Anda yang sedang berada dalam posisi Manajer Menengah (Middle Manager) seringkali mendapatkan julukan “hamburger manager”. Maksudnya, Anda dalam posisi dijepit oleh tekanan dari atasan dan sekaligus bawahan. Julukan ini mungkin awalnya hanya candaan saja, tetapi lambat laun menjadi beban psikologis.
Sejatinya, seperti dalam suatu tim sepakbola, pemain tengah (midfelder) memegang peran kunci dalam kemenganan satu tim. Merekalah yang menentukan kelancaran distribusi bola dari belakang ke depan hingga lahirlah sebuah gol.
Di dalam organisasi, middle manager juga berperan sangat penting bagi keberhasilan organisasi dalam jangka panjang. Strategi memang selalu ditentukan di tingkat atas, sementara di tingkat bawah merupakan target untuk mentransformasi strategi menjadi tindakan (actions). Untuk itu, middle manager lah yang berperan sangat vital dalam menerjemahkan strategi dengan cara yang menginspirasi, jelas, dan memotivasi mereka yang akan melakukan eksekusi strategi di tingkat bawah. Tanpa memiliki middle manager yang kuat, dapat dipastikan organisasi akan gagal.
Namun sayang sekali, beberapa organisasi tidak cukup mencurahkan energi, perhatian, bahkan anggaran yang cukup untuk membangun dan mengembangkan middle manager agar menjadi midfelder yang tangguh dan handal.
Seolah terdapat suatu mitos atau asumsi bahwa seseorang yang telah mencapai posisi tersebut telah memiliki segala bekal yang diperlukan untuk meraih sukses yang lebih besar. Fakta menunjukkan bahwa banyak asumsi tersebut merupakan mimpi di siang hari. Survei kami menunjukkan bahwa hanya terdapat 10 persen dari middle manager yang benar-benar siap menghadapi tantangan yang berada di depan mata.
Selama 1 tahun terakhir, alhamdulillah saya memiliki banyak kesempatan bertatap muka, berbincang dengan para profesional dan belajar banyak dari mereka. Para profesional itu berasal dari berbagai kalangan tetapi semua telah membuktikan diri sebagai middle manager yang sukses.
Banyak sekali pengalaman yang mereka ungkapkan. Saya mencoba merangkum semua dan merangkainya menjadi sepucuk surat yang saya tujukan untuk mereka para manajer menengah:
Wahai para middle manager yang baru, Anda memasuki suatu teritori di mana pekerjaan Anda akan sangat berbeda daripada sebelumnya –bahkan jauh berbeda dari yang Anda pernah perkirakan. Janganlah pernah menganggap remeh hal ini dengan berasumsi bahwa Anda sudah cukup hebat dengan semua ketrampilan yang Anda miliki selama ini. Percayalah !!! Kesuksesan Anda dalam meraih posisi saat ini sama sekali tidak akan membuat Anda menjadi sukses dalam menjalankan peran sebagai middle manager di masa mendatang.
Anda telah bekerja keras hingga mencapai posisi saat ini, Anda telah memiliki banyak bekal, namun sekarang Anda memerlukannya lebih banyak lagi. Tinggalkan ego dan kenali motif Anda. Bila motif Anda hanya merupakan ambisi pribadi, maka Anda akan menemui jalan yang sulit.
Carilah seorang mentor yang baik Dia tidak perlu satu kantor dengan Anda.
Bukalah jaringan di luar organisasi Anda agar Anda dapat saling belajar dan bertukar pikiran. Gambar besar di kepala Anda saat ini adalah strategi … inilah tujuan Anda. Hal ini berarti Anda harus mulai menggeser orientasi Anda dari project & task oriented menjadi lebih visioner. Mudah diucapkan, sulit dilaksanakan.
Anda harus mencari jalan yang bukan hanya mendukung keseimbangan antara strategi jangka panjang dan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga yang sesuai dengan gaya Anda. Untuk mencapainya, Anda perlu lebih disiplin dalam mengelola waktu.
Mungkin Anda perlu bantuan seorang asisten (baik berupa orang atau gadget) yang mengelola kalendar Anda, termasuk kapan Anda harus mencurahkan waktu tertentu kepada satu hal atau orang orang, bagaimana membuat perjalanan Anda lebih efsien di tengah kemacetan ibu kota yang semakin gila, atau bagaimana Anda melakukan delegasi beberapa tugas sehingga membuat Anda memiliki waktu lebih banyak untuk hal-hal yang lebih penting. Salah satu keberhasilan Anda dalam mengelola waktu tampak dari bagaimana Anda mencari solusi atas suatu masalah.
BERITA TERKAIT
Sebagai manager, Anda tidak harus memiliki semua jawaban atas berbagai persoalan. Anda bisa melibatkan orang lain (termasuk yang di luar tim Anda) untuk menjadi bagian dari jawaban sehingga waktu dan energi Anda tidak tersedot tanpa tahu kapan akan berakhir.
Pemimpin yang efektif bukan hanyamampu menggunakan kekuatan dirinya, tapi juga memahami kelemahan dirinya dan mengajak orang lain untuk menjaga agar kekuatan tersebut tidak menjadi hambatan. Anda tidak perlu menguasai semua hal bila Anda memiliki banyak expertise di berbagai bidang yang mampu mengisi kesenjangan yang terjadi.
Anda tidak perlu menjadi satusatunya orang yang terlibat dalam masalah strategi. Beri kesempatan kepada pemimpin di bawah Anda untuk ambil bagian dalam menjelaskan visi organisasi. Hal ini diperlukan untuk membangun kepercayaan dan mengembangkan para pemimpin di bawah Anda. Sebagai konsekuensinya, Anda akan mendapatkan dukungan (buyin) dan rasa memiliki (ownership) dari mereka.
Terakhir, Anda bukan hanya mengurusi pemimpin atau unit kerja di bawah Anda, tetapi sadarilah bahwa mengelola hubungan ke atas juga penting dan krusial. Kuncinya : pengaruhi atasan untuk kepentingan organisasi dan orang-orang yang Anda pimpin. Bila Anda menggunakan untuk kepentingan pribadi Anda agar cepat naik pangkat, maka Anda akan mengalami pendakian yang sangat panjang dan melelahkan. Enjoy the journey and challenge yourself.
















