IHSG rawan menguji level 6.208 di tengah net sell asing dan lonjakan minyak dunia. Simak proyeksi pasar, kurs Rupiah, dan saham pilihan 25 September 2026.
Stabilitas.id – Pasar modal Indonesia menghadapi volatilitas tinggi menjelang pembukaan perdagangan akhir pekan, Jumat (25/9/2026). Tekanan jual investor asing senilai triliunan rupiah dan pelemahan nilai tukar rupiah membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah terperosok ke bawah level psikologis 6.300. Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) serta tingginya harga minyak mentah dunia menjadi katalis eksternal utama yang memicu peralihan modal dari pasar negara berkembang (emerging markets).
Pada perdagangan Kamis (24/9/2026), IHSG ditutup anjlok 76,31 poin (-1,20%) ke level 6.298,61. Seluruh 11 sektor IDX-IC berada di zona merah dengan koreksi terdalam dipimpin sektor barang baku (-2,17%) dan industri (-2,09%). Investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp1,49 triliun di seluruh pasar, dengan penjualan di pasar reguler sebesar Rp1,42 triliun.
Mengacu pada analisis teknikal, tren IHSG masih berada dalam fase konsolidasi melemah. Indeks berpotensi menguji area support 6.208–6.258 dengan level resistance terdekat di 6.322–6.344.
BERITA TERKAIT
Tekanan dipicu oleh penguatan yield US Treasury tenor menengah-panjang yang meningkatkan beban pembiayaan global, serta penurunan mayoritas bursa kawasan Asia.
Saham komoditas dan industri tertentu memperlihatkan ketahanan teknikal untuk strategi trading swing jangka pendek dengan disiplin stop loss, antara lain PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Nilai Tukar Rupiah (USD/IDR)
Mengutip data pasar uang di Investing.com, nilai tukar rupiah spot tertekan 0,62% ke kisaran Rp17.905 per dolar AS pada penutupan kemarin. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (BI JISDOR) berada di level Rp17.898 per dolar AS.
Penguatan Indeks Dolar AS (DXY) dan lonjakan yield US Treasury mendorong pengalihan aset ke instrumen berdenominasi dolar. Kenaikan harga energi impor juga membayangi neraca transaksi berjalan domestik.
Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif cenderung tertahan di rentang Rp17.850–Rp17.980 per dolar AS, dengan Bank Indonesia diperkirakan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas moneter.
Komoditas (Emas & Minyak)
Mengutip data hargaemas.org, harga spot emas global berada di kisaran US$4.269 per troy ons, terkoreksi wajar akibat tekanan penguatan dolar dan imbal hasil obligasi AS. Pelemahan emas dunia ini mendorong harga emas batangan Antam turun Rp25.000 ke level Rp2.605.000 per gram menurut Raja Emas.
Semenara minyak mentah Brent bertengger di US$105,06 per barel (Forbes), sementara minyak mentah WTI berada di level US$94,02 per barel beradsarkan data Trading Economics. Ketatnya pasokan dan risiko geopolitik global terus menopang harga minyak di level tinggi.
Insight Analis
Berdasarkan riset MNCS Daily Scope Wave, posisi IHSG sedang menguji rentang 6.208–6.258 dengan potensi rebound teknikal menuju resisten 6.322–6.344. Rekomendasi saham harian mencakup akumulasi terbatas pada INCO (batas stop loss 4.600) dan TAPG (batas stop loss 1.945).
Phintraco Sekuritas dalam riset pasar yang dipublikasikan, IHSG diperkirakan masih berpeluang menguji level 6.186–6.200 seiring posisi indikator Stochastic RSI yang telah mendekati area oversold dan tekanan eksternal dari pasar obligasi global. ***

















