Stabilitas.id – BUMN Holding Industri Pertambangan, MIND ID, mempertegas komitmennya dalam mendukung perkembangan wilayah perkotaan di sekitar area operasional melalui integrasi pilar keberlanjutan (sustainability). Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar perseroan untuk mewujudkan aspirasi sebagai perusahaan kelas dunia yang memberikan dampak ekonomi inklusif.
Sekretaris Perusahaan MIND ID, Heri Yusuf, menyatakan bahwa kebermanfaatan bagi masyarakat lokal menjadi prioritas utama guna mendorong kemakmuran dan kemajuan wilayah secara jangka panjang.
Konservasi dan Dekarbonisasi Urban
BERITA TERKAIT
Di sektor lingkungan, anggota grup MIND ID, PT Timah Tbk (TINS), tengah mengembangkan Hutan Kota Muntok seluas 5,65 hektar sebagai kawasan konservasi keanekaragaman hayati. Melalui program The Urban Forest in Muntok (Test Imun), kawasan ini menjadi habitat bagi 25 jenis flora dan 21 jenis fauna, termasuk spesies kritis (Critically Endangered) seperti pohon Gaharu.
Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berfokus pada dekarbonisasi wilayah perkotaan melalui revitalisasi Taman Interaksi di Duren Sawit, Jakarta Timur. Proyek ini mengusung konsep organic edutourism dan urban farming yang sejalan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DKI Jakarta untuk penataan kawasan berbasis hijau.
Diversifikasi Ekonomi: Tanjung Enim Kota Wisata
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melakukan manuver strategis dengan mencanangkan program “Tanjung Enim Kota Wisata” sejak 2016. Tujuannya adalah mentransformasi kawasan tambang batu bara menjadi destinasi wisata mandiri.
Infrastruktur pendukung seperti Museum Batu Bara, Pusat Kuliner, hingga Mini Zoo telah dibangun. PTBA juga menyasar pemanfaatan lahan bekas tambang untuk botanical garden dan ekowisata guna memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal saat cadangan mineral telah habis.
Kuala Tanjung dan Kuala Kencana: Benchmark Kota Modern
Di Sumatera Utara, PT Inalum (Persero) mendorong kawasan Kuala Tanjung menjadi hub industri dan pelabuhan terbesar di Sumatera melalui peningkatan kapasitas produksi aluminium hingga 500 ribu ton per tahun. Ekspansi ini diproyeksikan mengurangi ketergantungan logistik pada Pelabuhan Tanjung Priok.
Di sisi lain, PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menghadirkan Kuala Kencana di Papua sebagai pionir kota modern berwawasan lingkungan. Kota ini menerapkan sistem kabel bawah tanah dan manajemen limbah canggih yang menjadi benchmark bagi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Baru-baru ini, PTFI bersama Pemkab Mimika meresmikan instalasi pengolahan air (Water Treatment Plant) senilai US$10 juta (sekitar Rp150 miliar) untuk menyediakan akses air bersih bagi warga Timika. Kuala Kencana diprediksi akan menjadi aset perkotaan strategis yang diserahkan kepada pemerintah Indonesia pada masa pascatambang. ***

















