• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Ekonomi

Kalah dari Thailand, Malaysia dan Vietnam, Kemendag Dorong Peningkatan Kinerja Logistik

Kendati ada sejumlah perbaikan di dua tahun berikutnya, dan mengerek peringkat kinerja logistik Indonesia ke posisi 46 di 2018, posisi tersebut masih di bawah Thailand (32), Malaysia (41) dan Vietnam (39).

by Stella Gracia
11 November 2021 - 19:55
41
VIEWS
Kalah dari Thailand, Malaysia dan Vietnam, Kemendag Dorong Peningkatan Kinerja Logistik
0
SHARES
41
VIEWS

JAKARTA, Stabilitas.id – Indonesia berpotensi menghadapi gejolak harga pada beberapa wilayah karena merupakan negara kepulauan. Salah satu indikator adalah peran sektor distribusi yang belum maksimal dalam membangun rantai pasok.

Oke Nurman, Dirjen Perdaganan Dalam Negeri Kementrian Perdagangan mengatakan, rantai pasok sangat berperan penting dalam dalam memenuhi ketersediaan barang dan stabilisasi harga pada berbagai wilayah.

  • Baca juga: Bukan Menyerahkan Kendali ke Mesin, LPPI Dorong Bankir Berkolaborasi dengan AI

Dia mengutip Survei Logistics Performance Index (LPI) World Bank menyebutkan di tahun 2014 posisi Indonesia terkait kinerja logistik berada di peringkat 57 dari 155 negara. Dua tahun kemudian, di 2016 posisi Indonesia malah mengalami penurunan kinerja sehingga posisi peringkat logistik melorot ke 63.

BERITA TERKAIT

Bukan Menyerahkan Kendali ke Mesin, LPPI Dorong Bankir Berkolaborasi dengan AI

Kredit Usaha Kecil Masih Kontraksi, OJK Minta Bank Maksimalkan Pendekatan Rantai Pasok

Jaga Inflasi Pangan, Kemendag Pastikan Stok Bapok Aman Hingga Lebaran 2026

Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Rantai Pasok, Menko Airlangga Teken Dua Memorandum Strategis bersama Menteri Perdagangan RRT

Kendati ada sejumlah perbaikan di dua tahun berikutnya, dan mengerek peringkat kinerja logistik Indonesia ke posisi 46 di 2018, posisi tersebut masih di bawah Thailand (32), Malaysia (41) dan Vietnam (39).

“Jadi walau ada perbaikan peringkat secara global meningkat, di kawasan Asean Indonesia malam turun dari peringkat 4 ke 5,” ungkap Oke Nurman dalam Virtual Seminar yang digelar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dengan Tema ‘Membangun Rantai Pasok dan Operasional yang Efektif dan Efisien, Kamis (11/11/2021).

Oke menyebutkan, ada beberapa komponen biaya logistik yang terus memicu beban biaya tinggi. Pada industri manufaktur masih didominasi biaya transportasi, diikuti biaya gudang, juga harga sewa kontainer yang terus membengkak akibat pandemi, serta frekuensi pelayaran nasional yang menurun berdampak pada sewa kontainer.

“Untuk mengatasi masalah tersebu perlu strategi efisiensi atas biaya logistik yang memang perlu diperhatkan. Antara lain tata kelola pelabuhan, infrastruktur, tracing, integrated logistic services yang saat ini memang sedang dibangun pemerintah,” ungkap Oke.

Kemendag melalui Direktorat Perdagangan Dalam Negeri dalam membangun rantai pasok, akan membentuk jaringan logistik nasional antara lain dengan menyiapkan atau revitalisasi beberapa sarana perdagangan.

Sementara itu, kebijakan perdagangan antar pulau juga menjadi hal yang patut diperhatikan karena ada 17.500 pulau. “Konektivitas adalah tantangan dalam rantai distribusi barang pokok dan barang lainnya terutama dari daerah 3T (terpencil, terluar, dan perbatasan),” katanya.

Sesuai amanat Perpres No 26 tahun 2012 tentang Blueprint Sistem Logistik Nasional, dalam rangka menyiapkan pusat distribusi di regional maupun propinsi, Kemendang telah membangun 5.480 pasar sebagai rantai akhir di sektor hilir.

Selain Perpres No 26 tahun 2012, penguatan logistik nasional juga ada UU No 7 tahun 2014 tentang Perdagangan, juga Instruksi Presiden No 5 Tahun 2020 tebtabg Penataan Ekosistem Sislognas, yang turunan dijabrkan dalam bentuk Permendag No 17 Tahun 2021 tentang Eksportir dan Importir yang Bereputasi Baik, dan Permendag No 92 Tahun 2020 tentang Perdagangan Antar Pulau.

  • Baca juga: Kredit Usaha Kecil Masih Kontraksi, OJK Minta Bank Maksimalkan Pendekatan Rantai Pasok

“Prosses bisnisnya sebagaimana dimaksud dalam UU No 92 ini melalui INSW, di mana ketentuan kewajiban pelaporan manifesto domestik mulai diberlakukan besok 12 Nov 2021. Tentu semuanya masih kita inventariskan berbasis dari pengalaman sebelumnya,” papar Oke.

Oke menambahkan, akan ada beberapa hambatan dan kendala terutama dalam penerapan sistem logistik nasional ini. Salah satu yang menjadi perhatian pemerintah adalah disiplin pelaku logistik .

