Stabilitas.id – Di tengah gempuran modernitas kuliner, Ayam Panggang Bu Setu di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tetap kokoh berdiri sebagai destinasi legendaris. Rahasianya bukan sekadar bumbu rujak yang meresap, melainkan konsistensi menjaga tradisi kayu bakar selama lebih dari tiga dekade, didukung oleh kemitraan strategis bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).
Subiyanto, pengelola generasi kedua, mengisahkan bahwa usaha yang dirintis orang tuanya sejak 1990-an ini bermula dari jualan keliling. Kini, usaha tersebut telah bertransformasi menjadi restoran ikonik yang menjadi jujugan wajib pemudik setiap musim Lebaran.
“Kami tetap menggunakan kayu bakar keras seperti mahoni atau jati. Meskipun zaman sudah modern, kami tidak beralih ke kompor gas agar kematangan ayam sempurna dan ciri khas aroma asapnya tetap terjaga,” ujar Subiyanto, Kamis (26/3/2026).
BERITA TERKAIT
Kemitraan 35 Tahun
Perjalanan Ayam Panggang Bu Setu menjadi bukti nyata efektivitas pemberdayaan perbankan terhadap sektor mikro. Subiyanto mengenang ayahnya mulai bermitra dengan BRI pada 1992 dengan modal awal hanya Rp250.000.
Sokongan modal tersebut mengubah struktur bisnis keluarga ini. Sebelum mengenal bank, mereka harus berutang ke tengkulak dengan harga bahan baku yang jauh lebih mahal.
“Setelah ada pinjaman dari BRI, kami bisa beli ayam secara cash. Dampaknya, harga jual ke konsumen pun menjadi lebih terjangkau dan usaha bisa berkembang lebih cepat hingga membangun fasilitas restoran yang nyaman,” jelasnya.
Digitalisasi dan Dukungan Sektor Produktif
Tak hanya permodalan fisik, Ayam Panggang Bu Setu kini mulai mengadopsi layanan digital BRI untuk efisiensi operasional. Langkah ini sejalan dengan komitmen emiten bersandi saham BBRI tersebut dalam mendorong digitalisasi UMKM di seluruh pelosok negeri.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa kisah Ayam Panggang Bu Setu adalah representasi keberhasilan penyaluran kredit ke sektor produktif. Hingga Desember 2025, BRI tercatat telah menyalurkan KUR sebesar Rp178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur.
“Porsi penyaluran ke sektor produksi mencapai 64,49% dari total penyaluran. Kami terus berkomitmen mendukung sektor produktif agar ekonomi masyarakat bawah terus bergerak,” tegas Dhanny.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketahanan usaha mikro seperti Ayam Panggang Bu Setu menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi daerah. Dengan perpaduan cita rasa tradisional dan dukungan finansial modern, kuliner Magetan ini siap menyambut lonjakan pengunjung pada musim mudik 2026. ***
















