Stabilitas.id — Neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatat surplus sebesar US$2,66 miliar, meningkat dibandingkan surplus Oktober 2025 yang sebesar US$2,39 miliar. Data tersebut dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Bank Indonesia (BI) menilai peningkatan surplus neraca perdagangan tersebut berdampak positif dalam menopang ketahanan eksternal perekonomian nasional. BI juga menegaskan akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga stabilitas eksternal serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Surplus neraca perdagangan yang meningkat ini merupakan faktor positif dalam memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (7/1/2026).
BERITA TERKAIT
Peningkatan surplus neraca perdagangan terutama bersumber dari menguatnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Pada November 2025, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar US$4,64 miliar, seiring dengan tetap kuatnya kinerja ekspor nonmigas yang mencapai US$21,64 miliar.
Kinerja ekspor nonmigas tersebut terutama didukung oleh komoditas berbasis sumber daya alam, antara lain logam mulia dan perhiasan atau permata, nikel dan produk turunannya, serta bahan bakar mineral. Dari sisi negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi kontributor utama ekspor Indonesia.
Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas tercatat meningkat menjadi US$1,98 miliar pada November 2025. Peningkatan defisit tersebut sejalan dengan meningkatnya impor migas di tengah penurunan ekspor migas. ***





.jpg)