“Di tingkat kepatuhan pelaku usaha, dalam menyampaikan daftar muatan saat melakukan kegiatan perdagangan antar pulau masih sangat kecil dan rendah. Sampai saat ini baru 80 dari 166 pelaku usaha yang terdaftar yang sudah terintegrasi ke INSW yang patuh ikuti aturan,” sebutnya.

Sementara itu, Sislognas juga berkaitan dengan pelaku distribusinya. “Jadi ada daftar muatan yang masuk ke INSW ini belum ternyata belum dijadikan referensi bagi penerbitan shipping instruction,” imbuhnya.

Kurangi Ketimpangan

Mustofa Kamal, General Manager Operational PT Bimaruma Jaya – Member Korindo Group, di kesempatan Virsem LPPI itu mengatakan, PDB Indonesia masih didominasi wilayah Jawa (58.75 persen) dan Sumatera (21.36 persen) menjadi cerminan bahwa ada ketimpangan yang salah satunya dipicu oleh faktor suplay chain secara nasional.

Ada tiga faktor pemicu. Pertama dan yang signifikan adalah infrastruktur. “Ini bukan hanya jalan yang dibangun pemerintah tetapi juga pelabuhan, baik secara fisik maupun system,” katanya.

Kedua adalah regulasi, sebagai faktor yang pengaruhi percepatan rantai pasok nasional. Lalu terakhir adalah birokrasi. “Saat ini pemerintah berupaya memangkas birokrasi yang sebelumnya terjadi agar bisa merasakan pemerataan baik dari sisi produk maupun jasa yang berdampak secara nasional,”imbuh Mustofa.

Dia menjelaskan, pemerataan dimaksud adalah komoditas. Sebab, komoditas dari masing-masing daerah yang menghasilkan produk tertentu tidak sama dengan yang lainnya. Dia mencontohkan, di Brebes Jawa Tengah, suplay bawang berlimpah, tetapi di daerah lain sangat sulit dapatkan jenis produk tertentu. “Ini yang tidak membuat rantai pasok skala nasional kita berjalan dengan baik,” katanya.

Di sisi lain, delivery cost di Indonesia sangat unik dan sekaligus membuat shock. “Shipping cost antara Jakarta dan China, 400 dolar. Sedangkan kita mengiirim dari Tanjung Priok ke Padang kurang lebih 600 dolar, ke Banjarmasin 650 dlar, dan lebih mahal lagi biaya yang kita keluaran kalau produk kita kirim ke Jayapura, bisa 1000 dolar. Miris sekali dengan kondisi sekarang,” imbuhnya.

  • Baca juga: Jaga Inflasi Pangan, Kemendag Pastikan Stok Bapok Aman Hingga Lebaran 2026

Menurutnya, hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak untuk bisa melihat apa saja yang bisa dilakukan untuk minimalisir biaya delivery tersebut. Sebab ada sejumlah tantangan dalam rantai pasok yang harus dihadapi bersama.

“Pastinya belum terintegrasi Sislognas, lalu tidak seimbangan basis industri antara Jawa dan luar Jawa. Kemudian rantai distribusi yang panjang sehingga menimbulkan ekonoi biaya tinggi. Sementara pemahaman akan manajemen rantai pasok masih sangat minim, diperberat dengan tidak meratanya pembangunan infrastruktur nasional,” pungkas Mustofa.***

Tags: #KemendagKinerja LogistikOke NurmanRantai PasokVirsem LPPI
 
 
 
 
 
Previous Post

Strategi Rantai Pasok Energi, Elnusa Ungkap Elemen Penting dalam Bisnis Proses Perseroan

Next Post

Wimboh Ingatkan Masyarakat Berhati-hati dalam Memanfaatkan Fasilitas Pinjol

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:51

Bank Indonesia mencatat ULN Indonesia Agustus 2026 tetap sehat sebesar US$459,3 miliar (tumbuh 5,6% yoy) dengan rasio PDB 30,9% didominasi...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:00

Indonesia peringkat 1 dunia sektor modest fashion SGIE 2025/2026. Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman buka IN2MOTIONFEST x JMFW...

Porsi Kredit UMKM BRI Capai 83,86%, Bukti Komitmen BRI pada Pemberdayaan Usaha Mikro

Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 08:18

Riset Paramadina memproyeksikan kewajiban sertifikasi halal serentak berisiko membebani 8 juta UMKM pangan dan menekan daya beli rumah tangga. Stabilitas.id...

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

by Stella Gracia
13 Oktober 2026 - 13:23

Kementerian Pariwisata meluncurkan rute wisata Camino de Flores. Program ini bertujuan meratakan distribusi wisatawan dan memulihkan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara...

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

by Stella Gracia
12 Oktober 2026 - 12:21

Survei Konsumen BI September 2026 mencatat IKK tetap optimis di level 118,1 di tengah kenaikan rasio belanja konsumsi masyarakat menjadi...

Kikis Inefisiensi, Kemenkeu Selamatkan Anggaran Rp170 Triliun Tanpa Ganggu Birokrasi

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Menkeu Pastikan Postur Fiskal Tetap Kredibel

by Stella Gracia
9 Oktober 2026 - 14:13

APBN membukukan defisit Rp319 triliun atau 1,24 persen PDB per September 2026, Menkeu Suahasil Nazara pastikan disiplin fiskal terjaga. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Kemenkeu, Bank Sentral dan OJK Optimalkan Kebijakan Stimulus

Wimboh Ingatkan Masyarakat Berhati-hati dalam Memanfaatkan Fasilitas Pinjol

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance