban di pundak kaum hawa, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memilih melangkah ke barisan paling depan. Menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK), otoritas menggelar gerakan masif untuk memperkuat literasi keuangan perempuan. Langkah ini menjadi salah satu menu utama dalam rangkaian Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026.
Selasa, 9 Juni 2026, Gedung Dhanapala di Jakarta riuh oleh kehadiran seribu perempuan secara luring, sementara tiga ribu lainnya menyimak dengan takzim dari balik layar digital di berbagai pelosok daerah. Di sana, sebuah manifesto digaungkan: Perempuan Berdaya Finansial: Literasi Keuangan Keluarga untuk Mewujudkan Masyarakat Sejahtera.
BERITA TERKAIT
Jangkar Peradaban Finansial
Edukasi ini bukan sekadar kelas teoritis tentang bagaimana cara menghitung bunga bank. Bagi OJK, memperkuat literasi keuangan perempuan adalah investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi masa depan.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi sentral yang tidak bisa digantikan dalam struktur makro maupun mikro ekonomi nasional.

“Literasi keuangan bagi perempuan bukan hanya tentang memahami uang, tetapi tentang membangun keluarga yang tangguh, melahirkan generasi yang cerdas finansial, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Friderica di hadapan ribuan kader PKK.
Langkah OJK membidik kaum ibu bukanlah tanpa kalkulasi matang. Dalam kerangka Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI), perempuan telah ditetapkan sebagai segmen prioritas utama. Mengapa? Karena perempuan adalah penggerak utama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sekaligus manajer keuangan domestik yang menentukan ke mana arah perputaran uang nasional mengalir.
Benteng Pertahanan dari Serangan ‘Pinjol’
Ketika teknologi finansial berkembang secepat kilat, risiko yang mengintai juga berlipat ganda. Jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal dan investasi bodong kerap kali menyasar wilayah domestik rumah tangga, di mana para ibu menjadi korban utamanya akibat minimnya edukasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, menyebut perempuan sebagai kunci ketahanan sekaligus fondasi kesejahteraan. OJK tidak ingin para ibu hanya menjadi konsumen pasif, melainkan bertransformasi menjadi agen perubahan di lingkungannya.

“Perempuan, khususnya Ibu-Ibu PKK, adalah kunci ketahanan keuangan keluarga. Kita mendorong mereka tidak hanya memahami, namun juga dapat menjadi duta literasi keuangan agar dapat menularkan kebiasaan mengelola keuangan secara bijak,” kata Dicky.
Bak gayung bersambut, Ketua Umum TP-PKK Tri Tito Karnavian melihat kolaborasi ini sebagai perisai pelindung bagi anggotanya. Ketangguhan seorang perempuan mengelola aset keluarga di era digital, menurut Tri, akan secara otomatis menjauhkan mereka dari taktik culas para pelaku industri keuangan ilegal. Ia berharap edukasi semacam ini tidak mandek di kota-kota besar, melainkan merembes hingga ke wilayah paling urban dan pedesaan.
Bukan Lagi Sekadar Pengelola RT
Untuk memberikan bekal yang praktis, diskusi hari itu diisi oleh nama-nama yang tak asing di dunia finansial. Dipandu oleh Komisaris Utama Bank Jago Anika Faisal selaku moderator, para ibu diajak membedah strategi mengelola aset secara taktis bersama Principal Consultant & CEO Zapfinance Prita Ghozie, serta Wakil Direktur Utama PT BRI Vivian Dyah Ayu Retno.
Dari meja diskusi tersebut, lahir perspektif baru bagi para kader PKK yang hadir.
Pertama, Cerdas Mengelola Aset. Memahami batasan antara kebutuhan domestik jangka pendek dan investasi jangka panjang.
Kedua, Memilih Instrumen Aman. Mengetahui cara memverifikasi legalitas produk keuangan digital sebelum menempatkan dana.
Ketiga, Pemanfaatan Teknologi. Menggunakan platform finansial (fintech) secara bertanggung jawab demi efisiensi usaha mikro keluarga.
Pertemuan di Dhanapala siang itu seolah menegaskan kembali satu hal: ketika seorang perempuan melek finansial, dia tidak hanya sedang menyelamatkan dompetnya sendiri. Ia sedang membangun fondasi ekonomi yang kokoh bagi keluarganya, melestarikan masa depan anak-anaknya, dan pada akhirnya, ikut menentukan seberapa tangguh ekonomi nasional ini berdiri tegak.***

















