OJK menggelar Puncak HIM 2026 di Rote Ndao NTT. Duta Literasi OJK mengedukasi pelajar SMA soal perencanaan keuangan dan bahaya judi online, diiringi pemecahan rekor MURI 220.194 rekening SimPel.
Stabilitas.id – Di SMA Negeri 1 Rote Selatan, riuh rendah suara para siswa memecah keheningan pulau paling selatan Nusantara, Rabu (19/8/2026). Hari itu, harapan baru ditiupkan dari Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT): mengajarkan anak-anak di tapal batas untuk berani merajut masa depan lewat selembar buku tabungan.
Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT bersama Pemerintah Provinsi NTT, Pemkab Rote Ndao, Bank NTT, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan berbagai pemangku kepentingan ini bukan sekadar seremoni finansial. Dari bumi Rote, gerakan ini menjadi ikhtiar meretas keterbatasan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Langkah edukasi ini hadir di tengah naiknya indeks literasi keuangan nasional. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan nasional tercatat sebesar 69,57 persen, menguat dari posisi 66,64 persen pada 2025. Adapun inklusi keuangan nasional menyentuh 93,61 persen. Sementara itu, Provinsi NTT membukukan indeks literasi keuangan 67,71 persen dan inklusi keuangan 92,78 persen.
BERITA TERKAIT
Meski akses perbankan kian terbuka lebar, tingkat pemahaman masyarakat dalam mengelola risiko keuangan di lapangan masih terus diuji.

Menembus Jarak, Menjaga Keberlanjutan
Melalui sambungan virtual, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengingatkan bahwa kesetaraan akses harus menjangkau seluruh pelosok, termasuk wilayah yang tengah diuji bencana.
“Anak-anak kita, di mana pun mereka tinggal, di seluruh NTT, di setiap sudut, termasuk di Pulau Flores yang sedang terdampak musibah gempa bumi, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenal, memiliki, dan memanfaatkan layanan keuangan formal sejak dini,” tutur Melki.
Pesan tersebut mewujud nyata. Sebanyak 220.194 rekening Simpanan Pelajar (SimPel) resmi dibuka secara serentak di 22 kabupaten/kota se-NTT, melampaui target awal 208.000 rekening. Capaian ini memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pembukaan rekening SimPel serentak terbanyak yang sebelumnya bertahan selama satu dekade.
Namun, Melki menegaskan bahwa rekor MURI ini bukanlah garis akhir dari Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).
“Rekor ini bukan tujuan akhir. Rekor ini adalah penanda bahwa kita mampu bergerak bersama dalam skala besar. Rekor selesai, tapi jauh lebih penting adalah membuat rekening-rekening tersebut tetap aktif, anak-anak kita terus menabung, dan program ini kita bangun melalui pendampingan yang berkelanjutan,” kata Melki.
Guna menjaga keberlanjutan program, Pemprov NTT resmi meluncurkan Surat Edaran Gubernur tentang Program KEJAR sebagai landasan penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, sekolah, perbankan, dan orang tua.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk menyambut hangat kepercayaan yang diberikan ke daerahnya sebagai tuan rumah. Bagi warga Rote, batas geografis bukanlah penghalang untuk bertumbuh.
“Walaupun berada di ujung selatan Indonesia, kami percaya sebuah daerah tidak pernah benar-benar berada di ujung apabila hati dan semangat kita selalu terhubung dengan daerah lain,” ucap Paulus.
Dukungan serupa ditegaskan Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus. Menurutnya, mempersiapkan masa depan harus dimulai dari melatih kedisiplinan sejak usia sekolah.
“Hari ini, dari titik paling selatan Indonesia, kita harus berbangga bahwa NTT mencetak satu rekor baru untuk kegiatan menabung yang paling banyak. Ini hal yang sangat membanggakan dan saya berpikir mungkin inilah awal dari kebangkitan kita di NTT untuk menyongsong satu masa depan yang lebih baik,” ujar Charlie.
Navigasi Sampan Keuangan dan Simulasi Budgeting
Di tengah suasana dialog yang hangat di SMA Negeri 1 Rote Selatan, Duta Literasi Keuangan OJK yang juga Redaktur Majalah Stabilitas dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Romualdus San Udika, mengajak para siswa memahami dunia finansial lewat analogi yang dekat dengan keseharian masyarakat pesisir.
Ia mengibaratkan uang jajan seperti sampan yang digunakan untuk melaut. Jika perahu mengalami kebocoran kecil namun terus dipaksakan berlayar tanpa diperbaiki, perahu itu lambat laun akan tenggelam.
“Sama dengan kapal atau sampan yang bocor halus. Kalau kita paksa jalan, kita akan karam di lautan. Itu sama dengan kita punya uang jajan. Kalau kita tidak rencanakan dengan baik, maka dia akan bocor halus,” kata Sandy, demikian dia disapa.
Di hadapan para pelajar, Sandy membedah simulasi pengelolaan uang jajan sederhana. Dari alokasi nominal Rp100.000 per minggu, ia memperkenalkan rumus proporsi kebutuhan:
- 50% Kebutuhan (Rp50.000): Alokasi untuk ongkos transportasi menuju sekolah serta pemenuhan alat tulis atau fotokopi tugas.
- 30% Keinginan (Rp30.000): Alokasi untuk kebutuhan sosial, jajanan harian, atau paket data.
- 20% Tabungan (Rp20.000): Disisihkan secara disiplin di awal menerima uang jajan untuk dimasukkan ke rekening SimPel.
“Jadi prinsipnya begini Adik-adik, ketika dapat uang bulanan atau mingguan, langsung sisihkan di awal. Jangan tunggu sisa. Kalau hari-hari dapat Rp50.000, langsung sisihkan Rp20.000 untuk simpanan. Kalau disisihkan rutin, dalam satu semester bisa terkumpul Rp480.000 untuk beli sepatu sekolah baru tanpa beban orang tua,” ujarnya.
Ia menekankan agar tabungan yang ada di SimPel tidak ditarik kembali secara konsumtif atau digunakan oleh pihak lain untuk kebutuhan di luar pendidikan.
“Jangan cuma tabungan hari ini, besok uang sudah habis ditarik semua. Kalau tidak, Bapaknya ambil buat beli rokok, atau Mamanya ambil buat beli apa. Kalau bisa kita saling mendukung program yang bagus ini, menabung dari angka yang kecil,” tuturnya.
Edukasi langsung ini memberi impresi mendalam bagi para siswa, salah satunya Sidensi Miangada, siswi kelas 10B SMA Negeri 1 Rote Selatan. Ia mengaku biasa membawa uang saku Rp5.000 ke sekolah dan habis untuk berbelanja di kantin.
“Tadi dijelaskan bagaimana kalau kita dapat uang Rp50.000, kita bisa membagi 20 persen sebagai simpanan. Saya jadi paham untuk lebih mementingkan kebutuhan daripada sekadar keinginan,” ungkap Sidensi.

Meretas Risiko Digital dan Tugas Perlindungan OJK
Tak sekadar mengajarkan manajemen uang jajan, Sandy juga memperingatkan para pelajar akan bahaya kejahatan finansial digital yang kian marak mengincar kelompok usia muda. Ia menyoroti pembelian kuota game online yang berlebihan, jerat judi daring, modus penipuan “titip dana” melalui aplikasi pesan singkat, hingga tawaran kerja paruh waktu palsu.
Guna membentengi para siswa, ia memaparkan landasan hukum dan fungsi OJK sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011.
“Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 dibentuk dengan tiga fungsi utama: mengatur, mengawasi, dan melindungi. Melindungi konsumen dan masyarakat ini sangat penting,” kata Sandy.
Ia mengingatkan bahwa langkah perlindungan tersebut kian krusial karena pelajar SMA merupakan calon nasabah masa depan yang harus dibekali kecakapan keuangan sebelum memasuki jenjang perguruan tinggi maupun dunia kerja.

Dalam kesempatan yang sama, Plt Kepala OJK Provinsi NTT Yan Jimmy Hendrik Simarmata menegaskan kembali bahwa literasi dan inklusi harus berjalan seiring agar masyarakat tidak hanya memiliki akses, tetapi juga memahami manfaat, risiko, serta hak dan kewajibannya.
“Menabung bukan sekadar menyimpan uang, tetapi merupakan bagian dari proses membangun kebiasaan keuangan yang sehat, mulai dari menentukan prioritas, merencanakan kebutuhan, hingga mengambil keputusan keuangan secara bijak,” ujar Jimmy.
Upaya perlindungan masyarakat dari entitas keuangan ilegal juga terus diperketat secara nasional. Melalui Satgas PASTI, OJK telah memberantas lebih dari 13.000 entitas keuangan ilegal, yang terdiri dari lebih dari 11.000 pinjaman online ilegal dan 1.800 investasi bodong.
Untuk menghindari kerugian, para pelajar diimbau memegang teguh jurus “2L” OJK, yaitu Legal (memastikan lembaga keuangan memiliki izin resmi OJK) dan Logis (rasionalitas imbal hasil yang ditawarkan).
Aksi Nyata dan Optimalisasi Ekonomi Desa
Selain penguatan Program KEJAR, Puncak HIM 2026 di Rote Ndao dirangkaikan dengan penyerahan simbolis buku rekening SimPel, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha, serta optimalisasi Program One Village One Agent (OVOA).
Melalui OVOA, Agen Laku Pandai diperkuat di tingkat perdesaan untuk mendekatkan akses transaksi perbankan tanpa harus membangun kantor cabang fisik. Program ini diselaraskan dengan strategi pembangunan ekonomi Pemprov NTT melalui One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP).

















